Badewa, Ritus Seni Pengobatan Masyarakat Bakumpai di Kalimantan

0

ADA kajian ilmiah diungkap Setia Budhi. Ketua Program Sosiologi FISIP Universitas Lambung Mangkurat (ULM) ini mengungkap seni pengobatan Badewa dalam masyarakat Dayak Bakumpai berkelindan dengan pengaruh keyakinan leluhur dan Islam.

BADEWA merupakan seni pengobatan yang diiringi musik dan tarian. Banyak penelitian pengobatan diiringi musik juga dijumpai hampir di Benua Asia dan Afrika,” ucap Setia Budhi kepada jejakrekam.com, Sabtu (23/10/2021).

Ia menjelaskan seni pengobatan tak hanya melibatkan pihak keluarga, tapi juga mengundang masyarkat umum. Karenanya, Badewa bisa dikategorikan sebagai ritual masyarakat. Ini karena banyak unsur dan simbolik, selain bahasa sangiang (bahasa Dayak kuno), mantra dan ekologinya.

Doktor antropolog lulusan University Kebangsaan Malaysia (UKM) ini mengungkap banyhak penelitian yang dilakukan para penjelajah maupun periset Eropa mengenai etnik, bahasa, budaya, agama serta ritual di Kalimantan.

Setia Budhi mencontohkan penelitian dilakukan Muller Schwaner pada 1818, hingga nama kedua peneliti ini pun diabadikan menjadi nama pegunungan di perbatasan Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah serta Kalimantan Timur.

“Melanjutkan penelitian Muller Schwaner juga dilakukan Anton W Nieuwenhuis (1894), Carl Afred Bock (1881), hingga Anna Tsing Kenneth Silander (1990), terutama mengenai Dayak dan Melayu di Pulau Borneo,” beber Setia Budhi.

BACA : Diaspora Orang Bakumpai dari Barito hingga ke Mahakam dan Katingan (1)

Hingga, beber dia, melahirkan sebuah istilah terotori Dayak dan Melayu. Sebab, menurut Setia Budhi, Dayak tidak hulu, ngaju atau pegunungan, karena sebenarnya juga berada di sungai, pesisir dan gambut.

“Sedangkan, Melayu adalah pesisir, sungai dan hulu, ketika ada yang menyebut Dayak Muslim. Ini dibuktikan dengan berdirinya beberapa kerajaan Islam di Kalimantan,” bebernya.

Pemukiman bantaran Sungai Barito, Dayak Bakumpai dalam potret lama. (Foto Wikipadea)

Sebut saja, Kerajaan Pasir (1516), Kerajaan Banjar (1526-1905), Kesultanan Kotawaringin, Kerajaan Pagatan (1750), Kerajaan Sambas (1617), Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura, Kesultanan Berau (1400), Kesultanan Sambaliung (1810), Kesultanan Gunung Tabur (1820), Kesultanan Pontianak (1771), Kerajaan Tidung (1076-1916), Kerajaan Tidung Kuno (1076-1551), Dinasti Tengara (1551-1916) hingga Kerajaan Bulungan (1731).

Terkhusus dalam kajian masyarakat Bakumpai, Setia Budhi menyebut asal mula atau rumpun etnisnya berasal dari Dayak Ngaju (Biaju). Utamanya dalam bahasa yang dituturkan merupakan rumpun DayakNgaju, sedangkan dari adat istiadat memang masih mempertahankan identitas kedayakan tapi juga dipengaruhi Melayu.

“Mayoritas orang-orang Bakumpai itu bermukim di sepanjang daerah aliran Sungai Barito, Sungai Katingan dan Sungai Mahakam. Artinya, mencakup tiga provinsi di Kalimantan, yakni Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur,” papar magister sosiolog Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta ini.

BACA JUGA : Haji Idrus, Tradisi Badewa dari Ritual Pengobatan Bertransformasi jadi Seni Pertunjukan

Ambil contoh, beber Setia Budhi, ada beberapa perkampungan yang dihuni masyarakat Bakumpai seperti Kampung Long Iran (Kaltim), Kampung Samba (Kalteng) dan Kampung Basahab (Kalsel). Ia tak memungkiri jika orang Bakumpai sangat identik dengan penganut Islam yang taat, namun tetap mempertahankan adat dan budaya.

“Salah satunya adalah dalam ritual pengobatan, pertanian, perikanan dan niaga. Termasuk, dalam pendidikan dan dakwah,” bebernya.

Atas dasar itu, Setia Budhi mengapa begitu erat hubungan antara orang Bakumpai dengan komunitas Banjar dan Dayak. Ini karena ada kesamaan dari segi bahasa hingga adat istiadat, termasuk dalam organisasi sosial.

