Husairi Abdi

Rob Serbu Sejumlah Kawasan Kota, Saut Nathan Samosir : Peninggian Jalan Bukan Solusi Tepat!

0

FENOMENA air pasang (rob) kembali melanda Kota Banjarmasin, Senin (3/1/2021) malam. Sejumlah kawasan terutama di bantaran Sungai Martapura dan sekitarnya diserbu air.

PANTAUAN jejakrekam.com, Senin (3/1/2021) malam, beberapa ruas jalan terendam air pasang. Seperti kawasan Jalan Brigjen H Hasan Basry, Kayutangi, terdapat titik langganan terendam. Di antaranya, Gedung Wanita dan kampus STIE Indonesia Banjarmasin sekitarnya.

Di pusat kota terdapat di Jalan Piere Tendean, Jalan S Parman, Jalan Pahlawan, Jalan Seberang Masjid dan lainnya juga turut terdampak meluapnya air Sungai Martapura. Kemudian, Jalan Pangeran Banjarmasin Utara, beberapa titik tampak terendam rob.

Ketua Komisi I DPRD Banjarmasin Saut Nathan Samosir mengakui regulasi restorasi sungai baik berupa peraturan daerah (perda) hingga perencanaan sistem drainase kota, belum komprehensif, hanya bersifat parsial.

“Restorasi sungai atau normalisasi sungai memang membutuhkan dana yang gede. Apalagi, banyak bangunan yang justru menutupi aliran sungai. Ini belum bisa dibebaskan pemerintah kota,” ucap Saut Nathan Samosir dalam Refleksi Akhir Tahun 2021 dan Menyongsong Asa Baru di Kafe 99 Trisakti Banjarmasin, Sabtu (1/1/2022).

BACA : Sorot Problema Kota, 5 Wakil Rakyat DPRD Banjarmasin Helat Refleksi Akhir Tahun 2021

Dia mencontohkan ada bangunan yang berada di kawasan Sungai Guring di belakang HBI Banjarmasin justru tidak bisa ditindak. Padahal, jelas melanggar perda sungai dan ketentuan lainnya.

“Nah, jika bangunan yang terbukti menutup aliran sungai tidak ditindak, mana mungkin saluran air di Sungai A Yani itu bisa mengarah ke Sungai Pekapuran,” papar Saut.

Sekretaris Fraksi PDIP DPRD Banjarmasin ini mengakui akibat sungai tidak berfungsi ditambah terus berkurangnya daerah tangkapan air, membuat fenomena banjir rob, termasuk banjir besar pada awal tahun 2021 terus saja terulang.

“Saya sudah bermukim di Banjarmasin selama 30 tahun. Saya amati daerah tangkapan air makin berkurang di kota ini,” tutur Saut.

BACA JUGA : Langganan Diserbu Rob, Cegah Insiden Kesetrum, RSI Banjarmasin Amankan Instalasi Listrik

Ketua Komisi I DPRD Banjamasin Saut Nathan Samosir saat menyoroti fenomena banjir rob dalam Refleksi Akhir Tahun 2021. (Foto Iman Satria)

Dalam catatan Saut, banyak sungai kecil yang telah mati bahkan hanya 159 sungai berfungsi di Banjarmasin. Akhirnya, ketika banjir atau calap melanda, solusi jangka pendek diambil seperti meninggikan jalan, gang dan sebagainya.

BACA JUGA : Siaga Banjir Rob Susulan, BPBD Banjarmasin Dapat Jatah Dana Tambahan Rp 500 Juta

“Celakanya, saat meninggikan jalan atau gang justru tidak memperhatikan jaringan drainase atau gorong-gorong. Buktinya di kawasan Jalan Yos Sudarso, Telaga Biru, terutama ketika ada satu gang ditinggikan jalan, karena tidak memperhatikan gorong-gorong yang  ditutup dan tidak bisa menyalurkan air ke sungai, gang yang rendah terdampak,” tutur mantan Ketua Restorasi Gambut Kalsel ini.

Dia menyebut akibat air terkurung dan tidak bisa dialirkan ke gorong-gorong atau drainase, sehingga yang terdampak justru masyarakat luas. “Saya rasa konsep kanalisasi di zaman Belanda itu memang bagus dihidupkan lagi. Karena daerah tangkapan air di Banjarmasin tiap tahun terus menyusut. Tentu saja yang utama adalah restorasi sungai-sungai di Banjarmasin,” ucapnya.

BACA JUGA : Tokoh Eksponen 66 Kalsel Minta Pemda Serius Tangani Masalah Banjir Rob

Masih menurut Saut, dalam setiap pembenahan maupun pembangunan jalan dan gang, harus diperhatikan soal keberadaan drainase dan gorong-gorong. Terutama dari pengajuan warga, RT, kelurahan hingga dibawa ke rakorbang dan musrenbang kecamatan dan pemerintah kota, harus melalui data survei lapangan.

“Kami amati justru saat pengajuan pembangunan jalan, tidak pernah ada dasar survei lapangan. Jangan sampai solusi mengatasi banjir rob itu, harus dengan meninggikan jalan. Sepatutnya yang diperhatikan keberadaan got, gorong-gorong, drainase hingga sungai jangan sampai ditutup,” pungkasnya.(jejakrekam)

Penulis Iman Satria/Didi GS
Editor Didi G Sanusi

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.