Husairi Abdi

Manulung Warik Tagapit

0

Oleh : Noorhalis Majid

SEGALA budi baik yang diterima, mestinya dibalas pula dengan kebaikan. Ternyata, ada orang yang tidak pandai membalas budi.

SUDAH diberi kebaikan, namun kebaikan itu tidak berbekas – tidak ada balas budi, bahkan dicurigai – seolah ada maksud terselubung dibalik kebaikan, itulah yang dimaksud manulung warik tagapit.

Menolong kera terjepit, begitu arti harfiahnya. Rupanya, kera kalau ditolong lupa pada yang menolongnya. Entah benar atau tidak, yang pasti sifat kera dipinjam menyindir orang yang tidak pandai membalas budi.

Segala budi baik yang telah diterima, bukannya dibalas dengan kebaikan, malah tidak dianggap, bahkan bisa saja dibalas dengan kejahatan.

Manusia tentu bukan kera yang dianggap tidak tahu berterimakasih. Manusia adalah makhluk sosial berbudaya. Segala kebaikan yang diberikan orang lain, hendaknya dibalas dengan kebaikan pula.

BACA : Gelar Diskusi Virtual Buku Tentang Budaya Lokal, Noorhalis Majid Apresiasi Dispersip Kalsel

Bahkan, bila perlu, kejahatan dibalas dengan kebaikan. Karena kejahatan sering kali justru kalah dengan kebaikan. Kalau tidak mampu membalas kejahatan dengan kebaikan, setidaknya jangan sampai membalas kebaikan dengan kejahatan.

Hanya saja, manusia yang berbudaya tersebut, sering lupa dengan budayanya. Bertindak kejam, bahkan lebih kejam dari binatang. Betapa banyak kita mendengar kasus tindak kejahatan, dilakukan pada orang yang telah berbuat baik pada pelakunya.

Setelah ditolong, justru mencelakai. Sudah dibantu, malah menyingkirkan, mengata-ngatai, memfitnah yang tidak sepantasnya. Kebudayaan, bukan hanya diucapkan, tapi dipraktikkan dalam laku dan perbuatan. Salah satu ciri manusia berbudaya, tahu dan pandai berbalas budi.

BACA JUGA : Teranyar ‘Dijamak Jibril’, Dokumentasikan Paribasa Banjar Berisi Nasihat dalam Tiga Buku

Bila menerima kebaikan orang lain, jangan menunggu lama, segera balas kebaikan tersebut. Jangan selalu meletakkan diri pada posisi penerima kebaikan saja, tidak pernah membalas kebaikan dengan perbuatan baik lainnya.

Sekalipun tidak memiliki banyak kemampuan finansial, ada banyak cara membalas kebaikan orang lain. Ulurkan tenaga, pikiran dan atau minimal perhatian, pada orang yang telah memberi bantuan.

Balas segala bentuk kebaikan dengan bentuk kebaikan serupa. Berikan kebaikan secara seimbang dan proporsional.

Ungkapan ini memberikan nasihat – pembelajaran, agar pandai berbalas budi, tahu bagaimana cara berterimakasih atas kebaikan yang sudah diterima, jangan sepelekan kebaikan orang lain, karena manusia makhluk berbudaya, jangan seperti manulungi warik tagapit. (jejakrekam)

Penulis adalah Pemerhati Budaya dan Bahasa Banjar

Staf Senior Lembaga Kajian Keislaman dan Kemasyarakatan (LK3) Banjarmasin

Mantan Kepala Perwakilan Ombudsman Provinsi Kalsel

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.