Husairi Abdi

Kiprah Maradja Sayuti Lubis dan Jejak Sarekat Islam di Banjarmasin (1)

0

Oleh : Iberahim

AHAD, 7 Januari 1923, rapat umum Sarekat Islam (SI) berlangsung di Martapura. Para tokoh SI mengundang Maradja Sajoethi Loebis (Maradja Sayuthi Lubis). Pria yang dikenal sebagai propagandis Islam ini pun angkat bicara.

DALAM rapat itu, selanjutnya Maradja Sayuti Lubis berbicara soal Islam dalam ranah politik di hadapan penduduk muslim Martapura yang dikenal akan kesalehannya. Para peserta pertemuan umum itu, sebagian mendengar paparan Maradja dengan heran. Sebagian lagi senang, karena tidak ada yang salah.

Ketika itu, H Ahmad Kasasie, seorang Mufti Martapura dan Pangeran Abdurrachman, pensiunan Districtshoofd turut pula menyampaikan pidato. Kedua tokoh ini mengatakan puas dan setuju dengan ide-ide yang dilontarkan Maradja Sayuthi Loebis tentang Islam. Seruan para peserta rapat itu itu terekam dalam Overzicht Van de Inlandsche en Maleisch-Chineesche Pers Nomor 6/1923 artikel Islam di Borneo.

Siapa Maradja Sajoeti Loebis?

Masih berdasar sumber di atas mengutip edisi 27 Januari, “Anak Borneo Sedjati” memberikan informasi berikut tentang pribadi R. S. Mohd Sajoety Loebis. Sedangkan, Maradja menuliskan namanya dalam berbagai kesempatan cukup panjang yakni R. S. Maradja Sajoethi Loebis.

BACA : Sekolah Arab Vs Sekolah Belanda; Diskriminasi Dalam Arus Zaman

Maradja adalah seorang pemuda terpelajar. Seorang pria kelahiran Sumatera dan menguasai bahasa Inggris. Dia seorang Islamis yang sangat setia dengan agamanya. Maradja tercatat sebagai anggota “Central Islam Society” di London. Organisasi ini gencar melakukan kampanye pan-Islamis dengan pusat administrasi kemudian dipindahkan ke Konstantinopel/Istanbul, Turki.

Sketsa peta Kota Banjarmasin dan sekitarnya pada masa Hindia Belanda (circa 1916) (Foto Wikipedia)

Selain seorang Islamis, Maradja juga dikenal jago perbandingan agama. Dia mengoleksi buku-buku Islam serta beberapa Alkitab dalam perpustakaan pribadinya. Di Banjarmasin, Maradja Sayuthi Lubis tinggal di kampung Pasar Lama. Dia merupakan anggota redaksi majalah politik keagamaan (di Solo) Medan Moeslimin dan Islam Bergerak. Termasuk, kontributor surat kabar harian Pewarta Deli (Pantai Timur Sumatera).

BACA JUGA : Sentuhan Tangan HM Arip, Sang Ketua Pedoman Besar Sarekat Islam Banjarmasin

Dalam kesehariannya, Maradja merupakan guru Sekolah Bahasa Arab di Kampung Sungai Mesa, Banjarmasin. Sekolah ini merupakan fasilitas pendidikan yang didirikan Sarekat Islam. Menjadi guru, Maradja tak mendapat gaji, bahkan dirinya tak pernah meminta gajinya untuk dibayar pihak sekolah.

Dalam catatan Wajidi Amberi, berjudul Nasionalisme Indonesia di Kalimantan Selatan 1901-1942, disebut bahwa di Banjarmasin Banjarmasin terdapat Gedung Club di Seberang Masjid (Sungai Mesa ketika itu). Dari gedung ini, Sarekat islam mendirikan Sekolah Islam Lima Tahun diberi nama Hadhihil AlMadrastul Wathoniah”. Mata pelajaran diberikan di sekolah ini meliputi pengetahuan agama diselingi pengetahuan umum.

Tercatat para guru yang mengajar adalah H. Mohammad Said (Kepala Sekolah), Said Idrus (Wakil Kepala Sekolah), dengan guru-guru pembantu; Syekh Mohammad bin Amir, H. Makhmud, M. Ideham, M. Pasi, H. Anang Akhmad, H. Abdul Syukur dan H. Hamsy.

BACA JUGA : Sarekat Islam Lahir di Tanah Banjar, Geliat Perlawanan Intelektual Kaum Dagang

Sebelumnya, Maradja Sayuthi Lubis merupakan guru sekolah Islam di Kampung Bugis (sekarang Pasar Lama), milik beberapa orang Arab Banjarmasin. Namun, sekolah ini terbuka untuk semua orang Islam. Lagi-lagi, Maradja tak menuntut pembayaran untuk jasa ini.

