Bukan Venesia dari Timur, Ini Analisis Ahli Konstruksi Soal Normalisasi Sungai Veteran!

0

BUKAN Venesia dari Timur, namun hanya proyek normalisasi berikut penataan bantaran Sungai Veteran bersama sungai-sungai lainnya di Banjarmasin dalam skema rencana jangka pendek, menengah dan panjang bernilai Rp 1 triliun.

DANA bersumber dari utang luar negeri dari World Bank (Bank Dunia) bertajuk proyek National Urban Flood Resilience Project (NUFReP), kerjasama Direktorat Jenderal Sumber Daya Air – Kementerian PUPR dan pendampingan Direktorat Jenderal Bina Pembangunan Daerah – Kementerian Dalam Negeri.

Untuk Kalsel, khususnya Banjarmasin digelontorkan Rp 1 triliun dibagi dalam 10 program. Rinciannya normalisasi dan penataan Sungai Veteran sepanjang 3,5 kilometer, Sungai Sutoyo S (Teluk Dalam) sepanjang 3,5 kilometer, Sungai A Yani dan Sungai Guring masuk wilayah Sungai Pekapuran dengan panjang 3,2 kilometer dan 3,8 kilometer Sungai Guring. Hingga, pembangunan Bendungan Riam Kiwa menampung 80 juta meter kubik (m3) dalam skema jangka pendek.

BACA : Berbiaya Rp 1 Triliun, BWS Kalimantan III Golkan Proyek Tangkal Banjir Banjarmasin, Ini Daftarnya!

Sedangkan yang masuk jangka menengah ada 7 wilayah penanganan genangan (WPG); Sungai Handil Halinau, Sungai Basirih, Sungai Kelayan Kecil, Sungai Simpang Layang, Banyiur, Sungai Kuin dan Sungai Andai. Termasuk, normalisasi sungai dan penataan kawasan Sungai Jafri Zamzam yang terkoneksi ke Sungai Sutoyo S (Teluk Dalam).

Berikutnya, ada empat program jangka panjang digarap BWS Kalimantan III mencakup pembangunan siring di Sungai Martapura sepanjang 5,1 kilometer, normalisasi Sungai Tatah Belayung, sudetan Sungai Martapura sepanjang 26 kilometer dan lebar 20 meter melalui Sungai Tabuk hingga pertemuan Sungai Barito di Desa Aluh-Aluh dan pembangunan floodway (sungai rintisan) dengan long strotage 1,5 juta m3. Proyek ini digarap selama lima tahun sejak 2023-2027.

BACA JUGA : Rencana Penanganan Banjir Difokuskan di Sungai Veteran

Ahli konstruksi dan arsitek senior Subhan Syarief mengatakan ketika hendak menormalisasi Sungai Veteran, lebarnya akan dipukul rata hanya 7 meter.

“Sebab, ada konsep jalan kembar di tepi sungai. Jadi, badan sungai akan dipakai pembuatan jalan kembar dibelah Sungai Veteran. Dihitung, daya tampung Sungai Veteran itu hanya 86.000 m3. Ini jelas kontraproduktif,” kata Subhan Syarief kepada jejakrekam.com, Selasa (9/3/2022).

Padahal, menurut dia, awalnya proyek normalisasi Sungai Veteran untuk penangkal banjir Banajrmasin, sehingga dengan daya tampung dan lebar sungai berkurang, sepatutnya harus dimaksimalkan.

“Ya, minimal daya tampung Sungai Veteran saat ada limpahan air 150.000 m3. Maka, lebar Sungai Veteran sepatutnya 8 meter hingga 20 meter, dengan kedalaman 2-4 meter,” kalkulasi Subhan.

