Iberamsyah dan Serumpun Pantun Kehidupan, Nominasi terbaik Anugerah Perpusnas RI

0

SASTRAWAN asal Kalimantan Selatan, Iberamsyah Barbary menyabet penghargaan karya sastra terbaik bersama 6 penggubah syair lama. Lewat buku Serumpun Pantun Kehidupan (SPK), ia meraih Anugerah Buku Terbaik II Tahun 2021 oleh Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas RI).

BERMULA, ada motivasi menulis pantun ini dengan sehubungan pertanyaan seorang guru dan kala itu acara bincang sastrawan bersama rekan para guru di acara Aruh Sastra Kalimantan Selatan (ASKS),” kata Iberamsyah.

Ia mengingat, acara ASKS entah yang ke berapa dan di mana, Iberamsyah pun lupa yang terkenang cuma dalam pertanyaannya.

“Saya senang membaca pantun, tapi saya bukan sastrawan, dan saya tidak bisa membuat pantun. Kalau bicara dengan murid kita hanya membacanya, dan tentu tidak bisa menguraikan sepenuhnya arti dan makna, pesan dan filosofi yang terkandung dalam pantun tersebut,” tuturnya.

BACA: Sekelumit Riwayat Aruh Sastra Kalimantan Selatan (ASKS)

Seusai acara ASKS, Iberamsyah pun berpikir keras untuk menulis buku yang bisa menjembatani para guru-guru tersebut, “Walau tidak sekokoh yang diharapkan, tapi paling tidak ada titian untuk menyeberangi sungai rintangan itu,” ujarnya.

“Saya mulai bertanya dengan teman sastrawan, akademisi/praktisi yang kuanggap mereka mengerti tentang pantun. Mencari berburu buku-buku pantun di banua hingga Yogya dan Jakarta. Memang susah ditemukan, dan aku pun berkesimpulan; mungkin penulisnya tidak banyak, dan kalau pun diterbitkan tidak mempunyai nilai ekonomi bagi penulis,” ucap Iberamsyah kepada jejakrekam.com, pada Selasa (14/9/2021).

Menurutnya, bisa diartikan penggemarnya sangat minim, dan terlebih kalau disekolah sastra sudah tidak diajarkan, atau hanya menjadi pelajaran pelengkap.

Iberamsyah pun berkata, setelah mempelajari buku-buku yang diperoleh serta menata dan mencocokkan dengan masukan teman-teman, ia langsung mengerti dan memahaminya.

“Menjadilah tantangan diri untuk mewujudkannya. Sebagian besar buku pantun yang saya baca masih standar alur tuturnya sebagai puisi lama. Aku berketetapan hati untuk tampil beda dengan buku yang aku baca,” tutur pria kelahiran 1948.

Kesimpulannya, Iberamsyah membuat pantun yang jarang dibuat orang karena rada sulit dalam menentukan rima, sehingga orang jarang secara utuh membuatnya, yaitu Pantun Rima Perkata. “Saya menatanya sebagaimana puisi modern pakai judul atau tema, maka jadilah Pantun Tematik,” ungkapnya.

Bukan sekadar seperti puisi modern, Iberamsyah bilang agar alur tutur bersambung dan isi kandungannya tuntas mengupas tema, dan hingga para pembaca gampang memahami isi.

“Persis benar saya lupa, yang pasti untuk menjadi sebuah buku prosesnya sekitar 1 tahun lalu diterbitkan pada tahun 2016. Buku itu berpasangan,” jelas Iberamsyah.

Sebagai pasangan buku pantunnya, yaitu berjudul: “Membuka Jendela Pantun Kehidupan”. Kata Iberamsyah, buku itu isinya merupakan ikhtisar dari isi buku SPK dan diuraikan setiap larik baik sampiran maupun isi.

“Dengan 50 bait menjadi 2440 uraian. Halamannya menjadi 702 lembar. Itu diperuntukkan sebagai panduan buat pembaca pantun untuk memahami isi pesan yang terkandung. Kaitannya kalau guru ingin menjelaskan tentang isi dan pesan yang terkandung di setiap larik, bait, dan kesimpulan yang terkandung,” bebernya.

Ia menyampaikan bahwa buku Serumpun Pantun Kehidupan merupakan kumpulan pantun yang berisi 50 tema, “Setiap tema ada 12 bait pantun, dengan 251 halaman. Sebagai informasi ada tema wartawan,” ujar Iberamsyah.

BACA JUGA: Pertahankan Khazanah Kesenian Lokal dengan Program Belajar Bersama Maestro

Anugerah penghargaan yang diberikan oleh Perpusnas RI, Ibermasyah bercerita melalui seleksi ketat bersama para penulis buku pantun lainnya. “Di seleksi dari deposit khusus buku-buku pantun yang ada, bahwa informasinya sekitar 200 lebih. Dan buku SPK, masuk nominasi buku karya terbaik 6 besar Nasional.”

“Di hari Jumat kemarin, pada pukul 14.30 WITA. Acara pemberian anugerah diumumkan ranking nominasi itu, dan SPK mendapat peringkat ke. 2,” ucapnya bersyukur.

Kata Iberamsyah, pemenang mendapat plaket, surat penghargaan dan uang pembinaan. Acaranya dilaksanakan di gedung Perpusnas RI secara daring, yang berdomisili di Jabotabek pun bisa berhadir langsung dengan protokol kesehatan. Karena kita masih suasana covid-19.

“Mengingat pantun adalah warisan budaya Nusantara, merupakan akar tumbuh kembang dunia perpuisian atau sastra di Indonesia. Pemerintah dan masyarakat sastra hendaknya menjaga dan terus menumbuhkan kesadaran memasyarakatkannya, agar tidak tenggelam dalam arus budaya global yang semakin merambah,” harap Iberamsyah.

Perasaan sebagai anak Banua, kata Iberamsyah, tentu setelah menerima anugerah tersebut sangat senang dan bangga dapat menyumbangkan karya sastra mewakili Kalimantan Selatan. “Himung banar kada sakira, karya yang ditulis bisa batagas tampil secara menasional. Harapan mudahan jadi semangat motivasi penulis lainnya, utamanya para penulis generasi muda di Banua, bahwa kita bisa,” tandasnya.(jejakrekam)

Penulis M Rahim Arza
Editor Ahmad Riyadi

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.