Pesawat Pertama di Langit Borneo ; Poulet, Penerbang Prancis di Sungai Tabuk (1)

0

Oleh : Mansyur ‘Sammy’

KEBERADAAN pesawat di langit Borneo (Kalimantan) bagian selatan pada dasawarsa kedua abad ke-21 ini mungkin bukan lagi menjadi barang baru. Setiap hari si burung besi melewati angkasa. Deru mesinnya seakan akan menjadi pertanda keberangkatan dan kedatangan penumpang dari seberang pulau. Mewarnai angkasa di tengah arus modernisasi yang melanda dunia timur.

BERBEDA dengan seabad lalu, ketika pesawat Pesawat Caudron G-III dengan pilot dari Prancis, Etienne Poulet mendarat pertama kalinya di Bumi Antasari. Bak cerita epik yang membuat semua orang Banjar takjub. Inilah saksi bisu penerbangan pertama sebuah pesawat udara yang derunya membelah angkasa yang terhampar di belantara Borneo (Kalimantan).

Berawal dari rencana penerbangan antara dua benua, Eropa-Australia yang digagas Etienne Poulet dan Jean Benoist, penerbang Prancis, pada hari minggu tahun 1919. Poulet akan melakukan penerbangan sensasional sejauh 14.000 mil ke Australia melalui Roma, Salonika, Konstantinopel, Baghdad, Bushir. Kemudian ke Bombay, Calcutta, Bangkok, Singapura, Batavia ke Brisbane, Sydney dan lalu ke Melbourne. Demikian diberitakan Harian Dagblad van Zuid-Holland en ‘s-Gravenhage, edisi 24 September 1919.

Walaupun tidak meng-agendakan di awal, ternyata daya tarik wilayah Borneo sebagai wilayah di tengah hamparan kepulauan Hindia Belanda seakan menjadi tantangan buatnya. Wajar kemudian pada tanggal 24 Desember 1920, Poulet membuat agenda ke Banjarmasin. Saat itu Banjarmasin belum memiliki lapangan pesawat representatif. Lapangan Ulin saja baru bisa didarati pesawat berbadan besar (pesawat Douglas) lima belas tahun kemudian tepatnya setelah diresmikan Residen Moggenstorm tahun 1935.

BACA : Tragedi Ulin dan Haga Case; Jejak Genosida di Selatan Borneo

Sebelumnya Gubernur Jenderal Hindia Belanda telah memerintahkan pembentukan Komisi Dinas Lalu Lintas Udara. Bertujuan menunjang penerbangan sipil sejak Februari 1919. Pada November 1919, komisi ini mengajukan usul agar mulai 1 Maret 1920 diadakan suatu Dinas Pos oleh pesawat KNIL atau Angkatan Laut. Pemerintah setuju meski tak sanggup melaksanakan dengan baik Dinas Pos itu karena kekurangan pesawat. Oleh sebab itulah belum ada penerbangan ke Borneo.

Surat Kabar Deli Courant, edisi 24 Desember 1920 menuliskan seorang penerbang untuk pertama kalinya terbang di atas Kalimantan. Penerbang Perancis, Etienne Poulet telah lepas landas dari Surabaya ke Bandjermasin dengan pesawatnya. Poulet melakukan penerbangan ke Borneo bagian selatan dan mendarat mulus di lapangan berpasir. Tepatnya di wilayah Soengai-Taboek (Sungai Tabuk), yang berjarak sekitar 9 paal dari Kota Banjarmasin. Inilah saksi bisu penerbangan pertama sebuah pesawat udara di Borneo (Kalimantan).

BACA JUGA : Belanda Janji Kembalikan Berlian Sultan Banjar yang Dirampas ke Indonesia

Walaupun tempat pendaratannya terpencil, keberadaan area yang difungsikan sebagai  lapangan terbang dipuji oleh sang penerbang, Poulet. Lapangan di Sungai Tabuk ini dibangun dalam waktu singkat, dengan biaya yang relatif rendah. Terdapat versi dari masyarakat bahwa lapangan terbang tersebut saat ini letaknya di wilayah Sungai Tabuk Keramat, tepatnya di Lapangan Pasir Putih Sungai Tabuk.

