Husairi Abdi

Dari Catatan Sejarah; Pemukim Bakumpai Pionir Pembukaan Wilayah Aluh-Aluh dan Podok (1)

0

Oleh : Mansyur ‘Sammy’

KECAMATAN Aluh-Aluh secara administratif berada di wilayah Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan. Kecamatan ini terdiri dari 19 desa; Aluh-Aluh Besar, Aluh-Aluh Kecil, Aluh-Aluh Kecil Muara, Bakambat, Balimau, Bunipah, Handil Baru, Handil Bujur, Kuin Besar, Kuin Kecil, Labat Muara, Pemurus, Podok, Pulantan, Simpang Warga, Simpang Warga Dalam, Sungai Musang, Tanipah serta Terapu.

DARI sumber lisan yang beredar di masyarakat Kabupaten Banjar khususnya, terdapat interpretasi bahwa asal mula nama Aluh-Aluh. Aluh-Aluh dipersepsikan berasal dari nama aluh yakni nama gelaran bagi perempuan Banjar. Menurut catatan Sutamin Hamzah (2015) bahwa terdapat versi dari masyarakat bahwa asal mula nama kecamatan Aluh-Aluh, pernah ada pahlawan wanita di sebut Aluh.

Memang tidak ada catatan resmi yang mencatat hal tersebut. Tetapi Informasi mengenai asal-usul AluhAluh ini dapat ditelusuri cerita lisan generasi tua. Astutik S, dkk dalam Perempuan Banjar Dalam Dekapan Penyakit Kelalah: Etnik Banjar (2016) menuturkan keberadaan nama wilayah Aluh Aluh menurut tokoh masyarakat di Desa Podok, Kecamatan Aluh Aluh, H. Nanang, Menurut dia, nama Aluh-Aluh berasal dari kata lebu kuning atau labu kuning – yang dalam bahasa lokal disebut juga sebagai waluh.

Jadi asal-usul Aluh Aluh awalnya adalah kampung waluh, karena banyak tanaman waluh di daerah tersebut. Penyebutan Kampung Waluh kemudian berkembang menjadi Kampung Aluh-Aluh. Terdapat versi lain berhubungan asal-usul penamaan Aluh-Aluh, menurut tokoh masyarakat H. Miftah kata Aluh-Aluh itu berasal dari nama ikan yang besar yang bernama Haluh-Haluh.

BACA : Kisah Korupsi Penarik Pajak di Era Kesultanan Banjar

Keberadaan penduduk di wilayah Aluh Aluh tidak terlepas dari area sekitarnya yakni Desa Podok. Desa ini sekarang termasuk wilayah Kecamatan Aluh Aluh. Pasalnya, penghuni awal mula Aluh-Aluh yang awalnya hanya menjadi sebuah kampung adalah orang yang berasal Podok.

Peta kawasan Aluh-Aluh di tepian Sungai Barito pada 1893. (Foto Koleksi KITLV Leiden)

Sementara asal usul orang Podok sendiri berdasarkan versi cerita lisan di masyarakat adalah orang bahari (terdapat interpretasi orang bahari dimaknai sebagai suku Dayak pantai/pesisir). Versi lainnya urang Bakumpai dari Banjarmasin bagian Utara.

Orang Bakumpai lah yang membuka wilayah Podok dan Aluh-Aluh. Menurut keterangan Diham, pananambaan di Desa Podok, bahwa asal-usul orang Podok adalah orang bahari atau Dayak Pantai, yaitu Dayak yang masuk Islam. Dari penduduk yang tinggal di Podok adalah orang bahari Bakumpai atau Dayak Muslim, yang terucap adalah Aluh-Aluh. Jadi, orang Bakumpai atau orang bahari adalah penduduk Podok, yang sebagian kecil juga menghuni Aluh-Aluh. Aluh-Aluh saat itu masih sunyi dan belum ada penghuni.

BACA JUGA : Bubuhan di Era Kesultanan Banjar, Diberi Gelar Pembekal, Kiai hingga Andin (2-Habis)

Sementara penamaan wilayah Kampung Podok, berasal dari deretan atap atap pondok (rumah) yang berjejer di sepanjang sungai. Desa Podok saat ini terbagi dalam tiga dusun, yaitu Podok Darat, Podok Tengah, dan Sakajarak Sakamangkok. Desa yang berbatasan langsung dengan desa Podok adalah Desa Terapu. Menurut sesepuh Desa Podok, H. Rahman atau dikenal sebagai Kai (kakek) Rahman, bahwa di Podok ini asalnya hanyalah tujuh rumah yang akhirnya berkembang menjadi satu desa.

Kapal uap berbahan batubara milik Belanda saat melintas di perairan Sungai Barito, termasuk ke Aluh-Aluh. (Foto KITLV Leiden)

Tujuan awal tujuh keluarga ini ke daerah Podok adalah untuk mencari daun nipah yang dianyam sebagai atap rumah. Lama-kelamaan karena banyak lahan nipah ditebang, maka lahan pertanian terbuka. Keberadaan lahan pertanian ini menjadikan tujuh rumah tangga ini memutuskan tinggal di Podok.

BACA JUGA : Sistem Pemerintahan Desa di Kalsel, Sejak Era Kesultanan Banjar hingga Kolonial Belanda (2-Habis)

Tujuh rumah awal ini terletak di tepian sungai di dusun Podok Tengah. Sehingga asal masyarakat Podok saat ini adalah dari dusun Podok Tengah. Sementara masyarakat di dusun yang lain yaitu Podok Darat adalah perluasan dari Podok Tengah. Kemudian penduduk Dusun Sakajarak serta Sakamangkok merupakan masyarakat pendatang yang umumnya beretnis Bugis.

Aktivitas warga Banjar dengan mengayuh sampan atau jukung diduga di perairan Sungai Barito dekat Aluh-Aluh. (Foto KITLV Leiden)

Lebih lanjut, menurut H. Miftah, asal penamaan Podok ada 2 (dua) versi, yaitu masyarakat awal Podok pernah melihat makhluk yang tidak kasat mata yang terlihat seperti orang yang duduk. Penglihatan masyarakat atas makhluk tidak kasat mata yang duduk ini sering terjadi. Kata “puduk” bermakna orang yang sedang duduk.

BACA JUGA : Khatib Dayan, Penghulu Kesultanan Banjar Pertama yang Diyakini Keturunan Sunan Gunung Jati

Berikutnya, atap dari daun nipah yang dianyam dan ditumpuk. Kata “tumpukan” dalam bahasa Bakumpai disebut dengan “Podok”. Dari dua versi asal penamaan desa, kebanyakan masyarakat lebih mengenal nama Podok dari tumpukan atap daun nipah yang dalam Bahasa Bakumpai disebut dengan “Podok”.

Dari keterangan masyarakat tentunya belum bisa menjawab, mengapa ada migrasi penduduk “orang bahari” atau Dayak pantai, yaitu Dayak yang masuk Islam atau Dayak Muslim di daerah Aluh Aluh dan Podok.

Diperkirakan tidak terlepas dari kondisi politik Kesultanan Banjar era itu yang rawan sekali terjadi intrik kekuasaan di dalam istana yang berdampak hingga ke masyarakat di luar Istana Sultan Banjar di Kuin.(jejakrekam/bersambung)

Penulis adalah Ketua Lembaga Kajian Sejarah, Sosial dan Budaya (LKS2B) Kalimantan

Dosen Pendidikan Sejarah FKIP Universitas Lambung Mangkurat

Editor Didi G Sanusi

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.