Loetoeng Kasaroeng; Film Lokal Produksi Pribumi (2-Habis)

0

Oleh : Mansyur ‘Sammy’

KORAN Belanda De Locomotief no. 70 (30 Agustus-1 September 1926), menuliskan bahwa pemain-pemain pribumi dipilih dengan seksama dari golongan priyayi yang berpendidikan.

PENGAMBILAN film dilakukan di suatu tempat yang dipilih dengan cermat, kira-kira dua kilometer sebelah barat Kota Padalarang. Kemudian dalam edisi no. 71 (2-4 September 1926) ditulis, “Film ini, tonggak pertama dalam industri sinema Hindia sendiri, patut disambut dengan penuh perhatian”.

Film Loetoeng Kasaroeng ini diputar di Elita dan Oriental Bioskop (Majestic) Bandung, dari tanggal 31 Desember 1926-6 Januari 1927. Film pertama Indonesia ini dibuat oleh L Houveldorp dengan dukungan Bupati Bandung pada masa itu. Dari sinilah kemudian film ini diputar juga di bioskop di seluruh wilayah Hindia Belanda.

Film lokal berikutnya yang menjadi primadona di Banjarmasin adalah Eulis Atjih yang diproduksi oleh perusahaan yang sama. Setelah film kedua ini diproduksi, kemudian muncul perusahaan-perusahaan film lainnya seperti Halimun Film Bandung yang membuat Lily van Java dan Central Java Film Coy (Semarang) yang memproduksi Setangan Berlumur Darah.

Setelah itu, lahir pula Film Eulis Atiih, Lily van Java, Resia Boroboedoer, Nyai Dasima, Rampok Preanger, Si Tjomat, Njai Siti, Karnadi Anemer Bengkok, Lari Ka Arab, Melati van Agam, Nyai Dasima II dan III, Si Ronda.

BACA : Gambar Idoep; Kisah Urang Banjar Mengenal Film (1)

Selain itu, pada tahun 1925-1926, film produksi terbaru Hollywood pun sudah diputar di bioskop Hindia Belanda, bahkan lebih dahulu dari Negeri Belanda. Film produksi berikutnya adalah film Bung Roos van Tjikembang, Indonesia Malasie, Sam Pek Eng Tay, Si Pitoeng, Sinjo Tjo Main Di Film, Karina`s Zeffopoffering, dan Nyai Dasima sebagai film bicara pertama (1932), disusul Raonah, Terpaksa Menika (film berbicara-musik) dan Zuster Theresia.

Warga Banjarmasin berteduh saat hujan di depan Bioskop Orion Banjarmasin, usai menyaksikan film.

Pada tahun 1931-an, film-film bersuara baru mulai beredar di Indonesia, dan Banjarmasin khususnya. Demikian juga dengan industri film lokal sendiri baru bisa membuat film bersuara pada tahun yang sama. Film dari Hollywood pun yang sudah menggunakan teks Melayu. Setelah Film Loetoeng Kasaroeng, terdapat film Atma de Vischer. Film ini diproduksi oleh Tans Film Company bekerjasama dengan Kruegers Film Bedrif di Bandung. Selama kurun waktu itu (1926-1931) sebanyak 21 judul film (bisu dan bersuara) diproduksi.

Pada periode 1933-1936, film Hindia Belanda diwarnai kisah-kisah legenda Tiongkok, di antaranya Delapan Djago Pedang, Doea Siloeman Oelar, Ang Hai Djie, Poet Sie Giok Pa Loei Tjai, Lima Siloeman Tikoes, dan Pembakaran Bio.

BACA JUGA : Cerita Bioskop Ratna dan Pasar Blauran, Kenangan Tersisa Warga Banjarmasin

Berdasarkan data tahun 1936, di seluruh wilayah Hindia Belanda terdapat 225 bioskop, terbanyak di Bandung (9 unit), Jakarta (13), Surabaya (14), dan Yogyakarta (6). Sayangnya belum didapatkan rincian jumlah bioskop di Banjarmasin era itu.

Pada sumber lain dituliskan jumlah bioskop meningkat dengan pesat. Filmrueve (majalah film pada masa itu) pada tahun 1936 mencatat adanya 227 bioskop di Hindia Belanda. Daftar itu ternyata menunjukkan bahwa bioskop, bukan hanya berada di kota-kota besar tapi juga merambah kota-kota kecil.

Sampai memasuki periode 1937-1942, film yang beredar di Hindia Belanda umumnya diproduksi oleh pengusaha keturunan China. Dibandingkan pengusaha “kulit putih” dan pribumi, pengusaha China mendominasi kepemilikan bioskop.

BACA JUGA : Bangunan Tua di Banjarmasin Dibiarkan Kosong

Pengusaha China saat itu merasa tertantang anggapan bahwa hanya orang kulit putih yang mampu membuka usaha bioskop. Kemudian dengan undangan nonton bioskop yang dibuat indah, mereka dapat mengiringi pengiriman hadiah makanan dan minuman (upeti) untuk para pejabat Belanda yang menjadi relasi mereka.

Sampai memasuki periode 1937-1942, film yang beredar di Hindia Belanda umumnya diproduksi oleh pengusaha keturunan China.(jejakrekam)

Penulis adalah Penasihat Komunitas Historia Indonesia Chapter Kalsel

Ketua Lembaga Kajian Sejarah, Sosial dan Budaya (SKS2B) Kalimantan

Dosen Prodi Pendidikan Sejarah FKIP ULM Banjarmasin

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.