Pasar Kupu-Kupu; dari Gemerlap Malam hingga Pasar Besi Bekas yang Digilas Zaman

0

SIAPA tak kenal dengan Pasar Kupu-Kupu. Pasar tempo dulu yang terletak di Jalan Bank Rakyat, persisnya dekat Hutan Kota Banjarmasin, terus menyepi. Dulunya, kawasan ini masyhur sebagai pusat hiburan malam yang ramai.

KENANGAN tersisa masih diingat Muslim. Pria yang kini berumur 62 tahun lebih ini mengaku pernah menjadi buruh kasar Pasar Kupu-Kupu yang dulu dihuni banyak pedagang pengumpul besi bekas. Juragan besi bekas ini pun lambat laun, meninggalkan usahanya. Ini seiring ketika pada awal 2000-an, pemukiman warga di Jalan Pos pun digusur. Sebagian warganya pindah ke Jalan AMD Permai, Alalak Utara, Banjarmasin.

“Dulu, memang Pasar Kupu-Kupu waktu siang dan malam hari sangat ramai. Kalau siang, banyak yang berjualan besi bekas. Boleh dibilang, orang kenalnya Pasar Kupu-Kupu itu karena pusat besi bekas, baik mesin kendaraan, kapal dan lainnya. Harganya memang lebih murah,” kata Muslim kepada jejakrekam.com, Jumat (8/10/2021).

Satu lagi terekam dalam memori Muslim. Dulu, banyak deretan kios sekaligus rumah yang diisi para pedagang atau pengumpul besi. Kini tersisa, hanya satu petak bangunan lawas. Lambang Kupu-Kupu serta papan nama berlambang serangga diurnal itu. Selebihnya, banyak bangunan baru hasil permak pemiliknya.

BACA : Demi Adipura, Kawasan Eks Pasar Kupu-Kupu Ditata

Kenapa dinamakan Pasar Kupu-Kupu? Muslim pun terkekeh. Menurut dia, sebenarnya ada kisah gelap dengan keberadaan pasar itu. Sebab, dulu sebelum sekarang ditata, Pasar Kupu-Kupu juga identik dengan perempuan malam. Tak mengherankan, jika malam hari jauh lebih ramai dibanding siang hari, karena saat itu pusat Kota Banjarmasin memang berada di seputaran Jalan Hasanuddin HM dan sekitarnya.

Bagian dari Pasar Kupu-Kupu yang tak terawat di tepi Jalan Bank Rakyat, Banjarmasin. (Foto Sugiharto Hendrata)

“Waktu itu banyak bioskop di kawasan Jalan Hasanuddin HM. Baik kelas sepatu mengkilap maupun bersandal cepal. Apalagi, di belakang bekas Gedung RRI (sekarang jadi hutan kota), dulu ada dermaga untuk speedboat dan jukung,” kata Muslim.

Ingatan Muslim ternyata sama dalam memori Fadli. Warga Alalak Tengah ini ingat betul, para orangtua dari Alalak ketika ingin ke Banjarmasin atau pusat kota, nekat mendayung jukung. “Dulu, bukan seperti jukung sekarang, besarnya ya seperti jukung getek. Nah, ada yang mengambil jasa mengantarkan sampai ke Pasar Kupu-Kupu. Makanya dulu disebut ojek dayung,” kata Fadli yang kini menginjak usia 58 tahun.

BACA JUGA : Nostalgia Hotel Bandjer, Berburu Tanggui di Pasar Kuin

Muslim pun mengakuri kisah itu. Menurut dia, memang karena ada dermaga di seputaran Pasar Kupu-Kupu, banyak orang datang ke lokasi itu. Pria yang akrab disapa Amang Imus ini mengaku tak tahu persis kenapa disebut Pasar Kupu-Kupu. “Mungkin karena ada lambang Kupu-Kupu atau karena memang dulu banyak wanita malam di sini. Ini juga kisah orang-orang tua dulu, dulu di kawasan ini merupakan tempat hiburan orang Belanda. Makanya, dinamakan begitu,” ucap Muslim, terkekeh.

