Bau Jaringau

0

Oleh : Noorhalis Majid

ANAK muda yang belum banyak ilmu dan pengetahuan. Perlu menggali banyak pengalaman dan tekun belajar, melalui mendengar – mengikuti, menjalani dan berproses dalam banyak kegiatan. Jangan sok tahu, seolah sudah mengerti berbagai hal, itulah yang dimaksud bau jaringau, satu sindiran bahwa masih harus banyak belajar dan menggali pengalaman.  

JERIANGAU disebut juga jerangau atau dringo, jenis tanaman berbentuk seperti semak atau rumput tinggi, akar atau rimpangnya digunakan sebagai pengobatan. Hidup di daerah tropis dan sub tropis, menyukai tanah basah.

Diperkirakan berasal dari India, kemudian tersebar di seluruh wilayah dunia hingga ke Eropa, Amerika Utara, Rusia Selatan serta tentu Asia termasuk Indonesia, Cina, Jepang, dan Sri Lanka, sehingga memiliki banyak sebutan seperti sweet flag, sweet root, atau calamus, di India dikenal dengan sebutan vacha atau bajai, berbagai sebutan lainnya, dan dibanjar dinamakan jariangau. Dipinjam sebagai perumpamaan untuk menyebut anak muda yang masih terbatas pengalaman dan pengetahuan.

Entah kenapa meminjam jeriangau, mungkin karena jenis rumput dengan pokok batang yang lemah, mudah patah – tumbang dan sebagainya. Bisa juga karena tumbuhnya pada tanah yang mesti subur, tidak bisa di tanah gersang. Perlu banyak asupan dari tanah tempat ia tumbuh, seperti halnya anak muda, harus menyerap banyak pengetahuan dari lingkungan dan alam sekitar, tempat ia dibesarkan, sebagai modal dan bekal bagi hidupnya.

BACA : Teranyar ‘Dijamak Jibril’, Dokumentasikan Paribasa Banjar Berisi Nasihat dalam Tiga Buku

Bukan maksud merendahkan. Justru menguatkan, karena jeriaungau baunya khas, bagai ruput segar, menggambarkan kemudaan itu sendiri, berkhasiat sebagai obat. Sementara bila orang tua, biasanya meminjam arang, tanah liat, garam, dan lain sebagainya, mengiaskan ketuaan usia.

Ungkapan ini memberikan pelajaran, bahwa kalau usia masih muda, sebaiknya gali pengalaman dan pengetahuan sebanyak mungkin. Jangan malu bertanya, minta petunjuk dan bimbingan. Lebih baik banyak mendengar, melihat, menyimak, menggali berbagai pengalaman.

Dengan seperti itu, akan didapat pengetahuan. Tidak usah sok tahu, atau merasa sudah sangat pandai. Bagaimanapun, pengalaman tidak bisa dikejar, apalagi dibeli. Belajar sebanyak mungkin, karena usia muda, boleh jadi memang bau jariangau. (jejakrekam)

Penulis adalah Pemerhati Budaya Banjar

Aktivis Senior LK3 Banjarmasin

(Isi dari artikel ini sepenuhnya tanggungjawab penulis bukan tanggung jawab media)

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.