Baayun Anak dan Akulturasi Budaya Pra Islam

0

Oleh : Mansyur ‘Sammy’

BAAYUN Mulud  adalah acara tradisi mengayun anak ataupun orang yang telah dewasa, yang digelar dalam acara peringatan Maulid Nabi  Muhammad SAW, pada 12 Rabiul Awwal tahun Hijriyyah.

BERDASAR catatan sejarah dan kajian Jamalie (2014) menjelaskan Baayun Anak semula merupakan upacara peninggalan nenek moyang orang Banjar ketika masih beragama Kaharingan. Tradisi ini semula hanya ada di Kabupaten Tapin (khususnya di Desa Banua Halat Kecamatan Tapin Utara) kemudian berkembang dan dilaksanakan di berbagai daerah di Kalimantan Selatan.

Sebelum Islam masuk, orang-orang Dayak Kaharingan yang berdiam di Kampung Banua Halat biasanya melaksanakan upacara aruh ganal yang diikuti dengan prosesi Baayun Anak. Upacara ini dilaksanakan secara meriah dan besar-besaran ketika sawah menghasilkan banyak padi. Aruh ganal yang diisi oleh pembacaan mantra atau mamangan dari para balian dan dilaksanakan di balai.

Setelah Islam masuk dan berkembang serta berkat perjuangan dakwah para ulama, akhirnya upacara tersebut dapat diislamisasikan. Akulturasi terhadap tradisi ini terjadi secara damai dan harmonis serta menjadi substansi yang berbeda dengan sebelumnya, yaitu menjadi tradisi baru yang bernafaskan Islam.

Berdasarkan catatan sejarah yang ada, Islam diterima dan dinyatakan sebagai agama resmi kerajaan oleh pendiri kerajaan Islam Banjar, Sultan Suriansyah, pada 24 september 1526. Maka sejak itulah Islam berkembang cepat ke seluruh daerah di Kalimantan Selatan, terutama daerah-daerah aliran pinggir sungai (DAS) sebagai jalur utama transformasi dan perdagangan ketika itu, termasuk ke Banua Halat sekitar abad ke-16.

BACA : Tradisi Baayun Maulid di Kubah Basirih Diikuti Warga Pekanbaru

Setelah Islam masuk ke Banua Halat dan sebagian besar penduduknya telah memeluk agama Islam, maka kepercayaan-kepercayaan yang berbau animism, sedikit demi sedikit dihilangkan dan diganti dengan keyakinan terhadap Islam.

Pembacaan syair maulid Diba’ atau Syaraf Anam dalam tardisi Baayun Maulid di masyarakat Banjar. (Foto Muhammad Taufiqurrahman)

Tradisi Baayun Anak yang semula merupakan tradisi yang berbau animisme kemudian diislamisasikan melalui proses akulturasi dan transformasi. Dari Banua Halat tradisi ini kemudian berkembang ke daerah lain di Kalimantan Selatan.

Tradisi Baayun Anak atau Baayun Maulid yang setiap tahun digelar oleh masyarakat Banjar, yakni setiap tanggal 12 Rabiul Awal, memiliki kemiripan sejarah dengan berbagai budaya Banjar lainnya yang telah berhasil diislamisasikan (diakulturasi atau ditransformasi).

Desa Banua Halat, Kecamatan Tapin Utara Kabupaten Tapin Rantau (Kalimantan Selatan) sebagai pusat dan asal muasal dilaksanakannya tradisi Baayun Anak atau Baayun Maulid. Tradisi Baayun Anak atau Baayun Maulid mulai populer dalam masyarakat Banjar. Dilaksanakan secara seremonial (paling tidak oleh masyarakat di Banua Halat) dan menyebar secara luas ke berbagai daerah di Kalimantan Selatan sejak tahun 1990-an.

Tradisi Baayun Maulid sudah dikenal oleh masyarakat Banua Halat sejak lama seiring dengan masuk dan tersebarnya Islam ke wilayah ini dan sekitarnya. Pada tahun 1990-an, tradisi ini telah diselenggarakan oleh masyarakat setiap kali datang bulan Rabiul Awal.

