Tragedi Ulin dan Haga Case; Jejak Genosida di Selatan Borneo

0

Oleh : Mansyur ‘Sammy’

SELAMA pendudukan tentara Jepang di Pulau Borneo tahun 1942-1945, hukum militer diterapkan terhadap semua penduduk. Apabila dianggap melanggar maka disiksa atau dibunuh.

TERLEBIH lagi, jika sengaja melakukan kegiatan secara jelas melawan tentara Jepang. Pemerintah tidak segan-segan melakukan penyiksaan, pembunuhan terhadap orang-orang yang dicurigainya dibantai tanpa bersalah. Mirip sebuah genosida ala Asia.

Hal ini dalam rangka pelaksanaan politik Nipponisasi. Sejak tahun 1942, Jepang mencurigai munculnya komplotaan anti Jepang yakni komplotan B.J. Haga di Kalimantan Selatan, dan kelompok Pattiasina/Syarif-Muhammad-Alkadri di Kalimantan Barat. Sebenarnya kedua gerakan perlawanan tersebut berkaitan, hanya saja eksekusi Jepang terjadi di tahun berbeda.

Sebagai penghubung, ada dua orang dari Banjarmasin dikirim ke Kalimantan Barat. Orang Manado Ir. Makaliwy dan Dokter Soesilo, seorang ahli malaria dan adik dari Dokter Soetomo pendiri Boedi Oetomo. Tugasnya, memberitahu permasalahan di Banjarmasin kepada para pemimpin di Pontianak dan sebaliknya, pada saat tugas dinas mereka ke Pontianak.

BACA : The Banjarmasin Secret; Berburu Harta Karun BJ Haga, Gubernur Borneo Tahun 1938-1942 (5-Habis)

Komplotan Haga adalah konspirasi antara tawanan sipil, tawanan militer, dengan pihak luar yang anti Jepang dan mengharapkan segera kembalinya pemerintahan Belanda-Hindia Belanda.

BJ Haga, Gubernur Borneo (tengah) berfoto bersama jajaran pembesarnya. (Foto : KITLV Belanda)

Gerakan ini dipimpin B.J. Haga, mantan Gubernur Borneo dalam tawanan di (Benteng) Tatas. Kemudian, ada pula 25 pembantu utamanya, di antaranya satu orang eks-Assistent Resident, dan 9 orang eks-Controleur dalam tawanan, istri Gubernur dan istri salah satu controleur mengatur di dalam.

Anggota-anggota komplotan yang bergerak di luar terdiri dari sejumlah pegawai aktif hingga orang-orang partikelir, Tionghoa dan Arab. Termasuk, C.M. Vischer, seorang warga Swiss, dibantu Z.C. Reischert, seorang juru rawat wanita warga Belanda.

BACA JUGA : The Banjarmasin Secret; Berburu Harta Karun BJ Haga, Gubernur Borneo Tahun 1938-1942 (4)

Sementara komplotan di Borneo Barat, berbeda dengan komplotan Haga. Komplotan Pattiasina/Syarif-Muhammad-Alkadri memiliki ambisi kaum pergerakan mendirikan Negara Rakyat Borneo Barat yang mengemuka setelah balatentara Jepang menduduki Borneo Barat ini. Tidak melibatkan tawanan. Hanya para Dokoh yang ikut serta ke dalam komplotan karena khawatir akan dihapus, jikalau terbentuk Negara Rakyat Borneo Barat.

Pembunuhan para korban peristiwa Mandor, tidak sekaligus melainkan bertahap dan ada kaitannya dengan komplotan anti Jepang pimpinan B.J. Haga di Kalimantan Selatan. Sebelum penangkapan besar-besaran tanggal 23 Oktober 1943, maka penumpasan disertai pembunuhan sudah dimulai sejak April 1943, dan berakhir sekitar Juli 1944.

Tentara Dai Nippon Jepang saat mendarat di Pulau Borneo yang menerapkan politik fasis. (Foto : Dokumentasi)

Alasan pembunuhan dilakukan pada April 1943, ketika itu di Banjarmasin sudah mulai terendus komplotan Haga  melawan Jepang. Adanya kerjasama komplotan ini sudah lama tercium  pimpinan balatentara Jepang. Pada 20 September 1943, sekitar 200 orang komplotan Haga dieksekusi di Lapangan Ulin Banjarmasin yang dikenal dengan Tragedi Ulin.

BACA JUGA : The Banjarmasin Secret : Berburu Harta Karun BJ Haga, Gubernur Borneo Tahun 1938-1942 (3)

Sementara Komplotan Pattiasina/Syarif-Muhammad-Alkadri serta penduduk tidak bersalah yang mencapai ribuan, dieksekusi bertahap hingga puncaknya 28 Juni tahun 1944 yang dikenal dengan peristiwa Mandor.

