BTSD, Karya Novyandi Saputra; Bawa Gamalan Banjar ke Ruang Pop Urban

0

BEHIND The Show Derana (BTSD) akhirnya tayang di Kanal Youtube NSAPM pada Rabu (21/7/2021) malam, mulai pukul 20.30-21.40 Wita, usai mengalami penundaan. Pertunjukan musik daring karya Novyandi Saputra ini dikemas secara filmis.

DIDUKUNG NSA Project Movement dan Bias Studio, seluruh suguhan secara online itu berjalan cukup lancar dan sukses. Behind The Show Derana merupakan sebuah upaya menjaga eksistensi pekerja seni secara menyeluruh hingga mendapatkan sorot yang sama sebagai sebuah satu kesatuan yang utuh dengan pertunjukan utamanya (Derana) melalui media rekam video dan audio.

Derana sebagai sebuah karya musik adalah ruang garap Novyandi Saputra dalam upaya menghadirkan Gamelan (Gamalan) Banjar yang klasik ke ruang Pop yang urban. Teks-teks yang puitis menjadi ruang temu antara pentatonis dan diatonis. Eksotis nan romantis.

Ada enam lagu ditampilkan secara apik dengan iringan gamelan Banjar, petikan gitar dan suara seruling. Sang pencipta lagu, Novyandi Saputra mengungkapkan dari enam lagu itu, ada tiga lagu yang perlu dijelaskan. Khususnya lagu berjudul Luruh.

“Luruh ini diciptakan untuk pasangan hidup saya, agar selalu ingat berterima itu sangat penting. Karena dialah, saya harus menanggung untuk bekerja. Pentingnya berada di tengah, ada hal yang harus direlakan dan hal yang diajukan. Dedikasi ini untuk selalu percaya dengan pasangan agar selalu baik. Semua didedikasikan bagi semua orang agar menjadi orang-orang baik dan bermanfaat,”ucap Novi, dalam komentarnya.

BACA : Riset Mendalam Tiga Dosen Sendratasik ULM, Isi Lowong Kajian Ilmiah Lagu Banjar

Dalam amatan akademisi prodi seni drama, tari dan musik (Sendratasik) FKIP Universitas Lambung Mangkurat, Sumasno Hadi seperti terekam di staf.ulm.ac.id,  mengungkap sosok Novyandi Saputra merupakan seniman yang cukup displin dalam berproses kreatif.

“Selain kemampuan teknisnya yang baik soal musik gamelan, khususnya Gamalan Banjar, kapasitas jejaring sosialnya yang luas serta visi komunikatifnya pun sangat mendukung keberhasilan pertunjukan seninya selama ini,” urai Sumasno.

Menurut dia, dari sisi konsistensi sikap kreatifnya, Novyandi adalah seniman yang “keras kepala”, dalam arti terus memertahankan keyakinan kesenimananya. Ini nampak dalam hal bagaimana ia bertahan pada konsep dan bentuk pertunjukan “Derana”. Meski gagal bekerjasama dengan Taman Budaya Kalimantan Selatan, dengan segala konsekuensi substansial maupun materialnya.

BACA JUGA : Guru Besar Antropologi UGM Sebut Anang Ardiansyah adalah Orang yang Sangat Brilian

“Sikap “idealis” yang dapat dianggap lebih berdaya-tawar semacam ini, saya kira patut untuk kita apresiasi dan hormati. Terutama di tengah-tengah banyaknya sikap “pragmatis” yang lebih bertendens pada materi dan manfaat langsung,” begitu Sumasno berkomentar.

Lebih jauh, Sumasno memberi catatan dari BSTD dalam konsep dialog dan beban musikalnya. Menurut Sumasno, cakrawala gerak hidup manusia yang dialogis mengantarkan kita pada konsep dan bentuk pertunjukan BTSD karya Novi.

“Secara bentuk, pertunjukan BTSD dirajut oleh dua tonalitas atau modal musikal. Yakni musik diatonis (“musik Barat”) dan musik non diatonis (atau “pentatonis” Gamalan Banjar). Penyebutan istilah dalam tanda kutip itu, meskipun tidak tepat secara terminologis musik, namun paling mudah untuk kita pahami secara umum,” bebernya.

