Titik Nadir dalam Berkarya Pelukis Kawakan Banua Nanang M Yus

0

PAMERAN tunggal karya pelukis kawakan Banua, Nanang M Yus bertajuk Titik Nadir resmi dibuka bagi publik pada 9-19 Januari 2022 dihelat Bengkel Seni Rupa Sholihin di Taman Budaya Kalimantan Selatan, Banjarmasin.

KEGIATAN ini dibuka Walikota Ibnu Sina diwakili Asisten II Perekonomian dan Pembangunan Setdakot Banjarmasin, Doyo Pudjadi di Bengkel Seni Rupa Sholihin, Taman Budaya Kalsel, Jalan Brigjen H Hasan Basry, Kayutangi, Banjarmasin, Minggu (9/1/2021) sore.

Dia menyampaikan dunia seni harus tumbuh di sudut-sudut kota berjuluk seribu sungai ini dan mendorong Disbudpar Banjarmasin agar memprogramkan ruang kesenian itu.

“Dunia seni memiliki bank yang bisa berfungsi sebagai tongkat mujarab untuk bertahan hidup sehat. Cuma masalahnya, tidak semua orang yang mampu memahami, menghayati dan menggeluti, serta cinta terhadap karya seni itu,” ucap Doyo Pudjadi kepada jejakrekam.com, Minggu (9/1/2022) sore.

BACA : Usai 13 Tahun, Tak Hanya di Atas Kanvas, Perupa Hajriansyah Ekspresikan Lukisan di Perabot Dapur

Menurutnya, dunia seni selain tentang keindahan yaitu mampu memperpanjang umur seorang, termasuk pelukis Nanang M Yus. Ia menyebut, di usia lansia M Yus saat ini terus mampu produktif dan konsisten dalam berkarya. “Maka dari itu, kesenian jangan sampai mati di dunia ini. Dunia tanpa seni, yaitu mati,” tegas Doyo.

Koleksi lukisan karya Nanang M Yus dipamerkan di Sanggar Seni Sholihin, Taman Budaya Kalsel, Banjarmsain. (Foto Rahim Arza)

Dia merasa, masyarakat Banjar perlu menanamkan nilai-nilai kesenian didalam hidupnya agar tumbuh bersahaja dan memiliki kekuatan di tubuh sendiri. Tanpa itu, kata dia, hidup takkan tenang dalam kesehariannya.

“Saya mengapresiasi karya lukis Nanang M Yus ini, upaya membangkitkan para seniman muda untuk terus berkarya dan melahirkan nilai seni itu,” ucap Doyo.

BACA JUGA : Galeri Lukis Nanang M Yus, Jawaban dari Impian yang Diabaikan Pemda

Pelukis kawakan asal Kalimantan Selatan, Nanang M Yus mengaku sudah berkarya sejak tahun 1965. Bahkan, karya-karya menomentalnya telah bersebar di tataran lokal, nasional dan mancanegara.

“Jadi sudah 56 tahun berkarya. Melukis, melukis, dan lalu menyelanggarakan pameran di mana-mana. Seperti Yogyakarta, Surakarta, Jakarta, Pontianak, Samarinda, Kupang dan terakhir di Ambon. Dan hari ini di Banjarmasin,” kata pria kelahiran 1945.

M Yus bercerita, sesuai tema titik nadir dalam berkarya yaitu melukis, terdapat perjalanan panjang yang tidak selalu mulus. Dia merasa, ada titik frustasi dalam berkarya dan terlebih memandang karya seni rupa di Banua, jauh dihargai di mata masyarakat lokal.

“Melukis itukan perlu mengeluarkan dana, tapi orang Banjar itu jarang mengoleksi lukisan. Kolektor kita sedikit,” ungkap M Yus, sedih.

BACA JUGA : Pelukis Kalsel Suarakan Meratus ke Nasional Lewat Lukisan Tarian Leluhur

Saat ini, menurut M Yus, ada 26 lukisan yang terpampang di pameran Titik Nadir tersebut. Koleksi karya di atas kanvas itu hanya sebagian dari ratusan karya miliknya. Sebagian besar masih ada di kediamannya. “Selama setahun, ada enam lukisan yang saya lukis. Karena melukis itu gampang-gampang susah,” ujarnya.

Koleksi lukisan pelukis Nanang M Yus dengan berbagai tema dan gaya yang dijual untuk para pencinta seni atau kolektor. (Foto Rahim Arza)

Kata M Yus, pameran lukisan ini juga sekaligus membuka karya dari goresan kuas di atas kanvas bagi pencinta seni rupa atau para kolektor yang ingin mengoleksinya. Harga yang dibanderol tergolong relatif mahal, mulai Rp 2,5 juta hingga Rp 21 juta.

“Karya-karya di sini semua mahal bagi saya, karena tidak ada yang samanya di seluruh dunia. Bahkan, bentuk lukisan yang abstrak itu tidak gampang bikinnya. Ditaruh harga Rp 15 juta,” katanya.

BACA JUGA : Mengimpikan Pasar Seni, Pelukis Banua Seakan Dianaktirikan

M Yus pun mengaku, karyanya juga pernah dilirik oleh kolektor dari California, Amerika Serikat. Dan sebelumnya, kata dia lagi, ada kolektor yang datang dipameran titik nadir dengan membeli enam lukisannya.

Maka dari itu, bagi M Yus, semestinya pemerintah harus memfasilitas para seniman di Banua, khususnya para seni rupa. Kata dia, belum ada gedung khusus pameran yang dibangun oleh pemerintah setempat untuk dinikmati oleh masyarakat.

“Harapan saya, tidak punya target apa-apa. Cuma keinginan saya dari dulu kepada pemerintah daerah dan setiap pejabat yang berganti, mohon dibikinkan galeri seni rupa,” pungkasnya.(jejakrekam)

Penulis Rahm Arza
Editor Didi G Sanusi

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.