Hunian Sering Ambruk di Banjarmasin, Simak Dua Dosen ULM Beberkan Solusinya

0

INSIDEN bangunan ambruk mulai marak terjadi di Kota Banjarmasin Provinsi Kalimantan Selatan dalam beberapa hari terakhir ini. Ambruknya bangunan sendiri dinilai, salah satunya kegagalan struktur pondasi.

INI mengingat banyak bangunan atau hunian warga memilih kayu galam sebagai pondasi utama. Meski demikian, pemilihan kayu galam untuk pondasi harus memerlukan ketelitian dan perhitungan matang. Jika asal-asalan, maka pondasi dipastikan ambrol tak mampu menahan berat beban, yang berdampak bangunan ambruk.

Setidaknya terdapat dua penyebab utama kegagalan struktur pondasi dengan bahan kayu galam, di antaranya yakni besarnya tegangan lentur maupun geser sunduk pada beberapa posisi tiang, terutama yang mengalami kombinasi pembebanan. Kondisi itu disinyalir berpotensi menyebabkan kepatahan pada bagian sunduk.

Lalu, faktor berikutnya ialah pelapukan pada bagian kepala pancangan galam akibat penancapan yang kurang sempurna. Pelapukan itu dapat menyebabkan penurunan atau pergeseran lapak yang bertumpu pada bagian tersebut.

BACA: Prak!!! Rumah Mewah Ambruk di Gatot Subroto, Ini Analisis Ahli Konstruksi

“Kebanyakan kasus bangunan runtuh akibat patahnya sunduk. Sunduk sendiri umumnya kayu 5/10 namun tidak sedikit juga sunduk berukuran menjadi 4/8. Adapun faktor lain seperti kualitas kayu ulin itu sendiri,” kata dosen Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Deddy Huzairin saat menjadi narasumber dalam webinar Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Kalsel, Senin (20/12/2021)

Dua dosen Universitas Lambung Mangkurat (ULM) mengupas secara dalam masalah rumah ambruk di Banjarmasin melalui webinar yang dihelat IAI Kalsel.

Menurutnya, dalam pembangunan pondasi umumnya menggunakan 4 hingga 6 batang kayu galam. Jumlah itu disesuaikan dengan penyaluran beban pada bagian dinding serta komponen penting lainnya seperti tiang, sunduk, lapak maupun pancangan galam itu sendiri.

Ia menyinggung kondisi lahan gambut di Kota Banjarmasin yang terdiri dari berbagai lapisan, mulai tanah lunak hingga tanah keras. Rincinya, untuk lapisan tanah lunak berada pada kedalaman 25 meter. Sedangkan, tanah keras rata-rata berada di kedalaman 40 meter.

Situasi tersebut, dia menyarankan agar mempersiapkan desain struktur pondasi secara matang. Bahkan, jika perlu melakukan konsultasi bersama pihak yang berkompeten dalam bidang tersebut.

BACA JUGA : Sorot Fenomena Bangunan Ambruk, IAI Kalsel Gelar Sayembara Desain Halte Dan Dermaga Transportasi Sungai

“Rumah yang runtuh hampir semua menggunakan pondasi cerucuk galam. Ada baiknya sebelum pembangunan perlu dialog dengan tukang kayu yang kompeten terkait desain struktur khususnya pondasi,” tuturnya.

Selain komunikasi bersama ahli, Deddy memberikan sederet solusi lainnya untuk meminimalisir potensi kegagalan pondasi. Pertama yakni menggunakan sunduk dengan ukuran lebih besar atau minimal 5/12. Kedua, memastikan bahwa bagian atas atau kepala galam berada di bawah garis air tanah terendah saat puncak musim kemarau.

Kemudian, mengurangi elemen beban terbesar serta menggunakan suai atau pengikat yang mencukupi pada tiang di bagian terluar bangunan serta di bawah dinding. “Tak kalah penting, sosialisasi dan regulasi juga harus ditegakkan,” tuturnya di hadapan puluhan peserta webinar.

BACA JUGA : Ada 6 Faktor Picu Ambruknya Rumah Mewah Gatot Subroto, Pakar : PBG Harus Selektif

Senada itu, narasumber lainnya Bani Noor Muchamad mengungkapkan fenomena bangunan ambruk disebabkan sejumlah faktor, baik alamiah maupun oleh manusia.

Apabila fokus pada faktor alamiah, sambungnya, maka masyarakat harus memahami serta mengenal lebih dalam soal lahan basah (gambut). Adapun karakteristik lahan basah seperti mudah kering, mudah amblas, berat isi dan daya dukung rendah, kemampuan menyimpan air tinggi, kandungan bahan organik dan karbon tinggi, hingga kandungan zat hara serta asam (Ph) yang rendah.

“Lahan basah terbagi menjadi dua. Pertama di wilayah pesisir dan juga ada lahan basah yang berada di daratan seperti rawa-rawa (air tawar maupun gambut),” ucapnya.

BACA JUGA : Rumah Dua Tingkat di Tepi Sungai Kelayan Ambruk, Tak Ada Korban Jiwa

Bani mengakui lahan gambut mengalami amblas sekitar 16 centimeter hampir setiap tahun. Keadaan itu buntut dari alih fungsi lahan sehingga mengakibatkan terjadi penurunan pada permukaan tanah.

Mengingat, hampir seluruh daratan di Kota Seribu Sungai merupakan lahan gambut. Ia pun mengajak warga agar kembali memahami hakikat tentang kearifan lokal, baik dari sisi bangunan mapun sektor lingkungan.

BACA JUGA : Banjarmasin Terancam Tenggelam, Pakar Hukum ULM Nilai Perda Sungai Tumpang Tindih Dan Jadi Macan Kertas

“Kearifan lokal merupakan warisan yang dapat menjadi solusi masa depan. Idealnya lahan basah tak ditinggali atau dibangun hunian, namun jika tetap membangun maka harus patuh norma-norma dari kearifan lokal agar tidak terjadi bencana kedepannya,” ucapnya.

Meminjam catatan IAI Kalsel, sedikitnya terdapat 21 bangunan di Banjarmasin yang mengalami ambruk sepanjang 2018 hingga 2021. Teranyar, insiden serupa menimpa hunian semi-permanen milik Atika di Jalan Melati Indah I Jalur I Nomor 08 RT. 30 RW. 02, Kelurahan Sungai Lulut, Kecamatan Banjarmasin Timur, Kota Banjarmasin. (jejakrekam)

Penulis Asyikin
Editor Afdi Achmad

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.