Sejarah Panjang Masjid Kanas dari Kampung Alalak Besar

0

NAMA masyhurnya Masjid Kanas. Resminya usai diberi nama ulama berpengaruh di kawasan Alalak, KH Jahri Simin menjadi Masjid Jami Tuhfaturroghibin pada 1980-an.

NAMA masjid yang mengutip nama sebuah kitab karya Syekh Muhammad Arsyad Al Banjary (Datu Kalampayan) ditulis pada 1188 Hijriyah atau 1774 Masehi. Sebelum dipindah ke Alalak Tengah, Banjarmasin, awalnya Masjid Kanas itu berdiri di Desa Tatah Masjid, Kecamatan Alalak, Barito Kuala (Batola).

Seiring pertumbuhan warga di Alalak Besar mencakup Alalak, Berangas, Pulau Alalak dan sekitarnya, akhirnya dipindah ke murung atau ulak-sebutan persimpangan tiga arus sungai; Sungai Barito arah Kapuas, Sungai Alalak (arah Kuin) dan Marabahan, Barito Kuala.

Dari salah satu empat soko guru (tiang utama) Masjid Kanas berdiameter 40 x 40 meter, tertulis awal berdiri tempat ibadah bagi masyarakat Alalak Besar ketika itu. Disebutkan berdiri pada hari Ahad, 11 Muharam 1357 Hijriyah atau  13 Maret 1938 Masehi jika dikonversikan dari tahun hijriyah ke masehi.

Foto bangunan awal Masjdi Kanas pada tahun 1934 dengan pose tokoh Alalak Besar dan anak-anak di masa itu. (Foto Dokumentasi Pribadi)

BACA : Mangatam Hari Raya, Mengumpulkan Derma dari Jamaah Shalat Ied di Masjid Kanas

Laiknya masjid-masjid tua di Tanah Banjar, bentuk arsitektur Masjid Kanas pun awalnya pada bagian atap berbentuk limas lancip, berundak tiga menggambarkan tahapan spiritual Islam Banjar; syariat, tarikat, makrifat menuju hakikat.

“Dulu sebenarnya, Masjid Kanas itu berdiri di tepi Sungai Alalak, karena terus abrasi dan ada pembukaan jalan, akhirnya bergeser ke tempat sekarang. Dulu di pinggir sungai, banyak pemakaman orang-orang dulu, tapi sudah dibebaskan,” ucap Kaum Masjid Kanas, Asmuni Ani kepada jejakrekam.com, Jumat (12/11/2021).

Gaya Masjid Kanas awalnya meniru model Masjid Sultan Suriansyah, Kuin Utara itu pada tahun 1934. Berubah seiring waktu dengan desain kubah bulat, seperti Masjid Jami Sungai Jingah diterapkan di Masjid Kanas pada tahun 1974.

Pembangunan awal Masjid Kanas pun tak lepas dari jasa seorang ulama besar di Alalak Besar ketika itu, H Marwan bin H Amin yang diyakini merupakan keturunan keempat dari Syekh Muhammad Arsyad Al Banjary.

BACA JUGA : Digerus Bahasa Banjar, Penutur Bahasa Berangas yang Kian Langka

Ada ritual sakral saat mendirikan empat pondasi utama Masjid Kanas. Usai kayu ulin yang didatangkan dari pedalaman Kalimantan Tengah dengan sampan, dibawa menuju anjir atau saka yang dibuat masyarakat. Terusan sungai kecil ini pun kini dinamakan Saka Dengen. Dengen dalam Bahasa Alalak Berangas berarti berang-berang. Ya, karena awalnya saka atau sungai kecil itu merupakan ‘habitat’ dari hewan semiakuatik tersebut.

Dereten para tokoh Alalak Besar dari ulama hingga pembekal yang membina Masjid Kanas. (Foto Dokumentasi Pribadi)

Saat itu, diceritakan Haji Marwan pun melaksanakan shalat sunat dua rakaat, hingga semalam suntuk dengan peralatan sederhana hanya dibantu dua bilah dan alat takal mampu mendirikan empat soko guru besar sebagai pondasi awal Masjid Kanas.

Berikutnya, untuk lantai dihampar pasir yang diambil dari Pulau Kembang untuk dipadatkan dan awalnya hanya beralaskan tikar dari bamban dan rumbia.

BACA JUGA : Perahu Pulau Suwangi Alalak yang Mendunia, Diawali Orang Nagara Kini Digeluti Generasi Keempat

Begitu banyak orang Alalak merantau ke Surabaya dan lainnya menjadi pengusaha sukses, mereka tak lupa mendonasikan dana untuk mempermak Masjid Kanas.

