Tinggi Gunung, Tinggi Lagi Halalang

0

Oleh : Noorhalis Majid

MERASA sangat tinggi, lebih mampu, seakan berdaya dan mumpuni dibandingkan orang lain. Padahal, kenyataannya masih banyak yang lebih hebat dari orang tersebut.

TIDAK ada yang boleh mengaku lebih istimewa dari orang lain. Harus diingat, di atas langit masih ada langit, karenanya jangan mengaku lebih hebat, itulah makna tinggi gunung, tinggi lagi halalang.

Tinggi gunung, tinggi lagi ilalang, begitu arti harfiahnya. Setinggi dan seterkenal apapun gunung, ilalang lebih tinggi, karena ia tumbuh di atas tanah gunung.

Gunung tidak mungkin mengaku paling tinggi mengalahkan yang lain, kalau masih ada ilalang atau rumput, atau sekadar lumut yang tumbuh di atasnya.

Dipinjam sebagai sindiran terhadap orang yang merasa lebih tinggi dari orang lain. Sedangkan gunung yang besar dan terkenal saja, kalah oleh ilalang.

BACA : Kuliner Banjar; Refleksi di Ujung Lidah, Warisan yang Tak Boleh Luntur

Tidak ada satupun yang boleh sombong. Jangan sampai ada sedikit terbersit rasa sombong. Sehebat apapun kemampuan dalam satu bidang ilmu, pasti ada yang lebih hebat lagi.

Bahkan terkadang, orang yang mengaku jagoan, ahli bela diri dan kebal terhadap senjata, sering kali kalah hanya oleh orang biasa. Menggambarkan, sesuatu yang dianggap hebat, ternyata biasa saja.

Manusia sering lupa. Apalagi kalau sudah punya jabatan – dilayani, difasilitasi sepanjang waktu, godaan merasa seolah paling hebat, mudah datang. Belum lagi di sekeliling penuh puja puji – “ambung bakul”, pendek kata menjadi orang paling istimewa – di luar dirinya semua kalah.

Ketika kesombongan datang, berikutnya berbagai tindakan diskriminatif, kesewenang-wenangan, akan menyusul mengikuti sifat tersebut.

BACA JUGA : Teranyar ‘Dijamak Jibril’, Dokumentasikan Paribasa Banjar Berisi Nasihat dalam Tiga Buku

Berapa banyak pejabat yang sombong, mengambil kebijakan tanpa memusyawarahkan dengan kelompok terdampak. Bahkan arogan, menggunakan alat kekuasaan untuk memberangus, menyingkirkan semua yang tidak sesuai dengan seleranya.

Lupa, bahwa kekuasaan itu sementara saja, sependek masa jabatan, setelahnya akan kembali kepada masyarakat.

Ungkapan ini memberikan pelajaran, jangan sombong dengan apapun. Semua yang dimiliki akan hilang, kembali pada pemiliknya.

Kalau mau disadari, segala kebesaran dan ketinggian yang dimiliki hari ini, masih ada yang lebih dari pada itu. Lebih baik sederhana saja, karena tinggi gunung, tinggi lagi halalang.(jejakrekam)

Penulis adalah Pemerhati Budaya dan Bahasa Banjar

Staf Senior Lembaga Kajian Keislaman dan Kemasyarakatan (LK3) Banjarmasin

Mantan Kepala Perwakilan Ombudsman Provinsi Kalsel

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.