Kejayaan Pasar Kupu-Kupu hampir mencapai tiga dekade. Sejak 1970 hingga 1990-an, ketika Banjarmasin, belum memiliki pusat perbelanjaan modern seperti sekarang. Namun, Muslim ingat betul, sebenarnya di era kolonial Belanda, Pasar Kupu-Kupu juga tersohor. Selain berdekatan dengan lokasi kampus Universitas Lambung Mangkurat (Unlam) yang kini telah menjadi Gedung Bank Mandiri, Jalan Lambung Mangkurat dan letaknya pun juga strategis.

BACA JUGA : Kemesraan Raffles dan Hare, Sang Penguasa Banjarmasin

“Ketika Pasar Kupu-Kupu ini memudar, sebagian pedagang atau pengumpul besi bekas banyak yang memilih pindah ke Kuin Selatan. Sekarang, hampir tak ada lagi yang berjualan besi bekas. Ya, sekarang jadi deretan warung biasa. Apalagi, generasi pertama Pasar Kupu-Kupu juga telah banyak yang meninggal dunia,” tutur Muslim.

Jadi warung makan dan kios jual beli besi bekas dan barang bekas di bagian tersisa Pasar Kupu-Kupu. (Foto Didi GS)

Pemerhati sejarah, Sugiharto Hendrata pun dalam postingan di akun facebooknya bercerita historis Pasar Kupu-Kupu. Selain merupakan pusat besi tua atau bekas. Ia mengisahkan sepanjang Jalan Bank Rakyat, saat itu berjejer petak-petak yang berisi para pedagang besi, biasanya lengkap dengan beragam alat pemotong besi dan alat las juga.

Untuk menuju kawasan ini dapat melalui Jalan Lambung Mangkurat, masuk sebuah jalan kecil di antara lapangan tenis dan Bank Mandiri. Bisa juga melalui Bundaran Koran di Jalan Hasanudin HM, dengan menyusuri jalan dimana terdapat lapak-lapak koran dan majalah, dari situ akan terlihat akses Jalan Bank Rakyat tepat di depan Gedung BRI.

BACA JUGA : Societeit de Kapel, Gedung ‘Setan’ dan Dugem Kulit Putih

“Pada masa lalu, sebelum menjadi sebuah kawasan perdagangan besi bekas. Di area ini  dapat ditemui tempat hiburan bagi orang-orang Belanda. Memasuki Jalan Pos (Pos weg) persis di pinggir Sungai Martapura  terdapat Gedung Sociated de Kapel. Sebuah gedung hiburan musik yang nantinya sempat beralih menjadi Gedung RRI sebelum akhirnya menjadi hutan kota,” tulis Sugiharto.

Gedung Societed de Kapel di era Kolonial Belanda yang kini jadi Gedung KNPI Kalsel di Jalan Lambung Mangkurat Banjarmasin. (Foto KITLB Leiden)

Ia menyebut lokasi tersebut memang tak jauh dari Fort Tatas (Benteng Tatas), tempat tinggal orang-orang Belanda atau Eropa di Banjarmasin pada masa itu. Berdekatan dengan gedung Societed de Kapel, hanya beberapa langkah, terdapat sebuah bangunan yang kemungkinan toponimi (asal usul penamaan tempat) dari sebutan Pasar Kupu-Kupu.

“Sebuah bangunan beton dengan sepasang daun pintu besi cukup lebar. Ditambah tiang dan ruas atap dari plat besi tebal sehingga tampak kokoh. Tampak di atas pada bagian depan dinding di bawah atapnya sebentuk gambar kupu-kupu yang cukup besar,” paparnya.

BACA JUGA : Melintas Batas Benteng Tatas, Dibina Inggris hingga Bumi Hangus

Sugiharto melanjutkan bangunan itu cukup unik karena dengan posisi di ujung dan diapit dua ruas jalan, sisi depan bangunan ini tidak menghadap ke Sungai Martapura sebagaimana yang lainnya.

“Namun kondisinya saat ini boleh dikatakan tidak terawat lagi. Sebagai saksi bisu perkembangan pembangunan di kota yang kini hampir 500 tahun. Mungkin dapat kembali direnovasi menjadi salah satu dari sedikit bangunan masa lalu yang tersisa di pusat Kota Banjarmasin,” usul pegiat sejarah Banjarmasin ini.(jejakrekam)

Penulis Asyikin/Didi GS
Editor Didi G Sanusi

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.