Husairi Abdi

Hati-Hati Kalu Dipatuk Kuduk

0

Oleh : Noorhalis Majid

HATI-HATI terhadap bahaya yang mengancam, jangan sampai lengah. Walau potensinya kecil, harus tetap waspada, karena ancaman bahaya kecil yang dianggap remeh, bisa saja justru berakibat fatal, itulah makna hati-hati kalu dipatuk kuduk.

HATI-HATI kalau digigit kodok, begitu arti harfiahnya. Apa bahayanya digigit kodok, tentu tidak membahayakan. Bukan bermaksud takabur โ€“ menganggap remeh, rasanya belum pernah terdengar ada orang meninggal disebabkan digigit kodok. Kalau digigit ular, buaya, macan, harimau, beruang, tentu sangat banyak.

Bahkan kodok mungkin juga tidak menggigit manusia, kalau pun menggigit tidak sakit, karena ia tidak punya gigi, apalagi taring. Kodok kalau makan langsung ditelan. Yang dinamakan gigi pada kodok, hanya digunakan untuk mencengkram, bukan mengunyah.

BACA : Peribahasa Banjar untuk Kritik Pembangunan di Kalsel

Digigit kodok yang tidak berbahaya itu, dipinjam sebagai perumpamaan tentang perlunya waspada pada soal-soal kecil sekalipun. Sering kita mendengar, orang jatuh bukan karena tersandung batu besar, justru karena batu kecil-kerikil.

Sebagaimana monyet, tidak jatuh dari pohon karena angin puting beliung, tapi angin sepoy-sepoy yang dianggap tidak berbahaya. Waspada pada hal-hal yang dianggap tidak membahayakan, dapat terhindar dari bahaya-bahaya besar yang berisiko tinggi. Artinya, tidak pernah menganggap remeh atas apapun.

BACA JUGA : Bakawan Pandai Tapalit Harang, Bakawan Maling Tamakan Cuntanan

Jangankan bahaya besar penuh resiko, yang dianggap tidak berbahaya juga tetap diperhatikan. Bahasa sekarang, mungkin itu yang disebut perfeksionis, yaitu satu sifat yang sangat hati-hati, memiliki standar tinggi untuk tidak salah, karena mengejar kesempurnaan.

Sering kali, jangankan pada soal-soal kecil, hal-hal besar saja suka lengah โ€“ ceroboh. Tidak pernah mempersiap diri, padahal sangat mengerti bahwa siapa yang tampil tanpa persiapan maksimal, kemungkinan turun panggung tanpa penghargaan.

BACA JUGA : Teranyar โ€˜Dijamak Jibrilโ€™, Dokumentasikan Paribasa Banjar Berisi Nasihat dalam Tiga Buku

Akhirnya yang terjadi sangat jauh dari kesempurnaan. Standar kerja rendah, tidak mau mewujudkan hasil ideal sebagaimana mestinya. Ungkapan ini memberikan pelajaran, berhati-hatilah pada semua hal yang dapat menimbulkan kegagalan. Termasuk pada hal-hal kecil yang menurut pengetahuan umum tidak membahayakan.

Karena, kalau lengah-bisa saja hal yang dianggap kecil tersebut menjadi batu sandungan. Belajarlah cermat, teliti-waspada atas apapun, termasuk hati-hati kalu dipatuk kuduk.(jejakrekam)

Penulis adalah Pemerhati Budaya dan Bahasa Banjar

Staf Senior Lembaga Kajian Keislaman dan Kemasyarakatan (LK3) Banjarmasin

Editor Ahmad Riyadi

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.