Husairi Abdi

2022: Kesadaran Lingkungan Membaik di Tengah Iklim Semakin Memburuk

0

Oleh : Akbar Rahman, Ph.D

COVID-19 telah berumur dua tahun. Kurang dua bulan usia virus ini akan dua tahun masuk di negeri ini. Tahun 2022 menjadi momentum untuk bangkit dan pulih dari pandemi meski masih dibayang-banyangi adik dari varian kedua.

BANYAK momen terlewati selama dua tahun terakhir. Di Indonesia, selain wabah yang mengharuskan adaptasi baru beberapa kejadian bencana juga mewarnai kondisi masyarakat. Kedua hal ini erat kaitannya dengan lingkungan.

Wabah penyakit erat hubungannya dengan kondisi kebersihan lingkungan, sementara bencana alam juga dimotori oleh perubahan iklim penyebab cuaca esktrim akibat nyata kerusakan lingkungan.

Selain momen kejadian di atas, mandat Indonesia sebagai pemimpin G20 hingga akhir tahun 2022 merupakan faktor penting semakin gencarnya upaya perbaikan lingkungan.

BACA : Puluhan Tahun Tak Dikeruk, Sungai-Sungai di Banjarmasin Alami Pendangkalan Dan Sakit

Mengutip pernyataan Presiden Joko Widodo ketika berbicara dalam KTT G20 sesi II dengan topik perubahan iklim, energi dan lingkungan hidup di La Nuvola, Roma, Italia, Minggu, 31 Oktober 2021, menyatakan: “Indonesia ingin G20 memberikan contoh, Indonesia ingin G20 memimpin dunia, dalam bekerja sama mengatasi perubahan iklim dan mengelola lingkungan secara berkelanjutan dengan tindakan nyata”.

Pernyataan ini menjadi pijakan kuat untuk melakukan langkah nyata perbaikan lingkungan pada tahun 2022. Program dan kampanye perubahan iklim di tahun 2022 akan banyak bertebaran sebagai usaha meningkatkan kesadaran semua lapisan masyarakat dalam berbagai konteks. Kesadaran lingkungan membaik di tahun 2022 juga diprediksi banyak pihak.

Lilian Liu, senior sustainability strategist at Futerra, menyatakan: ‘Net-zero’ will start to actually mean something. Ini mengindikasikan kesadaran lingkungan akan menjadi hal utama dan semakin ketat aktivitas dan kegiatan terhadap dampak lingkungan.

BACA JUGA : Ada 6 Faktor Picu Ambruknya Rumah Mewah Gatot Subroto, Pakar : PBG Harus Selektif

Sementara itu, Samantha Montano, author and assistant professor of emergency management at Massachusetts Maritime Academy, menyatakan: Communities will demand a better disaster response. Samantha melihat, kejadian bencana telah meningkatkan kesadaran dan daya kritis masyarakat terhadap dampak serta penanganannya.

Ini juga dirasakan di tempat kita, upaya masyarakat dalam penanganan bencana memberikan berbagai catatan penting untuk dilakukan perbaikan. Dan, masyarakat semakin sadar bahwa bencana alam memberikan penderitaan nyata yang wajib diperbaiki dimasa pasca bencana.

Dalam konteks kota, lingkungan menjadi peran penting untuk menekan produksi karbon aktor perubahan iklim. Pada permukiman dan pemukaman masyarakat kota semakin berkembang urban farming pada pemanfaat halaman rumah hingga penggunaan vertical farming di area terbatas kota.

BACA JUGA : Kearifan Masyarakat Kalimantan Menjaga Lingkungan

Kota lebih banyak terdampak terhadap perubahan iklim. Urban heat island misalkan, akan mulai semakin disadari masyarakat kota dengan melakukan langkah-langkah perbaikan nyata. Upaya ini juga disambut dengan regulasi ‘hijau’ sadar lingkungan yang akan semakin menjadi sandaran aturan daerah.

Sementara itu, senior director of building emissions and community resilience at the White House Council on Environmental Quality, Mark Chambers mengatakan, kesedaran kota terhadap emisi karbon penyebab perubahan iklim akan terjadi paradigma baru untuk menekan itu, dengan dekarbonisasi dan elektrifikasi.

Bangunan sebagai tempat tinggal merupakan karya cipta lingkungan binaan salah satu penyumbang emisi gas buang yang berdampak puruk terhadap lingkungan. Kesadaran para arsitek terhadap arsitektur hijau juga akan mewarnai kreatifitasnya di tahun 2022.

BACA JUGA : Healthy City: Arus Deras Perencanaan Kota Pasca Covid-19

Meskipun kesadaran lingkungan semakin meningkat, ini tidak berarti ancaman perubahan iklim langsung membaik. Tahun 2022 diprediksi kondisi iklim semakin memburuk seperti diberitakan Los Angeles Time, kemarin.

Meningkatnya kesadaran lingkungan juga harus dibarengi dengan langkah nyata, tepat dan cepat. Perubahan iklim merupakan produk dari tahun 1970-an ketika suhu bumi mulai merangkak naik. 17 poin SDGs, kesepakatan 193 negara pada tahun 2015 di Markas Besar Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), merupakan Agenda Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals) sebagai kesepakatan pembangunan global untuk menekan laju peningkatan suhu bumi. Kesepakatan ini penting untuk dilaksanakan, ditengah tantangan tarik ulur kepentingan ekonomi masing-masing negara.

Tahun 2022, menjadi penting bagi aksi lingkungan hidup dan iklim, seperti dikemukakan di atas. Perubahan iklim akibat kerusakan lingkungan telah memberikan penderitaan langsung kepada masyarakat dan menggangu ekosistem pembangunan. Pembangunan sadar lingkungan terus digalakkan dan perlu energi besar yang lahir dari kesadaran dari masyarakat (button up) dan pemerintah menyambut dengan dukungan penuh terhadap penggiat lingkungan. Kolaborasi button up dari masyarakat, kemudian di support secara top down oleh pemerintah merupakan perkawinan yang dapat mengakselerasi pembangunan lingkungan yang lebih baik.

BACA JUGA : Bekas Tambang Galuh Cempaka Jadi Embung, Pemkot Banjarbaru Disarankan Benahi Drainase

Peran media menjadi strategis di era digital untuk menyampaikan dan mensosialisasikan secara cepat kepada masyarakat. Saintis memiliki peran ganda untuk pemberdayaan masyarakat dan bekerjasama dengan pemerintah dalam melakukan pengembangan berbagai kajian dan riset. Pengusaha ‘sadar lingkungan’ juga sangat diperlukan dalam usaha akselerasi perbaikan lingkungan.

Pemilik modal berperan dalam menunjang berbagai kegiatan dan usaha masyarakat disekitar usaha atau perusahaannya. Kekompakan dan kolaborasi 5 segmen ini akan menjadikan kesadaran lingkungan berdampak nyata terhadap perbaikan lingkungan. Saatnya ego sektoral dibuang jauh-jauh, dan bergandeng tangan di tahun 2022.(jejakrekam)

Penulis adalah Peneliti dan Pegiat Lingkungan

Pengajar di Universitas Lambung Mangkurat

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.