Siasat Petani Hiyung Tangani Lahan Saat Karhutla

0

UPAYA melindungi perkebunan dari kebakaran lahan, Junaidi petani cabai hiyung, memiliki siasat dalam menanggulangi bencana tahunan tersebut.

KETUA Asosiasi Cabai Rawit Hiyung itu menjelaskan, kondisi lahan gambut sekarang mengalami musim kemarau. Memasuki fase kemarau, diakui Junaidi, sebenarnya sangat menguntungkan bagi petani Hiyung, ketimbang musim hujan yang beresiko menyebabkan kerusakan pada bibit tanaman.

“Status kondisi lahan gambut di desa Hiyung ini memasuki musim kemarau. Tentunya, musim ini sangat menguntungkan bagi petani cabai, berbeda dengan musim hujan maka perolehan dari 25% pendapatan bisa berkurang,” ucap Junaidi kepada Jejakrekam, pada Minggu (19/9/2021).

BACA: Bank Kalsel Bersama Pemkab Tapin Dukung Produktivitas dan Kualitas Petani Cabe Hiyung

Menurutnya, pengelolaan lahan berbasis gambut lestari ini tetap memakai kaidah yang ramah lingkungan agar tidak mudah terbakar. Junaidi khawatir jika pengeringan tak bisa dikontrol dengan baik maka ancaman terbesar adalah karhutla.

“Bahaya terbesar kita adalah bencana karhutla yang dapat melahap ratusan hektar lahan di sini,” ujarnya.

Junaidi sering berkoordinasi dengan BPBD Kabupaten Tapin saat menanggulangi kebakaran lahan maupun banjir yang melanda desanya.

“Bersama tim BPBD Kabupaten Tapin, serta relawan masyarakat yang terdiri dari 7 kelompok Barisan Pemadam Kebakaran (BPK) di desa Hiyung, kami bergotong royong menanggulangi kebakaran lahan dan hutan,” ucap pria kelahiran 1969 itu.

Untuk luasan lahan, Junaidi menyampaikan bahwa terdapat kisaran 50% untuk kawasan lahan gambut dan 75% ditanami kawasan cabai rawit hiyung.

“Upaya perawatan lahan gambut, kita menggunakan pemasangan mulsa alami (tradisional). Kita memanfaatkan rumput yang ada itu menjadi peletakan di atas permukaan tanah sebagai penutup,” kata Junaidi.

BACA JUGA: Sekdaprov Kalsel Ingatkan Pentingnya Pencegahan Karhutla

Junaidi bilang, penggunaan mulsa alami itu perlahan menjadi pupuk yang dihasilkan untuk penyuburan tanaman. Sementara, daerah lainnya di Kabupaten Hulu Sungai Selatan dan Tabalong, menggunakan mulsa plastik. “Tahapannya, kita persiapkan lahan yang kemudian proses penyemprotan menggunakan Tricho Dharma. Langkah selanjutnya, pembersihan samping bedengan,” jelas Junaidi.

Setelah itu, Junaidi melakukan pembuatan lobang penanaman dengan jarak 50-50/50-70 per meter. “Dengan jarak yang sudah ideal, kita membuat pupuk kandang-kapur. Setelah prosesnya itu, kita menyiapkan bibit hiyung yang tersedia untuk ditanam.”

“Terkait pengeringan, itu benar-benar terjadi kalau musim kemaraunya di bulan Juli ini. Kalau parah itu di bulan Agustus dan September yang dapat membakar lahan dan hutan,” jelasnya.

Diakui Junaidi, rata-rata kondisi para petani hiyung dalam keadaan sehat ketika bercocok tanam di lahan gambut. Ditengah itu, dia mengatakan bahwa lahan perkebunan petani hiyung berdekatan dengan perusahaan sawit.

“Terkait operasi perusahaan di sini, lebih dominan yaitu perusahaan sawit. Dari desa sebelah itu, terdapat banyak perkebunan sawit.”

BACA LAGI: Sudah 300 Hektare Lahan Terbakar, Titik Api Terbanyak di HSS dan Tapin

Dia menuturkan jaraknya cuma 5 Kilometer dari lahan perkebunan cabai rawit hiyung. Apalagi setiap musim kemarau, Junaidi mengkhawatirkan lahan mereka dapat mudah terbakar.

“Apalagi kalau musim panen tiba, kita takut itu terbakar. Jadi, setiap lahan pertanian kita jaga ketat,” tegas Junaidi.

Adapun penyebab banjir di Desa Hiyung, Junaidi menjelaskan muasal dari air pegunungan yang mengalirkan ke muara hilir. Kebetulan, kata Junaidi, Desa Hiyung merupakan wilayah terakhir yang menjadi titik terhenti turunnya air pasang.

“Walaupun di desa ini banyak sungai, namun persoalannya kata orang Tapin sini menyebutnya Halin (semak yang rimbun). Upaya kami sudah melakukan pembersihan sungai, yang menjadi masalah yaitu titik sungai yang banyak dan sulit disentuh.”

Junaidi menyebut lebar luasan sungai yang cuma 3-4 meter itu terdapat 50 titik sungai yang tersebar.

“Jadi yang dibersihkan oleh warga cuma di titik utama tepi jalan raya. Dan sebelumnya, pemerintah kabupaten Tapin sudah menanggulangi itu,” ungkap Junaidi.

Junaidi bilang, pihak pemerintah Kabupaten Tapin merehab bangunan seluas 25 hektar dengan cara meninggikan bedeng.(jejakrekam)

Penulis M Rahim Arza
Editor Ahmad Riyadi

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.