Sumasno melanjutkan, diatonis dan pentatonis, punya material-struktur musikal yang berbeda, pun punya sejarah dan dialektika budaya masyarakat pendukung yang berlainan. Wajah musik diatonis BTSD dapat kita temukan pada bunyi instumen suling/seruling (bambu) yang dimainkan oleh Sri Masrifah, gitar (akustik dan elektrik) yang dibawakan Ferri, serta bunyi vokal yang dinyayikan oleh duet Yoan dan Salma.

“Sedangkan wajah non diatonis dapat kita temukan pada bunyi istrumen musik yang bertumpu pada perangkat Gamalan Banjar. Di antaranya instumen dawu (gamelan Jawa: bonang) yang dimainkan sendiri oleh Novi, lalu sarun ganal (gamelan Jawa: saron) yang dimainkan Surya, sarun halus yang dimainkan Robby (ia juga memainkan kendang/ketipung), sarantam (gamelan Jawa: serentem) yang dimainkan Khalifaturridha,” paparnya.

BACA JUGA : Mencari Identitas Lagu Banjar, dalam Berkarya Musisi Harus Bebas Merdeka

Ia menjelaskan lagi, kedua tonalitas musikal tersebut teramat jelas menopang bangunan karya BTSD. Lantas, apakah dengan demikian bangunan musik BTSD menjadi kukuh, proporsional lagi estetik? Belum tentu. Sumasno mengamati pada susunan bentuk instrumentasinya, agaknya komposisi musik pada BTSD masih dapat kita lihat kekuatannya.

“Pada keenam komposisinya, seluruhnya dibangun dari pemilahan organologi instrumen musik yang bersifat opositif (berlawanan), namun seimbang. Di sana ada tiga perangkat gamalan Banjar (non diatonis) yang digunakan seperti dawu, sepasang sarun dan sarantam. Tiga perangkat diatonisnya dibebankan pada: seruling bambu, gitar akustik-elektrik, dan vokal. Inilah yang menjadi kekuatan awal komposisi BTSD, dari sisi susunan instrumentasi yang seimbang,” bebernya.

Meski punya potensi yang kuat, sayangnya Novi belum melanjutkan pada penyelesaian bunyi-harmonis yang “ideal”, sebagaimana bunyi yang menjadi bayangan estetis pendengar umum. Laras, harmonis, enak, dan indah. Persoalan ini, sepertinya lebih disebabkan oleh faktor organologis. Pada tritunggal alat tabuh gamalan, meskipun bernilai ganda: melodis sekaligus harmonis, namun performa akhirnya masih cenderung bersifat melodis belaka.

Bagi Sumasno, karena instrumen yang digunakan nampak jelas perbedaan tuning bunyinya. Antara dawu, sarun dan sarantam, masing-masing punya kuantitas frekuensi bunyi yang tidak tune in. Akibatnya, ketiganya tak memenuhi kualitas harmonis yang kerap dibayangkan oleh pendengar umum.

“Sebenarnya karakteristik akustika bunyi gamelan, memang sangat berbeda dengan alat musik diatonis yang absolute pitch. Pada sifat budaya alat diatonis, presisi frekuensi bunyi telah memiliki standar umum. Pada gamelan, relativitas bunyi menjadi konsekuensi dari sistem dan fungsi musiknya yang berbasis komunitas budaya (baca: kelompok seniman/penabuh),” tulis Sumasno.

BACA JUGA : Bunyi Banjar: Catatan Etnomusikologi Musik Banjar

Ia mengatakan persoalannya adalah, bunyi perangkat gamelan yang digunakan BTSD tidak menggunakan intrumen yang berbasis komunitas/seniman tertentu, sehingga masing-masingnya berbeda sistem bunyinya.

“Akibatnya, hal ini menimbulkan beban musikal yang amat berat bagi gamelan, untuk dapat berdialog dengan perangkat musik diatonis (seruling, gitar, vokal). Dampaknya bagi pendengar, sajian BTSD pun terasa menjadi sebuah konfrontasi (perang) bunyi, ketimbang dialog. Analoginya, meskipun punya tema atau wacana yang sama, namun bunyi musik gamelan dan diatonis belum menggunakan “bahasa” yang sama, sehingga posisi setara dalam dialog tidak tergapai,” imbuhnya.(jejakrekam)

Penulis Ahmad Husaini
Editor Didi G Sanusi

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.