Husairi Abdi

Tari Manasai, Ritual Tarian Dayak Ngaju Bernuansa Magis, Kenapa Kurang Populer di Masyarakat Bakumpai?

0

RITUAL tari Manasai kurang populer di kalangan masyarakat Dayak Bakumpai yang mendiami pesisir Sungai Barito. Tari tradisi yang melambangkan kegembiraan, dimainkan lelaki maupun perempuan, tua dan muda berdiri berselang-seling dalam satu lingkaran.

DIIRING dengan alat musik khas Dayak dan lagu sarat nuansa magis. Semua masyarakat membaur dengan menghadap ke dalam lingkaran. Kemudian berputar ke arah kanan sambil melakukan gerak maju bergerak berlawanan arah jarum jam. Berikutnya, menghadap ke arah luar lingkaran, berputar lagi ke arah kiri sambil melakukan gerak maju.

Tari Manasai biasanya dihelat untuk menyambut tamu penting, pernikahan, kelahiran maupun ungkapan syukur memasuki masa panen.

Antropolog Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Nasrullah mengakui pamor tarian Manasai memudar seiring waktu di tengah masyarakat Dayak Bakumpai.  Kurang populernya tari Manasai, diakui Nasrullah justru dipengaruhi beragam penyebab.

“Pertama namanya tradisi itu cair, mengikuti perkembangan zaman, mudah mengalami intervensi seperti teknologi maupun pengaruh dari luar,” ujar Nasrullah saat berbincang dengan jejakrekam.com, Minggu (27/6/2021).

BACA : Nansarunai; Kerajaan Dayak Maanyan yang Merupakan Leluhur Urang Banjar

Akademisi FKIP ULM ini berpendapat tradisi bisa lestari jika bagian integral dari ritual. Dia menilai posisi tari Manasai memang bukan ritual yang wajib bagi kalangan masyarakat Dayak Bakumpai untuk melaksanakan ragam kegiatan.

“Tari Manasai, kalau kita lihat hanya tradisi ‘sunnah’, yang mudah tergantikan dengan acara yang lebih aktual dengan perkembangan zaman, terlepas tari Manasai sarat akan kebersamaan,” ujar tokoh masyarakat Batola ini.

Tari Manasai massal digelar saat ulang tahun Kuala Kapuas, Kalimantan Tengah, beberapa tahun lalu. (sumber : Facebook)

Sosiolog dan antropolog lulusan UGM Yogyakarta ini menyebut berkurangnya pamor tari Manasai di kalangan warga Dayak Bakumpai, tidak datang dengan tiba-tiba. Hal itu berlangsung selama puluhan tahun, tergantikan dengan tradisi lainnya.

Faktor lainnya, beber dia, berkurang popularitas Tari Manasai dipengaruhi faktor demografi masyarakat. Jika sebaran usia masyarakat yang seimbang tradisi cenderung mudah untuk dilestarikan.

BACA JUGA : Tari Dayak Si Pujung Meriahkan Puncak Peringatan Harjad Tabalong ke-55

“Jika ada gap (jurang) yang cukup jauh, antara usia masyarakat yang berusia muda dan berusia tua, pewarisan tradisi tentu menemui kendala, meskipun ada faktor lain yang mempengaruhi,” ucap Nasrullah yang juga sarjana agama dari IAIN (UIN) Antasari Banjarmasin ini.

Di sisi lain, Nasrullah berhipotesis Tari Manasai merupakan tradisi yang mempertemukan antara kebudayaan Dayak Ngaju dan Dayak Bakumpai.

Kendati demikian, dia menyarankan perlu adanya untuk melestarikan tari Manasai, salah satunya untuk daya tarik wisata di daerah.

“Misalnya ada festival budaya, yang salah satu muatannya adalah tari Manasai, agar generasi muda mengetahui tradisi dan kebudayaannya,” pungkas Nasrullah.(jejakrekam)

Penulis Ahmad Husaini
Editor Didi G Sanusi

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.