Husairi Abdi

Atasi Banjir Jangka Panjang, Pakar Kota ULM Saran Banjarmasin Hidupkan Kembali Konsep Kanalisasi

0

IDENTITAS Banjarmasin sebagai kota kanal sebenarnya bukan kota sungai, mulai dilupakan. Tak mengherankan, jika kini masalah banjir, terendam atau ‘calap’ selalu menghantui ibukota Kalimantan Selatan seakan menjadi agenda tahunan.

KEPALA Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Banjarmasin, Fahruraji meminta warga kota mewaspadai air pasang tinggi yang terjadi belakangan ini. Terutama pada saat malam hari.

“Saat ini, Banjarmasin tengah dilanda air pasang tinggi dari laut yang masuk ke sungai-sungai hingga mengakibatkan genangan ke jalan dan permukiman daerah pinggiran sungai,” ucap Fahruraji kepada jejakrekam.com, Rabu (10/11/2021).

Ia mengakui hingga saat ini, ketinggian air pasang masih dalam kondisi wajar, tidak membuat genangan cukup tinggi. Namun, Fahruraji menyebut hal itu harus tetap diwaspadai.

BACA : 10 Kanal Warisan Kolonial Di Banjarmasin Tinggal Menunggu Ajal

Untuk di Banjarmasin, sedikitnya ada tujuh daerah aliran sungai (DAS). Yakni, Sungai Martapura, Sungai Barito, Sungai Kelayan, Sungai Jingah, Sungai Andai, Sungai Pekapuran, dan Sungai Lulut. Belum termasuk, kawasan Sungai Alalak yang berbatasan dengan Kabupaten Batola dan Sungai Kuin.

Sementara itu, pakar kota Fakultas Teknik Universitas Lambung Mangkurat (ULM), Akbar Rahman menyebut ada dua akar masalah yang dihadapi Banjarmasin.

“Kondisinya pun datang bersamaan. Yakni, siklus air pasang dan bersamaan dengan tingginya curah hujan,” ucap Akbar.

Doktor urban design Universitas Saga Jepang ini mengatakan naiknya debit air tentu yang paling terdampak adlah pemukiman warga, terutama berada di DAS yang ada di Banjarmasin.

“Naiknya air pasang itu menandakan permukaan tanah di Banjarmasin semakin menurun di bawah permukaan air laut. Nah, ada solusi yang tepat harus diambil Pemkot Banjarmasin,” ucap Akbar.

BACA JUGA : Dikembangkan Era Residen Krosen, Kisah Kanal Oelin Hingga Kanal A Yani (2)

Dia menyarankan agar pemerintah kota bisa segera menyiapkan wilayah tangkapan air atau area tampungan air. Sebab, menurut dia, selain sungai yang dangkal harus segera dikeruk, normalisasi sungai dilanjutkan maupun kedalaman dan lebarnya juga dibenahi.

“Masalah perkotaan seperti Banjarmasin adalah penanganan sampah. Karena, selama ini masih banyak warga menjadi sungai sebagai tong sampah. Sampah-sampah ini mengakibatkan pendangkalan serta pengendapan lumpur yang memang harus segera dikeruk,” ucap arsitek dari Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Kalsel ini.

Pakar Kota Fakultas Teknik Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Banjarmasin, Akbar Rahman. (Foto Dokumentasi pribadi)

Itu adalah solusi jangka pendek dan menengah di Banjarmasin. Akbar pun menyarankan untuk jangka panjang sebaiknya Banjarmasin mengembalikan identitas dirinya bukan hanya kota sungai, tapi juga kota kanal seperti yang pernah diterapkan di masa kolonial Belanda.

BACA JUGA : Jejak Sejarah Era Kolonial, Ihwal Banjarmasin Menjadi Kota Kanal (1)

Untuk diketahui, ada 10 kanal warisan Belanda yang dibangun pada 1770-1945,  kini terabaikan. Yakni, Kanal Sutoyo S (Teluk Dalam), Kanal Veteran, Kanal Raden (Antasan Raden), Kanal A Yani, Kanal Pirih, Kanal Benteng Tatas (Sungai Tatas/Masjid Raya Sabilal Muhtadin), Kanal Pangambangan, Kanal Besar (Jalan Anyar Mulawarman/Jalan Jafri Zamzam), Kanal Awang dan Kanal Bilu. Kanal-kanal ini pun terkoneksi ke Sungai Barito dan Sungai Martapura.

“Tak ada salahnya jika kita meniru konsep kanalisasi di Amsterdam Belanda. Walau kota itu di bawah permukaan air laut, namun bisa mengantisipasi banjir,” beber Akbar.

BACA JUGA : Pangeran Alie, Rumah Lanting dan Normalisasi Aliran Sungai Kuin

Ia memafhumi Belanda merupakan negara maju dengan sumber daya manusia (SDM) dan sumber dana, sehingga mampu membangun jaringan kanal. Termasuk, membangun bendungan yang mampu membendung air dari laut serta merekayasa ketinggian air dalam kota.

“Ya, jika meniru Amsterdam tentu butuh teknologi dan SDM yang lebih baik. Sekali lagi, Banjarmasin sebenarnya bisa meniru Amsterdam dengan cara mengkaji semua potensi yang ada ,” pungkasnya.(jejakrekam)

Penulis Asyikin
Editor Didi G Sanusi

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.