Asmuni Ani ingat betul ketika memoles Masjid Kanas, beberapa perahu dari Jawa pun bersandar ke dermaga masjid. Berkarung-karung semen, keramik, dan material bangunan lainnya diangkut dari Surabaya sekitar tahun 1970-an dan 1980-an.

“Kalau dilihat dari foto jadul, tergambar perubahan Masjid Kanas dari masa ke masa. Ini menunjukkan memang bangunan Masjid Kanas masih terjaga, terutama pada empat soko guru, mimbar serta sebagian bangunan lainnya,” tutur Asmuni.

Foto bangunan Masjid Kanas pada tahun 1990-an dan 1980-an terletak di Kelurahan Alalak Tengah RT 15 Banjarmasin Utara. (Foto Dokumentasi Pribadi)

Di masa kepemimpinan KH Jahri Simin bersama H Malik Marwan pun banyak perubahan mendasar pada bentuk bangunan. Namun, identitas kubah dihiasi buah nenas atau kanas dalam bahasa Banjar tetap dijaga. Ikon nenas itu dibentuk dari tajau belanga sumbangan H Jumain, salah satu tokoh Alalak Besar ketika itu. Hingga dipercantik dengan hiasan dedaunan dari seng tebal.

BACA JUGA : Bubuhan di Era Kesultanan Banjar, Diberi Gelar Pembekal, Kiai hingga Andin (2-Habis)

“Awalnya memang dipasang simbol bulan bintang disapu angin kuat, mungkin tak cocok ketika itu. Hingga akhirnya disepakati tokoh masyarakat Alalak Besar ketika itu diganti dengan tajau terbalik dan dibikin seperti buah nenas. Nenas atau kanas sendiri memiliki nilai filosofis sebagai pembersih.

Inilah mengapa orang-orang dulu berharap ketika memasuki Masjid Kanas dan beribadah, membuat hatinya menjadi bersih dari segala penyakit hati,” beber Asmuni.

Asmuni sedari muda menjadi bilal atau muazin di Masjid Kanas ini mengakui terhitung sudah tiga kali tim Cagar Budaya mendatangi sekretariat masjid. Entah kenapa, tak ada kabar lagi kelanjutannya.

“Kalau diukur dari umur sudah ratusan tahun. Tapi entah kenapa, Masjid Kanas belum dimasukkan dalam cagar budaya di Banjarmasin. Karena tidak ada status itu, akhirnya bentuk bangunan sedikit demi sedikit berubah,” ungkap Asmuni.

BACA JUGA : Laku Sufisme dan Jalan Suluk Warnai Bentukan Masjid di Tanah Banjar

Hingga Masjid Kanas pun dilengkapi menara untuk corong pengeras suara azan pada tahun1996, dan berikutnya dihiasi dua gerbang atau gapura pada 2007. Pada bagian kubah depan (paimaman) pun berdiri dua menara kecil saat renovasi pada 2008.

Bangunan Masjid Kanas sekarang dilengkapi dua menara kecil, serta penambahan bagian mihrab atau paimaman. (Foto Dokumentasi Pribadi)

Bagi Asmuni, keberadaan Masjid Kanas memiliki nilai sejarah besar bagi kawasan Alalak Besar dan sekitarnya. Bahkan, perjalanan sejarah yang panjang telah dilalui. Pernah melintas masa kolonial Belanda dengan hadirnya beberapa pejuang yang berani melawan penjajah di Benteng Tatas.

Begitu pula, di masa pendudukan Jepang, pernah beberapa tokoh Alalak menentang, hingga ditangkap dan dipenjarakan di Banjarmasin, dulu penjara itu ada di Kantor Pos Induk Jalan Lambung Mangkurat.

BACA JUGA : Islam Banjar Perpaduan Kultur Demak dan Samudera Pasai

“Halaman Masjid Kanas pun pernah jadi saksi pelatihan para generasi muda Alalak untuk melawan gerombolan serta PKI, ketika itu pada 1966-an. Alalak ini merupakan basis militan warga Nahdiliyin (Nahdlatul Ulama),” kenang Asmuni.

Rekaman sejarah itu masih diingat pria yang kini sudah menginjak usia hampir 70 tahun ini. Dalam Hikayat Banjar ditulis pada 1663, Halalak merupakan salah satu pemukiman tertua di Banjarmasin, hingga di era kolonial disebut Alalak Besar.

“Ya, Masjid Kanas menjadi bagian dari saksi bisu sejarah Alalak Besar menjadi Alalak Tengah sampai sekarang,” pungkasnya.(jejakrekam)

Penulis Didi GS
Editor Didi G Sanusi

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.