Husairi Abdi

Di Situ Makan, Di Situ Bahira

0

Oleh : Noorhalis Majid

TIDAK pandai berterimakasih, tidak tahu menjaga kehormatan pada tempat – wadah atau institusi yang sudah memberikan penghidupan-rezeki, malah membuat malu, mencoreng nama baik, sehingga institusi itu ikut menanggung akibatnya, itulah makna di situ makan, di situ bahira.

DI SITU makan, di situ pula berak, demikian arti harfiahnya. Makan dimaknai dengan mencari nafkah, sedangkan berak artinya mempermalukan – mengotori yang seharusnya dijaga dengan baik.

Makan dan berak, dipinjam mengilustrasikan kebodohan manusia, yang tidak menjaga tempat makannya atau tempat ia mendapatkan nafkah, justru mempermalukan, akhirnya semua harus menanggung akibat dari perbuatan buruk yang sudah dilakukan.

Betapa banyak kita menyaksikan, ada orang yang mempermalukan tempat kerja yang selama ini menghidupi dia, misalnya korupsi pada institusi yang seharusnya dia bangun dan jaga nama baiknya.

BACA : Teranyar ‘Dijamak Jibril’, Dokumentasikan Paribasa Banjar Berisi Nasihat dalam Tiga Buku

Akhirnya institusi tersebut tercemar – dianggap buruk, hingga hilang kepercayaan publik terhadap institusi tersebut. Tentu masih ingat, kisah penggelapan pajak yang dilakukan petugas pajak, akhirnya hilang kepercayaan publik pada institusi yang mengurus pajak – perlu waktu sangat lama memulihkannya. 

Bahkan, banyak kisah tentang guru, orang yang mengaku pemuka agama, tapi kemudian mempermalukan sekolah atau pendidikan agama dengan tindakan a-moral – perbuatan bejat, kejahatan kemanusiaan, sehingga meruntuhkan seluruh wibawa, simbol-simbol yang selama ini dibangun bersama-sama.

BACA JUGA : Kuliner Banjar; Refleksi di Ujung Lidah, Warisan yang Tak Boleh Luntur

Bahkan institusi agama atau yang mengurus agama, tidak luput dibajak oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab – ia hidup dan besar dari institusi itu, tapi berbuat tidak baik dan mencoreng semua yang seharusnya memberi keteladanan.

Suatu institusi besar dan terhormat, tidak dibangun oleh hanya satu generasi, melainkan berpuluh bahkan beratus generasi. Mestinya setiap generasi menanamkan kebaikan, sehingga menambah kuat maruah – wibawa, bukan malah mencoreng dan menghancurkannya.

BACA JUGA : Mengukur Eksistensi Bahasa Banjar Dari Karya Sastra Hingga Karya Akademik

Ungkapan ini memberikan pelajaran, sebagai manusia yang berakal, mestinya menjaga tempat dimana ia telah banyak memberikan manfaat-rezeki – pendapatan. Tempat penghidupan, yang membuat piring nasi selalu terisi. Bukan menghancurkannya dengan perbuatan dan tindakan yang tidak baik. Sangat keliru – bahkan jahat, bila di situ makan, di situ bahira.(jejakrekam)

Penulis adalah Pemerhati Budaya dan Bahasa Banjar

Staf Senior Lembaga Kajian Keislaman dan Kemasyarakatan (LK3) Banjarmasin

Editor Ahmad Riyadi

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.