Husairi Abdi

Cegah Stunting, Kader Pangan Posyandu di Banjarmasin Dibekali B2SA

0

TIM Penggerak PKK Kota Banjarmasin bersama Dinas Ketahanan Pangan Provinsi Kalsel memberikan bimbingan teknis (bimtek) Pangan Beragam, Bergizi, Seimbang dan Aman (B2SA) bagi para kader posyandu Kota Banjarmasin di Pendopo Dinas, Rabu (22/9/2020).

BIMTEK ini dimaksudkan untuk mendorong kualitas kesehatan sekaligus mencegah angka stunting di kota banjarmasin melalui kader pangan. Kader pangan merupakan perpanjangan tangan pemerintah dalam tugasnya untuk mewujudkan ketahanan pangan di lingkungan keluarga.

Dengan pembekalan dilakukan untuk meningkatkan pengetahuan gizi pangan bagi mereka. Melalui pengetahuan tentang pangan itu, para kader pangan diharapkan dapat berkontribusi dalam meningkatkan indeks kesehatan kota, terutama untuk mencegah angka stunting di lingkungan masyarakatnya.

Ketua Tim Penggerak PKK Kota Banjarmasin, Hj Siti Wasilah memberikan materi tentang Tugas dan Peran Kader Pangan di Posyandu Meja 6 dalam Konsep Posyandu Banua. Ia menjelaskan, saat ini di Posyandu Kota Banjarmasin sudah terbentuk 6 sampai 7 meja.

BACA : Dirjen Bina Bangda Sosialisasikan Penurunan Stunting dan Pengendalian Inflasi

“Sebagaimana yang telah diamanatkan dalam Permendagri Nomor 19 Tahun 2011 tentang Pedoman Pengintegrasian Layanan Sosial Dasar di Pos Pelayanan Terpadu yang terdiri dari 7 kegiatan yakni, pendaftaran, penimbangan,  pencatatan atau pengisian KMS, penyuluhan kesehatan, pelayanan Kesehatan, percepatan penganekaragaman pangan dan peningkatan perekonomian keluarga,” kata dokter ini.

Istri Walikota Ibnu Sina ini berharap, keberadaan kader pangan ini segera disahkan, dan dapat berkontribusi sesuai dengan tugas pokok dan fungsi (tupoksi).

“Mudah-mudahan setelah kegiatan ini kader pangan ini bisa di-SK-kan oleh pemerintah kota dan mereka bisa bekerja dengan lebih baik lagi sesuai dengan tupoksinya,” ujar Hj Siti Wasilah.

BACA JUGA : Meski PPKM Level 4 Diperpanjang, PTM di Banjarmasin Tetap Dilanjutkan

Untuk diketahui, stunting adalah adalah kondisi tinggi badan anak lebih pendek dibanding tinggi badan anak seusianya. Di Indonesia, kasus stunting masih menjadi masalah kesehatan dengan jumlah yang cukup banyak Hal ini disebabkan oleh kekurangan gizi kronis dengan manifestasi kegagalan pertumbuhan (growth faltering), yang dimulai sejak masa kehamilan hingga anak berusia 2 tahun.(jejakrekam)

Penulis Siti Nurdianti
Editor Didi G Sanusi

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.