Jalan yang melewati wilayah Sungai Tabuk pada tahun 1920 an dinamakan Jalan Martapura yang menghubungkan Banjarmasin melalui Sungai Tabuk hingga ke Martapura. Jalan lama ini walaupun agak sempit, mengikuti aliran sungai Martapura. Terdapat banyak bukit dengan banyak tikungan. Sejumlah besar dana yang dikeluarkan setiap tahun dipakai untuk membuat tanggul. Pada tahun ini jalan di sisi darat dilebarkan sampai satu meter.

Poulet tinggal di Banjarmasin selama lima hari. Masyarakat Banjar saat itu sangat antusias. Bahkan kontrolir Kota Banjarmasin, Christan ikut melakukan penerbangan pertama selama Poulet ada di Banjarmasin. Selama di Borneo bagian selatan, Poulet melakukan sembilan kali putaran penerbangan di atas langit Banjarmasin. Uniknya dengan penumpang bergantian, termasuk tiga wanita.

Surat Kabar De locomotief, edisi 30 Desember 1920 menuliskan Poulet telah mencapai kesuksesan luar biasa di sini. Meski letak lapangan terbangnya terpencil, banyak penonton dari berbagai daerah datang. Poulet melakukan atraksi penerbangan dengan mengajak 58 penumpang dalam tiga hari.

BACA JUGA : Jejak Kampung Amerong, Perkampungan Elit Eropa di Banjarmasin

Karena antusiasnya, bukan hanya dihadiri kontrolir, pemimpin Kota Banjarmasin, Residen Hens bahkan ikut hadir di lapangan terbang tersebut. Penduduk berduyun-duyun dari semua wilayah di Kalimantan untuk melihat penerbang terkenal. Selama lima hari, ribuan orang menyemangati penerbang terkenal asal Perancis tersebut. Demikian dikabarkan Koran Bataviaasch Nieuwsblad, edisi 22 dan 24 Desember 1920, dalam artikelnya “Poulet di Bandjarmasin”.

Hal ini terlihat dari dua dokumentasi foto KITLV, menunjukkan bahwa pemerintah Hindia Belanda menyambut baik kedatangan Poulet. Pada hari keberadaannya di Banjarmasin, begitu dielu-elukan perwakilan pemerintah Hindia Belanda maupun masyarakat Banjar. Bagai burung besi dengan pandangan takjub.

Keberadaan pesawat yang dipiloti Poulet menjadi atraksi pesawat menarik bagi ambtenaar Belanda maupun masyarakat yang melihatnya bagai tontonan langka seumur hidup. Masyarakat Banjar berkumpul di depan sebuah bangunan Bar dan Restoran di area lapangan udara Sungai tabuk.

Bahkan koran De Sumatra Post, edisi 30 Desember 1920 membuat berita bombastis. Kurang dari 96.000 orang menyemangati penerbang terkenal asal Perancis tersebut. Pasalnya, ini adalah penerbang pertama yang terbang di atas Kalimantan. Poulet sukses besar di Bandjermasin. Selanjutnya setelah beberapa hari Poulet berencana akan melakukan penerbangan ke Medan melalui Surabaya.

BACA JUGA : Dari Militaire Weg ke Jalan Kalimantan hingga Jalan S Parman

Dalam atraksi beberapa hari sebelumnya di Jogja, Pujian juga diberikan kontributor koran Bataviaasch Nieuwsblad edisi 9 September 2020 dan De Preanger-Bode edisi 07 September 1920. Poulet juga meraup sukses besar dan mendatangkan antusiasme masyarakat. Poulet disambut atas nama warga dengan pidato dan anggur kehormatan. Lagu Marseillaise dan Wilhelmus pun dikumandangkan.

Bahkan beberapa souvenir tokoh wayang yang indah ditawarkan kepadanya. Dari Jogja, kemudian Poulet akan berangkat ke Surabaya, melalui Semarang, Makasser, Bandjermasin, Medan dan Singapura. Disana ia akan menerima mesin barunya, untuk melanjutkan perjalanannya ke Australia.(jejakrekam/bersambung)

Penulis adalah Penasihat Komunitas Historia Indonesia Chapter Kalsel

Ketua Lembaga Kajian Sejarah, Sosial dan Budaya (SKS2B) Kalimantan

Dosen Prodi Pendidikan Sejarah FKIP ULM Banjarmasin

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.