Manjilat Burit

0

Oleh : Noorhalis Majid

SUKA merendahkan diri sendiri, dengan berlaku seperti budak – jongos. Melakukan apa saja yang dapat menyenangkan hati orang yang dianggap tuannya.

MEMUJI berlebihan, berusaha mencari muka, agar mendapat tempat dan kedudukan, itulah yang dimaksud manjilat burit.

Menjilat pantat, demikian arti harfiahnya. Tentu bukan menjilat dalam pengertian sebenarnya, karena pantat merupakan saluran pembuangan pada organ tubuh, tidak pantas dijilat.

Dipinjam sebagai perumpamaan, atas tindakan merendahkan diri – melakukan apa saja, untuk mencari muka, asalkan tercapai yang diinginkan. Bahkan begitu rendahnya, dikiaskan – sekalipun disuruh menjilat pantat, akan dilakukan.

Ungkapan ini ada, karena tindakannya juga ada. Dalam mengejar karier misalnya, saat kapasitas tidak dapat diandalkan berkompetisi. Dicari cara lain, cara mudah, dengan menghambakan diri, menempel pada tuan pemilik kuasa, sekalipun harus menjadi budak.

BACA : Teranyar ‘Dijamak Jibril’, Dokumentasikan Paribasa Banjar Berisi Nasihat dalam Tiga Buku

Walau perbudakan sudah tidak ada lagi, tapi mental dan sikap budak, masih banyak yang mau melakukan. Asal tujuan tercapai, apapun mau dikerjakan.

Sebaliknya, gayung bersambut. Masih banyak yang mau dijilat, dipuji setinggi langit, walau tahu hal tersebut berlebihan – lebay. Karena dipuji itu bagi yang suka, atau “ambungan” – sangat menyenangkan, membuat hati berbunga.

Akhirnya, mau saja dipuji sedemikian rupa. Sebaliknya, alergi dengan kritik. Padahal, tidak semua yang manis itu madu, dan tidak setiap yang pahit itu racun. Boleh jadi sebaliknya, yang pahit adalah obat, dan yang manis adalah racun.

Pujian yang berlebihan, dapat saja menjerumuskan. Begitu pun kritik yang sangat tajam, bisa jadi menyelamatkan. Kawan yang baik, akan tetap obyektif.

BACA JUGA : Peribahasa Banjar untuk Kritik Pembangunan di Kalsel

Menyampaikan yang memang baik dan mengapresiasinya, karena hal tersebut juga penting untuk menambah motivasi. Serta memberikan kritik pada yang tidak baik dan salah, agar tidak bertambah salah dan masih bisa diperbaiki.

Ungkapan ini memberikan pelajaran, ada orang yang mau merendahkan diri – serendahnya, sampai tidak ada harganya, hanya bisa memuji – mencari muka, untuk mendapatkan yang diinginkan.

Jangan cepat terbuai, jangan pula mengira itulah pengikut setia. Boleh jadi menjerumuskan, hanya untuk kepentingannya sendiri – apapun dilakukan, walau harus manjilat burit. (jejakrekam)

Buku Norhalis Majid

Penulis adalah Pemerhati Budaya dan Bahasa Banjar

Staf Senior Lembaga Kajian Keislaman dan Kemasyarakatan (LK3) Banjarmasin

Mantan Kepala Perwakilan Ombudsman Provinsi Kalsel

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.