Husairi Abdi

Salurkan Bakat Seniman Jalanan, Polda Kalsel Helat Lomba Mural Bertema Covid-19

0

PARA pelaku seni jalanan urban sempat mencurahkan kritikan di dinding kota, beberapa waktu lalu. Kritikan itu pun bernada soal penanganan pandemi Covid-19 yang berdampak bagi kehidupan warga.

DEMI bisa menyalurkan hobi, bakat dan inspirasi para bomber atau pemural, Polda Kalsel pun memberi wadah khusus. Para seniman jalanan ini pun ikut berpartisipasi dalam lomba Bhayangkara Mural Festival (BMF).

Bertepatan dengan HUT Humas Polri Ke-70, BMF digelar di dinding Kolam Renang Pelajar, Jalan Batu Tiban, Kelurahan Teluk Dalam, Kecamatan Banjarmasin Tengah, Banjarmasin.

Lomba adu kreativitas menggambar pola atau pesan bertema Covid-19 ini diikuti 18 peserta dari 13 kabupate/kota se-Kalsel. Masing-masing kabupaten dan kota maksimal mengutus dua ‘pelukis’ jalanan.

BACA : Sindir Lewat Gambar Empat Lalat Mencibir Enggang, Seni Mural Bukan Vandalisme

Kapolda Kalsel Irjen Pol Rikhwanto melalui Wakapolda Kalsel Brigjen Pol Mohamad Agung Budijono mengatakan, lomba ini sengaja dibuat sebagai bentuk sarana untuk menyalurkan bakat bagi para pencinta seni mural.

“Karena anak-anak muda kita ini banyak yang memiliki bakat seni, namun tidak tersalurkan dengan baik,” ucap jenderal bintang satu ini kepada awak media, usai meninjau lokasi lomba, Sabtu (30/10/2021).

Aksi seniman jalanan dari 13 kabupaten/kota di Kalsel saat melukis dinding di Kolam Renang Pelajar, Banjarmasin.(foto Iman Satria)

Dengan digelar lomba ini, Agung berharap masyarakat bisa melihat bakat-bakat pecinta seni mural. Tidak menutup kemungkinan akan meningkatkan perekonomian mereka.

“Jadi, apabila masyarakat ada punya lahan dan mau dibuatkam mural, tinggal memakai jasa mereka saja. Tinggal pilih saja temanya mau yang seperti apa,” ujar Wakapolda Kalsel ini.

BACA JUGA : Tak Masalah dengan Kritik, Walikota Klaim Siap Berdayakan Seniman Mural Banjarmasin

Salah satu peserta lomba BMF Imam Rinaldi berharap agar ke depan acara seperti ini lebih sering dihelat. Dengan begitu, para bomber atau pemural bisa menuangkan karyanya di dinding-dinding ruang kota.

Ia mengaku sudah lama menggeluti seni mural ini. Bahkan, Imam mengaku terbiasa melukis di dinding-dinding yang kosong, tentu dengan izin pemilik dinding.

“Saya mulai melukis sejak tahun 2008. Hari ini agak kesulitan melukis karena sempat hujan, beruntung hujan cepat reda,” kata peserta asal Rantau, Kabupaten Tapin ini.(jejakrekam)

Penulis Iman Satria
Editor Didi G Sanusi

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.