Husairi Abdi

Solidaritas yang Salah Alamat

0

Oleh: Rahmad Hidayat

SEBENARNYA saya enggan memberikan komentar apapun terkait viralnya ucapan Edy Mulyadi yang secara substansi adalah memberikan penolakan terhadap rencana pemindahan ibu kota negara dari Jakarta ke Kalimantan. Penolakan Edy Mulyadi Cs ini disusun dengan basis argumen yang menurut saya lemah secara filosofis.

SELAIN lemah, penolakan ini juga diucapkan secara emosional dan membabi buta hingga pada akhirnya secara tak sadar ia ucapkan kata-kata yang menyakiti hati masyarakat Kalimantan. Tentu saya tidak ingin mengulas betapa bodohnya kalimat-kalimat Edy yang seperti โ€œkip zonder kopโ€ /ayam tanpa kepala, kalo dalam istilah Belanda. Yang akan saya highlight adalah bagaiman polemik dari ucapan ini mendapatkan reaksi kolektif yang menurut saya salah alamat.

Adalah benar bahwa Edy 100 persen salah, dan ia harus minta maaf serta mempertanggungjawabkan apa yang telah ia ucapkan. Reaksi publik yang secara masif pun telah diekspresikan baik lewat tulisan, konten video, pelaporan hukum, hingga aksi turun ke jalan. Akan tetapi, hari ini itah bahampahari si samandeyah Kalimantan (solidaritas seluruh Kalimantan) seolah terbakar atas pernyataan Edy yang bodoh tetapi merasa baik-baik saja pada setiap ribu hektar hutan kita yang mengalami pengrusakan. Ajaib. Seolah berkomentar pada kekonyolah Edy lebih penting dan esensial ketimbang menjaga titipan leluhur dalam bentuk kelestarian alam.

BACA : Maaf Lewat Medsos Tak Cukup, Batamad Kalsel Minta Edy Mulyadi Datang ke Kalimantan

Semoga ini bukan pertanda bahwa kita mulai tidak memahami jati diri kita sebagai orang Dayak, yang dalam filosofisnya โ€œSungei, Petak, Danum, adalah uma pambelumโ€ bahwa sungai, tanah, dan air laksana ibu yang memberikan penghidupan. Sehingga bagi orang Dayak menjaga hubungan dengan alam adalah sesuatu yang sakral, filosofis dan mistis.

Dalam adat Dayak menjaga kelestarian lingkungan adalah sebuah pertanggung jawaban pada semesta, leluhur, dan Sanghyang Widi (ia yang awal dan tunggal), inilah mengapa sebelum melakukan kegiatan pertanian orang Dayak harus memulainya dengan ritual, doa-doa, mantra-mantra, agar peralihan fungsi hutan menjadi ladang bertani dapat membawa kemaslahatan serta diridhoi oleh ruh nenek moyang.

BACA JUGA : Kalimantan Disebut Tempat Jin Buang Anak, Ketua PWNU Kalsel Bereaksi

Dalam konteks ini, mari kita lakukan perenungan apakah energi dan solidaritas yang hari ini tumbuh untuk mengecam pernyataa seorang badut yang tidak memahami Kalimantan itu sebanding dengan manfaat yang akan kita petik di kemudian hari?

Atau, kenapa solidaritas dan persatuan Kalimantan ini tidak kita alamatkan pada sesuatu yang lebih bermanfaat seperti mendorong pemerintah segera mengakui hutan-hutan adat di Kalimantan, baik yang ada di Suku Iban, Kinipan, Meratus dan sebagainya. Harusnya kita merapatkan barisan untuk menjaga kelestarian alam raya petak danum itah uluh kalimantan. Mungkin ada gerakan perlawanan yang konsentrasi pada isu lingkungan tapi sangat minimalis, dan memperoleh atensi kecil publik Kalimantan.

BACA JUGA : IKN Baru, Subhan Syarief : Mari Fokus Manfaatkan SDA Kalimantan untuk Warga Kita

Kenapa kita tidak pernah meributkan secara masif berapa banyak lubang bekas galian tambang yang tidak terurus serta telah menghilangkan banyak nyawa anak kecil karena tenggelam di dalamnya. Atau kenapa kita tidak pernah protes betapa Kalimantan sebagai penghasil sumber daya alam dan mineral tidak memperoleh keadilan dalam konteks distribusi anggaran pemerintah pusat. Bagaimana mungkin kita bisa diam saat batubara sebagai bahan bakar listrik diambil dari perut bumi kita tetapi masih banyak daerah yang bahkan akses listrik saja masih susah.

Artinya, banyak sekali list masalah super kompleks yang hari ini ada dan berlangsung lama di Kalimantan telah kita diamkan. Pada masalah-masalah se-fundamental inilah harusnya pemuda yang speak-up di Instagram, media online, Youtube dan seterusnya selain mengecam pernyataan Edy juga memberikan catatan dan keprihatinannya, bahkan mengecam pihak yang bertanggung jawab atas rangkaian panjang masalah yang ada di Kalimantan.

BACA JUGA : Merasa Dihina, Masyarakat Dayak Meratus Laporkan Edy Mulyadi ke Ditreskrimsus Polda Kalsel

Sepanjang hayat dikandung badan, saya belum pernah menyaksikan elite Kalimantan, baik etnis Dayak Punan , Kadorih, siang, Uut Murung, Maanyan, Iban, Ngaju, dan seterusnya melakukan penolakan atas alih fungsi hutan menjadi kawasan pertambangan. Kenapa hari ini para elite seolah merasa paling peduli dengan Kalimantan, sedangkan mereka yang kebanyakan adalah pejabat, eksekutif dan legislatif, tidak pernah menunjukan keberpihakanya terhadap isu lingkungan di Kalimantan yang lebih esensial.

BACA JUGA : Jangan Jadi Penonton, IKN di Kaltim Harus Dimanfaatkan Maksimal oleh Kalsel

Pernahkah kita mendengar seorang yang bergelar sultan di Kalimantan selatan mengecam perusahaan tambang yang menyalahi Amdal? Pernahkah kita mendengar suara keberatannya dalam pembahasan UU minerba, UU Omnibus Law yang akan merugikan masyarakat Kalimantan?

Ah, sudahlah saya yang bukan siapa-siapa ini hanya berharap bahwa solidaritas yang telah terbentuk di Kalimantan ini tidak habis energinya hanya untuk berpolemik pada pernyataan badut, tetapi bisa menjadi kekuataan kita bersama untuk menjaga petak danum leluhur itah. (jejakrekam)

Penulis adalah peneliti di Banjar Public Initiative (BPI)

Editor Donny Muslim

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.