Husairi Abdi

Haji Idrus, Tradisi Badewa dari Ritual Pengobatan Bertransformasi jadi Seni Pertunjukan

0

SEPENINGGAL almarhum Haji Idrus, pendiri Sanggar Seni Sinar Pusaka, kini ritual Badewa yang kerap ditampilkan sebagai metode pengobatan sekaligus pelestarian tradisi Dayak Bakumpai pun kian meredup.

SELAMA Haji Idrus yang tinggal di Jalan Arya Bujangga, Berangas Timur, Kecamatan Alalak, Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan, satu dari sekian generasi pewaris tradisi Badewa. Walau Haji Idrus pun juga mendalami seni japen, kuda gepang, tari topeng, wayang kulit, dan musik panting yang ditampilkan Sanggar Seni Sinar Pusaka.

Kegelisahan ini terekam dalam seminar Badewa the Art Healing di Gedung LSBF SMAN 5 Banjarmasin, Kamis (21/10/2021). Ini karena tradisi Badewa yang dipegang erat sebagai ritual pengobatan memang telah bertransformasi menjadi seni tari pertunjukan.

Ada dua narasumber dihadirkan Setia Budhi (akademisi program studi sosiologi FISIP Universitas Lambung Mangkurat) dan Nasrullah (akademisi pendidikan sosiologi FKIP ULM). Diskusi kebudayaan ini dipandu dosen program studi pendidikan seni pertunjukan FKIP ULM, M Budi Zakia Sani.

BACA : Badewa dan Mahelat Lebo, Bukti Kebangkitan Tarian Etnis Bakumpai

Menurut Nasrullah, Badewa semula merupakan tradisi pengobatan, ternyata dalam perkembangannya dapat diubah menjadi seni pertunjukan yang ditampilkan di hadapan publik.

“Apakah Badewa tampil secara original sebagai tradisi pengobatan atau kalau sebagai tarian. Dalam tradisi orang Bakumpai dikenal ritual Batatamba (pengobatan) baik secara kelompok atau grup, terjadwal dalam waktu lama maupun massif, hingga personal dan insidentil,” papar Nasrullah.

Dari sini, beber dia, ada tradisi yang dilakukan masyarakat Bakumpai seperti berobat kepada orang alim (uluh alim), batabit, manyanggar lebu (bersih kampung) dan Badewa.

Tradisi Badewa di Desa Kabuau, saat para penari tengah kerasukan. (Foto Zaidin Muhammad)(

Sebelum membahas mendalam, magister antropologi dan sosiologi Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta ini mengurai apa itu Bakumpai. Menurut dia, arti Bakumpai pun sangat herbalis, sebab diambil dari kata kumpai tanaman rumput yang hidup di tepi sungai.

“Itulah sebabnya, orang Bakumpai sebagai bagian dari suku bangsa Dayak, sangat kuat dalam tradisi pengobatannya,” beber Nasrullah.

BACA JUGA : Batatamba, Menggali Ritus dan Metode Penyembuhan Penyakit di Tengah Masyarakat Bakumpai

Nah, ketika sosok Haji Idrus mempopulerkan Badewa sebagai seni pertunjukan tari. Nasrullah mengungkapkan sebenarnya adalah beberapa unsur yang harus ada dalam tradisi Badewa. Yakni, tabit atau pardewa, pasien, sacral atau trance (kerasukan) hingga praktik dan media pengobatan. “Berikutnya, tentu harus ada sesaji, tarian dan musik dalam tradisi Badewa,” katanya.

Nasrullah mengatakan ada hal penting dalam tradisi Badewa yang awalnya dari metode pengobatan menjadi seni pertunjukan ketika adanya legitimasi dan institusi untuk mentransfer dan memodifikasi Badewa sebagai ritual ke pertunjukkan tarian.

“Nah, ketika Badewa memang dipersiapkan untuk pertunjukan publik, maka ada bagian-bagian tertentu yang diambil. Sedikitnya ada dua unsur,” ungkap sarjana agama dari IAIN (UIN) Antasari Banjarmasin ini.

BACA JUGA : Etnis Bakumpai Lebih Dulu Menganut Islam Dibanding Masyarakat Banjar

Unsur assembling atau rakitan dari pertunjukan tarian Badewa mencakup unsur intinya; tabit, pardewa atau keturunan kemudian tarian pengobatan atau sesaji hingga penari.

“Sedangkan unsur luar terkait dengan adnya pentas, penonton, durasi waktu dan latihan,” kata Nasrullah.

Dalam sesi tanya jawab pun terungkap sepeninggal almarhum Haji Idrus, apakah tradisi Badewa yang kini jadi seni pertunjukan, meski tidak menghilangkan kesakralannya sebagai metode pengobatan dalam masyarakat Bakumpai.

“Harus kita akui, ketika ritual Badewa menjadi tarian maka nilai kesakralannya menjadi berkurang. Tapi tarian itu sendiri bisa menjadi gerbang bagi yang ingin mengkaji ritual Badewa maupun untuk melakukan pengobatan melalui Badewa,” ungkap Nasrullah.(jejakrekam)

Penulis Didi GS
Editor Didi G Sanusi

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.