BACA JUGA : Dikarang Habib Ali Alhabsyi, Tradisi Pembacaan Kitab Simthud Durar Membumi di Masyarakat Banjar

Versi lain Baayun Mulud di wilayah Banjarmasin adalah tradisi lama yang selalu digelar oleh keturunan raja Banjar. Acara  Baayun Mulud  ini pada  awalnya  sangat  erat  kaitannya  dengan  acara  bapalas bidan. Kemudian pada umumnya pelaksana Baayun Maulid ini untuk semua kalangan masyarakat. Sementara untuk peserta, terbagi dalam dua kelompok, yakni kelompok anak-anak (bayi) dan kelompok orang dewasa baik laki-laki maupun perempuan.

Terdapat beberapa syarat tertentu dalam pelaksanaan baayun maaulid. Hal ini terkait prosesi pelaksanaan dari kegiatan Baayun Maulid dapat dilihat dari waktu dan tempat kegiatan. Kemudian alat dan perlengkapan kegiatan serta makna simbolik perlengkapan.

Sebagai upacara yang dilaksanakan untuk mengungkapkan rasa syukur atas kelahiran Nabi Muhammad SAW, maka waktu pelaksanaan untuk upacara Baayun Maulid di Desa Banua Halat ini hanya dilaksanakan satu kali dalam setahun, yakni pada bulan maulid, bertepatan dengan tanggal kelahiran Nabi Muhammad SAW, yakni 12 Rabiul Awal.

Foto Masjid Al Mukaramah Banua Halat Tapin tempo dulu (Foto Apahabar.com)

Kemudian perlengkapan yang harus disediakan antara lain ayunan, hiasan atau kembang ayunan, wadai atau kue tradisional khas Banjar, piduduk, tangga manisan (tebu), dan lain-lain. Ayunan misalnya, biasanya terdiri dari tiga lembar kain panjang wanita (tapih bahalai) serta dua lembar terbuat dari kain sasirangan atau batik dan satu lembar kain kuning.

BACA JUGA : Baayun Maulid Ungkapan Rasa Syukur Kelahiran Nabi Muhammad SAW

Perlengkapan yang telah disediakan oleh setiap peserta kegiatan Baayun Maulid memiliki banyak makna dan nilai filosofis yang bisa menjadi pelajaran bagi masyarakat luas. Ayunan, melambangkan suatu tradisi khas kedaerahan (lokal) atau budaya khas dari kehidupan masyarakat (Dayak-Banjar); piduduk melambangkan berbagai hal yang berhubungan dengan kehidupan sehari-hari, seperti kecukupan bahan pangan, ikatan kekerabatan, lambing usaha atau etos bekerja, dan lain-lain.

Terdapat pantangan-pantangan yang harus dijauhi (pamali) oleh peserta Baayun Maulid serta berbagai hal yang berhubungan dengan makna perlengkapan yang harus dipenuhi oleh setiap peserta. Misalnya, ketidakbolehan menggunakan perlengkapan yang bergambar hewan hidup, jumlah perlengkapan yang harus dalamm hitungan ganjil, dan berbagai simbol lainnya yang memiliki makna maupun filosofis yang berguna untuk kehidupan anak nanti.

Maksud dan tujuan Baayun Anak selain didasari oleh motif-motif tertentu dalam mereka yang mengikuti tradisi ini juga memiliki tujuan-tujuan khusus. Daiantaranya bagi orang tua yang mengikutkan anaknya dalam pelaksanaan baayun maulid ini, ia berharap agar anak (bayi) yang diikutkan dalam Baayun Maulid tersebut, kelak jika sudah dewasa akan meneladani perilaku dan akhlak Nabi Muhammad SAW, dimudahkan hidupnya, dan selalu melaksanakan ajaran agama dengan baik.

BACA JUGA : Islam Banjar Perpaduan Kultur Demak dan Samudera Pasai

Baayun Maulid adalah bagian orang-orang yang berasal dari Desa Banua Halat yang tidak boleh ditinggalkan, jadi harus dilaksanakan di manapun mereka berada, sebab jika tidak dilaksanakan maka seorang anak (bayi) bisa sakit-sakitan.

Kemudian Baayun Maulid juga dilaksanakan dalam rangka untuk melaksanakan nazar, misalnya nazar apabila sembuh dari sakit (penyakit) atau terpenuhi apa yang diinginkan maka akan melaksanakan Baayun Maulid.

