Lewat Haji, Diaspora Keturunan Banjar di Tembilahan Terhubung dengan Tanah Leluhur

0

ADA penelitian menarik diungkap Prof Dr H Raihani. Akademisi UIN Sultan Syarif Kasim (Suska) Riau menyebut ternyata kultur untuk naik haji juga mewarnai dispora urang Banjar di tanah rantau, terkhusus di Sumatera.

BERSAMA tiga rekannya; Irfan Noor (Akademisi UIN Antasari), Muhammad Iqbal (IAIN Palangkaraya) dan Supriansyah, sang asisten peneliti mendalami kultur religio masyarakat Banjar.

Hasilnya pun kini dibukukan berjudul Urang Banjar Naik Haji, setebal 237 halaman dengan sub kajian; Teks, Tradisi dan Pendidikan Nilai Kalangan Haji Banjar di Nusantara, cetakan Antasari Press, Pusat Penelitian dan Publikasi Ilmiah dari Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) UIN Antasari.

“Penelitian kami untuk mengisi kekosongan dalam kajian haji Urang Banjar. Kita mengetahui, angka antrean atau waiting list keberangkatan haji di Kalimantan Selatan sangat tinggi. Laporan Kemenag terbaru saja menyebutkan bahwa daftar tunggu haji sudah menyentuh angka 36 tahun,” ucap Raihani kepada jejakrekam.com, Senin (1/11/2021) malam.

BACA : Daftar Tunggu Haji Kalsel Sudah 36 Tahun, Kemenag Prioritas Berangkatkan CJH Tertunda

Doktor manajemen pendidikan dari The University of Melbourne ini mengatakan bisa dibayangkan betapa antusiasme masyarakat Banjar untuk berangkat haji.

“Sayangnya, kisah-kisah pengalaman keberangkatan haji Urang Banjar tersebut tidak direkam dengan serius. Buku ini hadir dalam cerita-cerita dalam kehidupan sehari-hari. Ditambah, banyak hal unik, lucu, indah, sedih, hingga berkesan lainnya yang terjadi dalam perjalanan haji Urang Banjar,” kata profesor asal Nagara, Hulu Sungai Selatan (HSS) ini.

Akademisi UIN Sultan Syarif Kasim (Suska) Riau, Prof Dr H Raihani.

Rahani yang juga mengecap pendidikan di IAIN (UIN) Antasari menyebut beberapa budaya haji di masyarakat Banjar sehari-hari seperti pakaian haji, babulang, hingga lawang sakiping. Atas dasar itu, penelitian mengenai tradisi Urang Banjar Naik Haji ini pun digagas Rahani dan kawan-kawan.

“Untuk temuan di Riau, atau lebih tepatnya Tembilahan, Kabupaten Indragiri Hilir, banyak kesamaaan tradisi yang dilakukan di Tanah Banjar (Kalimantan Selatan) juga diterapkan masyarakat keturunan Banjar di sini,” tutur peraih Master of Education in Curriculum Studies The University of Melbourne

BACA JUGA : Kolaborasi Empat Peneliti Muda Rekam Fenomena Budaya Urang Banjar Naik Haji

Raihani mengatakan, walau ada perbedaan dalam kultur masyarakat Banjar baik di Kalsel maupun di Riau. Namun kesamaannya adalah, menurut Raihani, haji selalu menjadi memori yang mengembalikan bagi masyarakat Banjar di Tembilahan untuk terhubung dengan asal-usul mereka sebagai Urang Banjar.

“Beberapa cerita yang menyebutkan bahwa perjalanan haji Urang Banjar mewarnai sejarah masyarakat Banjar di Tembilahan,” katanya.

Potret masyarakat Banjar naik haji di era kolonial Belanda bergabung dengan jamaah haji dari Nusantara. (foto Dokumentasi Mansyur)

Belum lagi, menurut Raihani, mereka juga terhubung dalam tradisi dan bahasa yang sama, sehingga jika berjumpa di Tanah Suci (Mekkah-Madinah) dengan masyarakat Banjar asal Kalimantan Selatan.

“Mereka serasa berjumpa keluarga yang sudah lama tidak berjumpa,” tutur Raihani, yang juga dosen tamu di University of Western, Australia.

BACA JUGA : Demi Naik Haji, Urang Banjar Tempo Dulu Rela Berlayar Pertaruhkan Hidup

Dalam kajiannya, Raihani menyebut Urang Banjar di Tembilahan, Riau juga memiliki niat religius yang kuat. Pastinya, gairah keberagamaan masyarakat Banjar sangat tinggi dari turun temurunnya.

“Haji adalah perjalanan ibadah yang banyak bersisian dengan dinamika kehidupan manusia. Kisah perjalanan haji banyak pelajaran di dalamnya. Selain itu, haji tidak sekadar ibadah, namun juga di dalamnya ada banyak cerita kemanusiaan,” pungkasnya.(jejakrekam)

Penulis Rahm Arza
Editor Didi G Sanusi

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.