Hanya saja, karena sekolah ini dibina orang-orang kaya, banyak sumbangan dan tunjangan bulanan diberikan kepada para guru. Terutama, dari para pedagang grosir kaya Arab seperti Mohamad Bin Thalib. Namun, Maradja hanya menerima pembayaran kecil. Di mata Maradja, ketika hendak dibayar dengan gaji tinggi, justru dinilainya tak cocok karena yang lebih pantas adalah guru lokal, bukan dirinya yang datang dari daratan Sumatera ke Banjarmasin.

Bukti setoran pajak dari Sareket Islam kepada Pemerintah Kolonial Belanda. (Foto Museum Troppen Belanda).

Tak heran, ketika mendapat gaji tambahan, Maradja Sayuthi Lubis selalu menyerahkan uang yang didapatnya itu kepada guru lainnya yang telah berkeluarga. Dia sendiri masih bujangan. Niat Maradja hanya satu mengajar bukan untuk menghasilkan uang. Dia merasa beruntung ketika orang yang didiknya bisa menyerap dan mempraktikkan apa yang diajarkannya di sekolah. Inilah keikhlasan seorang guru.

BACA JUGA : Musyawaratutthalibin, Ruh Perjuangan Organisasi Islam Terbesar di Tanah Kalimantan

Di sisi lain, Maradja Sayuthi Lubis adalah seorang guru privat bahasa Inggris. Untuk jasanya dalam kelas malam, Maradja mengenakan tarif  paling banyak ƒ (gulden) 5.—  per bulan untuk orang kaya. Sedangkan, bagi siswa yang miskin dikasih gratis. Rencananya, Maradja Sayuthi Lubis pada bulan Maulud (Oktober 1923) mendatang dengan dukungan beberapa pemuda di Banjarmasin, membuka sekolah untuk anak yatim dan dhuafa. Lagi-lagi, Maradja bersedia menjadi guru honorer.

Maradja pun dikenal murah hati dengan ilmunya. Walau hidup serba kekurangan, namun dirinya tetap bertahan dengan prinsip hidup mengajar bukan untuk mencari uang. Ini gambaran watak Maradja seperti dilaporkan Overzicht Van De Inlandsche En Maleisch-Chineesche Pers. No. 6/1923 artikel Islam Di Borneo tersebut.

BACA JUGA : Arus Kebangkitan Nasional dari Kalimantan Selatan dalam Panggung Sejarah

Mengenai nama lengkap Maradja Sayuthi Lubis yang biasa ditulis dengan R. S. Maradja Sayuthi Loebis dalam Kroniek Der Zuider- En Oosterafdeeling van Borneo yang ditulis oleh Dr. J.Eisenberger tahun 1936 berbunyi ; De Sarikat Islam te Bandjermasin krygt wat nieuw leven onder leiding van den Minangkabauschen yveraar Radja Soetan Maradja Sajoeti Loebis; op een vergadering vormen opheffing van den Gemeenteraad van Bandjermasin, vermindering der heerendienstafkoopsommen en verandering in de wyze van aanslag der inkomstenbelasting naast tallooze religieuse kwesties punten van bespreking. De C. S. I. tracht vergeefs invloed uit te oefenen op de vorming van een nieuw bestuur.”

Sekolah Islam Musyawaratutthalibin yang didirikan tokoh-tokoh Islam di Banjarmasin untuk mendidik kadernya. (Foto Wajidi Amberi)

Tentu jika diterjemahkan secara bebas berarti “Sarekat Islam di Banjarmasin mendapatkan kehidupan baru di bawah kepemimpinan seorang Minangkabau (sebenarnya Batak Mandailing) yang fanatik Radja Soetan Maradja Sajoeti Loebis;  Dalam pertemuan tersebut, pembubaran  Gemeenteraad Bandjermasin, pengurangan pembayaran pungutan jasa dan perubahan metode penilaian pajak penghasilan, selain pertanyaan masalah agama yang tak terhitung jumlahnya, menjadi bahan pembicaraan. C.S.I. (Centraal Sarekat Islam) mencoba dengan sia-sia untuk mempengaruhi pembentukan dewan baru.

Dengan demikian, nama lengkapnya adalah Radja Soetan Maradja Sajoeti Loebis atau Radja Soetan Maradja Sayuthi Loebis (Raja Sutan Maradja Sayuthi Lubis).

BACA JUGA : Suara Kritis Pers Perjuangan dan Menguatnya Kapitalisasi Media Massa

Bagaimana Maradja Sayuthi Lubis Bisa Berada Banjarmasin?

