Husairi Abdi

Kukurang Tambah Haja

0

Oleh : Noorhalis Majid

TIDAK ada bedanya, kurang lebih saja-mirip. Antara yang menuduh dengan yang dituduh, sama saja–tidak jauh berbeda. Begitu pun antara yang disalahkan dengan menyalahkan, tidak berbeda, sebelas-duabelas, itulah yang dimaksud kukurang tambah haja.

KURANG-kurang lebih saja, begitu arti harfiahnya. Sekalipun tidak sama persis, namun mirip, bahkan ada kecocokan–timbal balik, menggambarkan ada keselarasan pada banyak hal. Terutama menyangkut sifat negatif yang dapat membuat orang lain resisten–tidak suka atau kurang simpatik.

Biasanya digunakan untuk membandingkan karakter dari dua orang yang sifatnya tidak jauh berbeda. Tentu sulit mencari yang sama persis, namun sering kali bila pola tindakannya berbeda, sifat dan karakternya bisa jadi sama. Untuk menggambarkan kesamaan tersebut, ungkapan ini dipinjam.

BACA : Kuliner Banjar; Refleksi di Ujung Lidah, Warisan yang Tak Boleh Luntur

Hati-hati memberi label tertentu kepada orang lain, jangan-jangan label yang kurang lebih sama, juga ada dan tertuju pada diri kita. Pun jangan sampai melakukan stigma pada orang lain, boleh jadi stigma yang sama juga diberikan kepada kita.

Menyangkut hal-hal negatif, jangan suka memberi label pada orang, karena cepat sekali berbalik terkena diri sendiri. Misalnya, menuduh orang lain pelit, padahal dirinya sendiri tidak dermawan. Mengatakan orang lain pemalas, sementara dianya bukanlah orang yang rajin. Menyebut orang lain curang-tidak jujur, padahal dianya sendiri tidak transparan. Dan berbagai tuduhan lain pada orang lain, dengan mudah dapat berbalik pada diri sendiri.

BACA JUGA : Teranyar ‘Dijamak Jibril’, Dokumentasikan Paribasa Banjar Berisi Nasihat dalam Tiga Buku

Sebut dan ungkaplah hal yang baik-baik saja, agar muncul energi postif dan menjadi doa. Kalau pun ada hal yang negatif, cukup sekedar diketahui dan disimpan, tidak perlu diumbar. Terkadang dianggap tidak asyik kalau hanya menyebut yang baik-baik saja, sedangkan yang buruk juga banyak diketahui. Hal inilah yang menggoda untuk suka membicarakan perihal negatif.

Ungkapan ini memberikan pelajaran, berhati-hati mengata-ngatai orang lain, menyebut ini dan itu. Apalagi sampai memberi stigma–label tertentu. Bisa jadi hal yang sama, juga menempel pada diri yang mengata-ngatai. Apalagi dengan bersemangat mengumbar kejelekan orang lain, padahal jika dinilai secara obyektif, dirinya sendiri kukurang tambah haja.(jejakrekam)

Penulis adalah Pemerhati Budaya dan Bahasa Banjar

Staf Senior Lembaga Kajian Keislaman dan Kemasyarakatan (LK3) Banjarmasin

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.