Peremouan Dayak Tapin dngan kerajinan anyaman (Foto Gorden313/Leiden Belanda)

Tradisi Baayun Anak ada dua macam, yaitu Baayun Anak atau bapalas bidan ini dilakukan oleh seseorang setelah anaknya lahir bisa dimulai dari umur 7 hari, 40 hari atu sesuai kemampuan keluarga tersebut. Kemudian Baayun Anak secara nazar atau niat. Secara umum Upacara Baayun Mulud adalah sebuah upacara yang ditunjukan bagi anak-anak menjelang dewasa, tepatnya ketika anak tersebut berusia 0-5 tahun. 

Khusus bagi peserta Baayun Maulid dewasa, ada juga yang melakukan Baayun Maulid untuk mempermudah mereka dalam mencapai tujuan yang belum didapat, misalnya mencari pekerjaan, jodoh, atau memperlancar karir.

BACA JUGA : Eksistensi Hantu dalam Kultur Masyarakat Banjar yang Islami

Baayun Anak adalah salah satu simbol pertemuan antara tradisi dan ajaran agama. Mengayun anak, jelas sebuah tradisi lokal yang dilakukan oleh masyarakat Banjar dan Dayak secara turun temurun dari dulu hingga sekarang untuk menidurkan anak-anak.

Sedangkan memberi nama anak, berdoa, membaca shalawat, ataupun membaca al Quran, dan silaturrahmi merupakan anjuran dan perintah agama. Kedua ritus, secara harmoni telah bersatu dalam kegiatan Baayun Anak, yang bahkan secara khusus dilaksanakan pada bulan Rabiul Awal sebagai peringatan sekaligus penghormatan atas kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Seiring perkembangan zaman, terdapat perkembangan Baayun Maulid sekarang. Walaupun tidak memudar tetapi terdapat dinamika. Terutama pelaksanaan upacara Baayun Maulid tidak sekadar ritual, tetapi juga sebuah festival budaya yang mempunyai potensi untuk meningkatkan kemakmuran masyarakat.

BACA JUGA : Diperkenalkan Imigran Yaman, Batapih Menjadi Simbol Islamisasi Masyarakat Banjar

Pasar Banua Ampat termasuk Banua Halat tapin (Foto Gorden313/Leiden Belanda)

Dengan dikembangkan potensi ekonominya, maka pelaksanaan upacara Baayun Maulid tidak hanya akan memberikan kebahagiaan secara rohani kepada yang melaksanakan, tetapi juga akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Terdapat perubahan baayun anak di tengah kontinuitas. Perubahan tersebut menyangkut pandangan masyarakat tentang praktik kehidupan dalam hal ini ritual Baayun Anak dikaitkan dengan perubahan-perubahan pengalamannya.

Perubahan-perubahan ini dijelaskan dari pergeseran nama dan bentuk ritual tersebut yang terkait dengan sisi ekonomi dan bagaimana struktur-struktur sosial yang ada berpengaruh pada eksistensi ritual Baayun Anak.

Peringatan maulid yang disertai prosesi maayun anak ini merupakan salah satu bentuk kegiatan maulid yang perlu kita pelihara dan lestarikan keberadaannya. Tradisi atau kebiasaan perayaan maulid memiliki ciri khas tersendiri dari masing-masing daerah di Kalimantan Selatan. Hal itu tentu saja menjadi kekayaan budaya islami bagi masyarakat.

BACA JUGA : Kitab Perukunan dan Sabilal Muhtadin, Bukti Ulama Banjar Berpengaruh di Dunia Islam Melayu

Hal yang tidak boleh dilupakan bahwa agar supaya keyakinan dan pemahaman masyarakat tidak bercampur dengan pengaruh animisme atau dinamisme yang masih ada dalam kegiatan Baayun Maulid.

Menjadi tugas juru dakwah, tokoh agama, tuan guru (ulama), dan tokoh masyarakat untuk meluruskan serta secara berkesinambungan menjaga nilai-nilai keIslamannya, dan memberi arahan, bimbingan, serta petunjuk kepada masyarakat tentang hal-hal yang tidak sesuai dengan ajaran Islam, agar mereka menjauhinya.(jejakrekam)

Penulis adalah Dosen Pendidikan Sejarah FKIP ULM

Ketua LKS2B Kalimantan

Pencarian populer:Kerajaan Dayak di kalimantan

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.