Jika jejak kekejaman Jepang di Kalimantan Barat terekam di Mandor, maka salah satu area saksi kekejaman tentara Jepang di Kalimantan Selatan adalah lapangan terbang Ulin, 28 kilometer dari Kota Banjarmasin.

Menurut versi harian Borneo Simboen nomor 324, tanggal 21 Desember 2603 atau 21 Desember 1943 diberitakan hukuman mati lebih dari 200 orang yang ditangkap. Antara lain orang Belanda, Indonesia dan Tionghoa, diantaranya mantan Gubernur B.J. Haga, C.M. Vischer seorang berkebangsaan Swiss, Raden Susilo yang telah berumur 50 tahun saudara kandung almarhum Dokter Soetomo; pendiri Budi Utomo, Housman Babu; mantan Gunco Sampit seorang pelopor suku Dayak dan pendiri Pakat Dayak.

BACA JUGA : The Banjarmasin Secret : Berburu Harta Karun BJ Haga, Gubernur Borneo Tahun 1938-1942 (2)

Berita tentang hukuman mati ini dilanjutkan lagi dengan berita Borneo Simboen edisi 2 Juli 2604 atau 2 Juli 1944, dimana diberitakan ditembak mati tokoh-tokoh masyarakat. Antara lain J.F.Fattiasina, Syarif Mohammad Alkadri; Sultan Pontianak dengan keluarganya, 12 orang Sultan di Kalimantan Barat, Dokter Roebini beserta istrinya dan beratus-ratus rakyat yang tidak berdosa dibunuh.

Demikian juga dalam sumber lain dari Ernst Braches yang menuliskan tentang “Bandjermasin Case, The Swiss Authorities and the Execution of Dr. C.M.Vischer and B. Vischer-Mylius in Borneo, 20 December 1943”, menuliskan tentang Situs Memorial Ulin.

Vischer dan pegawainya saat berfoto bersama di sebuah rumah. (Foto : Dokuemntasi)

Pada area Lapangan Udara Ulin, dekat Bandjarmasin (Borneo), mayat ditemukan beberapa pria dan wanita dari beberapa negara, dianiaya, disiksa dan dibunuh oleh Angkatan Laut Jepang pada tahun 1943 untuk pemenuhan tugas hukum mereka sebagai pegawai negeri sipil, dokter medis dan delegasi Palang Merah Internasional, guru, imam dan sebagainya. Angkatan Laut Jepang menyiksa dan membunuh ribuan orang tak berdosa.

BACA JUGA : The Banjarmasin Secret : Berburu Harta Karun BJ Haga, Gubernur Borneo Tahun 1938-1942 (1)

Dari sekian banyak perbudakan Indonesia (romusha’s) yang meninggal, tidak ada nama yang diketahui. Dari lapangan pembunuhan Pontianak / Mandor, di mana 1250 meninggal, hampir tidak ada nama yang ditemukan. Dari bandjarmasin/ulin massgraves kita tahu sekitar 150 nama orang yang terbunuh pada tahun 1943.

Jika ditotal keseluruhan selama pengadilan pendudukan Jepang diadakan di Angkatan Laut Jepang, mengenai Kasus Bandjermasin, juga dikenal sebagai Haga-Case, dimana sekitar 300 orang tewas , dieksekusi. Sementara Kasus Pontianak (sebenarnya beberapa kasus) dimana sekitar 12.500 orang tewas dan dieksekusi.

Kuburan massal korban pembantaian tentara Jepang di sekitar Bandara Ulin (kini Syamsudin Noor) di Banjarbaru

Khusus Lapangan Terbang Ulin, pada 5 Desember 1941, Jepang mengebom Lapangan Terbang Ulin. Bandara ini dibangun kembali pada mulanya oleh pemerintahan pendudukan Jepang pada tahun 1944 dan terletak disebelah utara Jalan Jend Achmad Yani Km 25 Kecamatan Landasan Ulin, Banjarbaru. Pada masa itu hanya memiliki ukuran landasan panjang 2.220 meter dan lebar 45 meter.

Berakhirnya masa pendudukan Jepang di tandai serangan Belanda yang kiat meningkat sehingga bandar udara yang dibuat Jepang hancur luluh lantak dibombardir oleh tentara sekutu. Kemudian pada tahun 1948 landasan tersebut direnovasi oleh pemerintahan pendudukan Belanda (NICA) dengan pengerasan landasan udara dengan pondasi batu setebal 10 centimeter.(jejakrekam)

Penulis adalah Penasihat Komunitas Historia Indonesia Chapter Kalsel

Ketua Lembaga Kajian Sejarah, Sosial dan Budaya (SKS2B) Kalimantan

Dosen Prodi Pendidikan Sejarah FKIP ULM Banjarmasin

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.