Lamang Kandangan nan Gurih, Penganan Khas HSS yang Wajib Dibeli Jadi Oleh-Oleh

0

TAK lengkap rasanya jika datang ke Kandangan, tepatnya ke Pasar Kandangan tanpa membawa oleh-oleh. Penganan terbuat dari beras ketan yang terkenal di ibukota Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS) adalah lamang, merupakan oleh-oleh wajib dibawa pulang.

LAMANG Kandangan, begitu biasa disebut memang sedikit berbeda dengan daerah lainnya. Bentuknya mungkin sama dibuat dari beras ketan yang dimasak dalam seruas bambu dilapis gulungan daun pisang, kemudian agar lebih gurih diberi santan sebelum dipanggang.

Proses pemagangan pun cukup memakan waktu, karena tidak harus berdekatan dengan sumber api, cukup hawa panasnya untuk mematangkannya. Deretan pedagang lamang atau lemang ini bisa dijumpai di Pasar Kandangan, Jalan Pangeran Antasari, ibukota Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS).

Agar lebih nikmat lagi, para penjual lamang pun biasanya menyediakan bumbu saus kacang atau sate sebagai pelengkap plus telur asin khas Kandangan.

Buka sejak sore, persisnya pukul 14.00 Wita, keberadaan para penjual lamang di Pasar Kandangan ini cukup mencolok dibanding dengan pedagang lainnya. Posisinya persis di pojokan Pasar Kandangan, tepi jalan utama pusat perbelanjaan rakyat HSS ini.

BACA : Kuliner Banjar; Refleksi di Ujung Lidah, Warisan yang Tak Boleh Luntur

Di bawah kios kecil yang menaungi, para pembeli pun bisa langsung menyapa, apakah naik motor atau berjalan kaki karena penjual lamang berjejer.

“Sudah puluhan tahun saya menggeluti penjualan lamang di Pasar Kandangan,” kata penjual lambang khas Kandangan, Rubiati (50 tahun) kepada awak media di Kandangan, Sabtu (13/11/2021).

Rubiati, pembuat sekaligus penjual lamang khas Kandangan di Pasar Kandangan. (Foto Iwan Sanusi)

Menurut dia, penjualan lamang bukan hanya eceran atau per potong, tapi juga bisa langsung memesan dalam jumlah banyak. Tempat mengolah lamang tak jauh dari Pasar Kandangan, di Kampung Pelantingan Kelurahan Kandangan, Kabupaten HSS.

BACA JUGA : Lambat Basi dan Lebih Diminati, Simak Keunggulan Beras Banjar

Rubiati bercerita lamang ini dibuat di rumah dengan mempekerjakan beberapa orang sejak subuh hari. “Pukul lima pagi sudah menyiapkan pembuatan lamang, dari daun pisang, beras ketan yang telah dicuci bersih kemudian dimasukkan ke batang bambu,” kata Rubiati.

Sebelum dimasak dengan cara dipanggang dari jauh sumber air, santan untuk menggurihkan lamang dimasukkan ke batang bambu.

“Proses untuk membuat lamang hingga masak itu butuh sekitar lima jam. Ya, sekitar pukul sepuluh pagi sudah matang,” kata Rubiati.

Saban hari, Rubiati mengaku biasanya membuat sedikitnya 100 bumbung lamang siap jual. Permintaan meningkat tajam tatkala memasuki bulan puasa Ramadhan.

“Kalau bulan puasa, bisa bikin 200 bumbung lamang, bahkan bisa lebih. Sebab, lamang juga menjadi menu wajib untuk berbuka puasa bagi masyarakat Kandangan dan sekitarnya,” beber Rubiati.

BACA JUGA : Dari Utuh Jadi Nanang Kebudayaan Kalsel, Nawas Syarif Ingat Pesan; Kandangan Cing Ai!

Selain juga menjual di Pasar Kandangan, ternyata Rubiati termasuk pemasok lamang bagi para pedagang lainnya. Menurut dia, tiap hari saat berdagang lamang di Pasar Kandangan, bisa ludes 50 bumbung. Untuk harga lamang seruas bambu besar dibanderol mulai Rp 50 ribu, Rp 75 ribu hingga Rp 100 ribu tergantung ukuran.

Tak hanya membikin lamang dari beras ketan putih, Rubiati ternyata juga mengolah penganan itu dari beras ketan hitam.

“Namanya, lamang hirang. Berbeda dengan lamang putih, dalam beras ketan itu sebelum dipanggang dimasukkan telur asin. Selain dinamakan lamang hirang juga kerap disebut lamang bahintalu,” papar Rubiati.(jejakrekam)

Penulis Iwan Sanusi
Editor Ahmad Riyadi

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.