BACA JUGA : Diawali Sungai Veteran, Ada Konsep Kepala Naga di Tempekong dan Ekor di Sungai Lulut

Daftar proyek lima tahun bernilai Rp 1 triliun dari pemerintah pusat untuk Banjarmasin, Kalsel. (Foto Istimewa)

Magister teknik ITS Surabaya ini mengatakan ada catatan penting dalam menformat kawasan dengan falsafah utama yang harus disepakati. Apakah ingin mendahulukan jalan untuk kendaraan atau penanganan banjir.

“Sepatutnya Sungai Veteran itu didesain untuk area tampungan air saja. Artinya, konsep peruntukkan jalan sebaiknya dengan model jalan melayang di atas sungai atau sistem flyover,” saran Subhan.

BACA JUGA : Digagas Proyek Jalan Layang di Kawasan Veteran, Bagaimana Nasib Rancangan China Town?

Arsitek lulusan ITN Malang ini mengatakan justru yang mengemuka penataan Banajrmasin tak lagi berbasis sungai, khususnya untuk mengatasi masalah banjir atau limpahan air akibat hujan atau permukaan air sungai naik.

“Akibatnya, limpahan dari hulu maupun dari hilir tidak teratasi. Hasilnya, banjir akan tetap menjadi agenda rutin yang mendera Banjarmasin,” papar Subhan.

Ada dua pendekatan ditawarkan Subhan. Yakni skala makro dalam mengatasi banjir dan skala mikro berkelindan dengan pengaturan zonasi. Doktor hukum konstruksi jebolan Unissula Semarang ini menguraikan pendekatan skala makro adalah menghadapi fenomena dampak naiknya permukaan air Laut Jawa yang berimbas kepada Sungai Barito dan Sungai Martapura.

BACA JUGA : Didampingi TP4D, Benarkah LanjutanTebing Sungai Veteran Masuk Proyek Strategis Nasional?

“Diperkirakan pada 2030, sebagian kawasan bantaran sungai di Banjarmasin akan tergenang. Dari hasil pengamatan pada 2050, dihitung air laut pasang akan naik mencapai satu meter,” beber Subhan.

Pakar konstruksi Banua, Subhan Syarief. (Foto Dokumentasi JR)

Ini artinya, papar dia, daratan Banjarmasin akan berada hampir 1,50 meter di bawah permukaan air laut, sehingga dampaknya banyak area bakal terendam.

“Ini belum lagi menyangkut lebar dan kedalaman sungai atau kanal maupun sodetan akibat adanya endapan, sedimentasi dan lainnya. Makanya, lebih bagus didahulukan ada membangun pintu air dan menerapkan sistem pompanisasi di tiap ujung,” papar mantan Ketua Lembaga Pengembangan Jasa Konstruksi (LPJK) Provinsi Kalsel ini.

BACA JUGA : Sudah Lewat Tenggat, Satgas Normalisasi Sungai Banjarmasin Belum Bongkar Bangunan Pemicu Banjir

Kemudian, beber Subhan, kondisi area resapan dan permukiman yang sudah membentuk bendung-bendung kecil akibat kegiatan urukan atau peninggian jalan. Dalam skala mikro, Subhan menyarankan agar diatur soal zonasi penampungan atau resapan air dan sistem drainase diatur berdasar blok zonasi, yang kemudian disalurkan dengan sistem pompanisasi.

“Model sistem drainase harus diubah, tak bisa lagi menerapkan model sekarang karena tidak tepat lagi dengan kondisi kekinian Banjarmasin. Mengapa perlu kajian menggunakan sistem baru yang cocok dan beradaptasi dengan kondisi terkini Banjarmasin,” papar Subhan.

Terakhir, mantan Ketua DPP Intakindo dan Inkindo Kalsel ini menyarankan agar Banjarmasin segera menerapkan sistem kanalisasi, pintu air dan pompanisasi. Sebab, esensi proyek bernilai Rp 1 triliun adalah program penangkal banjir bagi Banjarmasin.(jejakrekam)

.

Penulis Asyikin/Didi GS
Editor Didi G Sanusi

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.