Dikutip dari tulisan Wajidi Amberi bahwa Sarekat Islam (SI) berdiri di Banjarmasin pada tahun 1912 sebagai cabang dari induknya di Pulau Jawa. Dibawa ke Kalimantan Selatan oleh H. M. Arip (H. Matarip atau H. Muhammad Arip Bakumpai). Seorang pedagang kelahiran Bakumpai (Marabahan) yang pulang pergi Banjarmasin – Surabaya.

Ketika berada di Surabaya, H.M. Arip turut aktif dalam pergerakan dengan menjabat sebagai Komisaris SI di Surabaya. Atas saran Ketua SI HOS Cokroaminoto, aktivitas pergerakan organisasi ini pun pindah ke Banjarmasin. Sementara H.M Arip ditunjuk sebagai Komisaris SI untuk Daerah Kalimantan Selatan.

BACA JUGA : Kontroversi Keterlibatan Jong Borneo di Sumpah Pemuda Tahun 1928

Bersama koleganya, Sosrokardono, H.M Arip pun menakhodai pendirian SI di Banjarmasin dan beberapa kota di Kalimantan Selatan. Menurut Amir Hasan Kiai Bondan dalam Suluh Sedjarah Kalimantan, semangat Sarekat Islam masuk dalam sanubari rakyat, hingga mulai kembang perasaan hal derajat bangsa dan perasaan menghargakan diri.

Gerakan SI yang terutama diusahakan para pemimpin adalah memperteguh silaturrahim di antara sesama anggota. Caranya, dengan jalan menjunjung tinggi adat leluhur gotong royong (tolong-menolong). Semboyan mereka : Berani karena benar, takut karena salah, selalu didengung-dengungkan oleh para anggota S.I. di masyarakat ramai.

Dua tokoh Sarekat Islam; HOS Cokroaminoto (Ketua SI) dan HM Arip (Komisari SI Daerah Kalimantan Selatan) (Foto Wajidi/Wikipedia)

Dalam amal usahanya, SI mendirikan Sarekat Dagang dan Sarekat Pelajaran. Mereka berikhtiar membeli kapal gandengan untuk Banjarmasin, Negara dan Amuntai. Demikian pula, untuk Banjarmasin dan sepanjang Sungai Barito. Sayangnya, ikhtiar itu di tengah jalan telah gagal, karena pimpinan organisasi ini merupakan ‘mucai’ (dalam Bahasa Banjar berarti kacau). Sejak itu, kepercayaan para anggota terhadap pemimpinnya berangsur-angsur melorot. Namun, kepada organisasi Sarekat Islam, para anggota tetap menaruh cinta dan pengabdian tinggi.

BACA JUGA : Jangan Bangga Gelar Haji Itu Warisan Kolonial Belanda

Mengenai kegagalan, Wajidi memberi catatannya. Menurut Wajidi, kegagalan SI di bidang ekonomi membawa pengaruh buruk terhadap organisasi. Di mana, para pengurus SI tidak lagi kompak dalam bekerja. Hal ini turut berpengaruh pada inisiatif organisasi bercorak keislaman ini terus menurun. Bahkan, pada tahun 1920, organisasi SI Banjarmasin, nyaris beku tanpa kegiatan.

Kedatangan HOS Cokroaminoto ke Banjarmasin tahun 1919 kemungkinan sekali erat hubungannya dengan kemunduran SI di daerah ini. Dimana setelah itu, pengurus Centraal Sarekat Islam (CSI) mengirim seorang propagandis muda yang terpelajar, cakap, berani dan dinamis bernama Maradja Sayuthi Lubis.

BACA JUGA : Proklamasi 17 Mei; Pernyataan Integrasi Bertinta Merah

Dalam mengemban misi, Maradja Sayuthi Lubis telah memahami bahwa satu-satunya kemungkinan untuk menyelamatkan SI dari kehancuran adalah dengan melakukan reorganisasi. Langkah yang diambil oleh Maradja di antaranya mengganti pengurus lama dengan pengurus baru. Maka dibantu oleh Mohammad Horman-kelahiran Marabahan-, pada Maradja Sayuthi Lubis tahun 1922 berhasil menyusun pengurus baru SI Banjarmasin. Inilah alasannya, kenapa Maradja Sayuthi Lubis akhirnya bermukim dan berkiprah di Banjarmasin.(jejakrekam/bersambung)

Penulis adalah Pemerhati Sejarah Banjar

Ketua Lembaga Adat Kerajaan Pulau Laut Korwil Banjarmasin

Sekretaris Syarikat Adat, Sejarah dan Budaya (SARABA) Hulu Sungai

Pencarian populer:Syekh sayuti
Editor Didi G Sanusi

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.