Berebut mayang kelapa muda dalam tradisi Badewa di masyarakat Dayak Bakumpai. (Foto Gesni Sendita)

Mengenai ritus Badewa yang merupakan bagian ethno medical. Setia Budhi mengungkap ada metode yang digunakan selama ini oleh masyarakat Bakumpai. Seperti bahidu, basambur, badanum tawar, marubut panyakit, batatenga, papat mamang, baurut, hingga badewa.

“Tentu dalam istilah batatamba (pengobatan) atau jenis tatamba disesuaikan dengan penyakit dan pesakit (haban). Misalkan, haban buah taluh, misalnya memerlukan tatamba tertentu. Dalam hal ini, taluh dalam konsep penyakit sebagai penyebab sakit,” ucap Setia Budhi.

BACA JUGA : Badewa dan Mahelat Lebo, Bukti Kebangkitan Tarian Etnis Bakumpai

Khusus untuk Badewa, dosen senior ini menjelaskan adalah tindakan pengobatan pesakit (haban) karena pandewa (tabib) sudah memeriksa pesakit tidak dapat dilakukan penyembuhan dengan cara lain. Karenanya direkomendasikan tindakan pengobatan melalui ritual Badewa.

Ada beberapa indikasi mengapa Badewa harus dilaksanakan karena pengamatan pada pasien yang sakit. Terutama, karena buah dari taluh (teluh), buah guna (guna-guna), hingga perbuatan orang, pelet, sihir hingga parangmaya.

“Tentu saja, pasien ini sudah berobat secara medis, ternyata tidak sembuh. Ada pula karena adanya keturunan pesakit terkait warisan,” kata akademisi Ikatan Cendikiawan Dayak Nasional (ICDN) ini.

Sosok almarhum Haji Idrus, salah Pandewa yang melestarikan ritual Badewa. (Foto Donny Sophandi/Banjarmasin Post)

Setia Budhi menerangkan Badewa Manyanggar adalah tindakan pengobatan dengan melihat banyaknya keluarga yang memiliki keturunan terkena “pingit”. Pingit dalam hal ini merupakan istilah yang menggambarkan seseorang tampak sakit, meranyau, tidak stabil dan permintaan untuk dilakukan upacara.

“Manyanggar seperti batas waktu bagi keluarga keluarga yang mempunyai turunan melakukan upacara tahunan. Jadi, Badewa Manyanggar dilakukan pada bagian tahap akhir upacara yatu bagian Kakarabut Waring. Sebab, pohon Waringin dipercaya sebagai tempat tinggal para gana, taluh dan segala macam penyakit lainnya. Itu sebab waringin harus direbut dan dibuang jauh-jauh,” tutur Setia Budhi.

BACA JUGA : Batatamba, Menggali Ritus dan Metode Penyembuhan Penyakit di Tengah Masyarakat Bakumpai

Secara khusus, antropolog ULM ini membeberkan ada beberapa tahapan upacara Badewa seperti mengundang keluarga dan umba mamuat dilanjutkan dengan musyawarah keluarga atau hapakat.

Ada istilahnya tatenga atau 41 macam wadai atau kue menjadi persyaratan untuk disediakan. Ini agar tidak ada yang tertinggal. Hingga nantinya hapakat siapa saja yang umba mamuat, hapakat tempat menggantung acak sampai siapa saja yang akan ditatamba.

Seminar Badewa dihadiri dua akademisi ULM, Nasrullah dan Setia Budhi, beberapa waktu lalu. (Foto Dok Nasrullah)

“Lantas akhir hapakat adalah kapan acara selanjutnya dan siapa yang menyanggupinya. Baru tahapan berikutnya adalah persiapan alat dan pemain musik, sarun babun dan kakicak. Hingga persiapan panggung upacara, dawen (daun) sawang sebagai teteskop dan minyak serta tepung tawa,” ungkap Setia Budhi.

BACA JUGA : Etnis Bakumpai Lebih Dulu Menganut Islam Dibanding Masyarakat Banjar

Nah, ketika musik dimainkan maka pendewa (tabib)  akan bersama sahabatnya (kerasukan). Masih menurut Setia Budhi, ada delapan tahapan pengobatan dari ritual Badewa. Yakni, dawen sawang diusap minyak, kemudian dawen sawang diberi tanda cicak burung.

“Pasien pun diminta duduk membelakangi matahari terbenam. Atau pasien dalam posisi duduk atau tertidur, berikutnya pandewa memeriksa penyakit dengan menggunakan dawen sawang sebagai stateskop. Ketika penyakit ada, akan keluar melalui bagian kepala dan kemudian irubut dengan dawen sawang. Atau jika penyakit tidak mau terlepas, maka akan disiap. Penyakit yang keluar kemudian diletakkan ke dalam piring berisi beras kuning,” tutur Setia Budhi.(jejakrekam)

Penulis Didi GS
Editor Didi G Sanusi

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.