Husairi Abdi

Menelusuri Benteng Marabahan dari Sumber Buku Sejarawan Belanda (2-Habis)

0

Oleh : Iberahim

ADA pertanyaan cukup mengelitik, dimana posisi Benteng (Fort) Marabahan? Kemudian bagaimana bentuknya. Walau di ibukota Kabupaten Barito Kuala (Batola) itu dikenal ada perkampungan bernama Ulu Benteng.

DALAM Verhandelingen over de natuurlijke geschiedenis der Nederlandsche Overzeesche Bezittingen door de leden der Natuurkundige Commissie in Indië en andere schrijvers  ; Land- en Volkenkunde, oleh S. Muller, Leiden, 1839—1844 disebutkan bahwa sungai besar Banjarmasin memiliki nama yang berbeda di berbagai bagian jalurnya.

Di bagian bawah, dari muaranya ke laut sampai ke Kampung Pekoempai atau benteng Marabahan, orang pribumi biasa menyebutnya Sungi (Sungai) Bandjar atau Sungi Baritto.

Sedangkan di atas Danau Babai, ke dekat Sungai Tohop, lebih khusus menyandang nama Sungi Duson, dan akhirnya di atas titik yang disebutkan terakhir, di mana ia mengambil arah yang lebih ke barat, yang dikenal di antara Sungi Muroeng. Nama Doeson, bagaimanapun, paling sering terdengar di antara penduduk Banjarmasin dan sekitarnya, dan umumnya diterapkan oleh pejabat Eropa ke seluruh sungai, apapun kebiasaan yang akan kita ikuti.

Kemudian juga masih dalam buku yang sama disebutkan bahwa di ujung atas dari desa ini (Kampong Palokan-markas Pembakal Kendet), yang oleh penduduknya disebut Kampong Pekoempai (Desa Pekoempaijers/Bakumpai), kemudian didirikan benteng Belanda yang biasa disebut “Fort Marabahan”.

BACA : Perkuat Benteng Marabahan Akibat Insiden 9 September Yang Coreng Wajah Belanda (1)

Benteng ini berbentuk segi empat beraturan, dikelilingi parit, dan dianggap kunci navigasi di sepanjang sungai Doeson dan Sungai Nagara. Pada saat itu, kru benteng ini terdiri dari seorang letnan dua, dua kopral bangsa Eropa, dan 24 tentara Jawa.

Perbandingan antara peta ANRI dengan Google Maps letak Benteng Marabahan.

Sudut benteng dilengkapi dengan 4 kanon/meriam yang berukuran panjang. Tidak jauh dari benteng tinggal seorang Gouvernements Posthouder, yang bertanggungjawab dengan urusan sipil. Terutama dengan pengumpulan modal dan pungutan transit, yang dipungut dari barang-barang yang diangkut dari dan ke pedalaman wilayah Belanda. Rata-rata, pungutan ini berjumlah sekitar f 2000 sebulan.

Pada tahun 1834, pungutan ini berjumlah f 25901,72 sen, yang jumlah tersebut terutama diperoleh dari pendapatan berikut. Yakni (1) kepala semua laki-laki dewasa penduduk asli dan (2) hak pasir emas, besi, rotan, dayung, damar, sarang burung walet, lilin, kain, kapas, garam, kayu gaharu, tikar, piring kayu, sampan, beras, damar naga, benang dan tali tanaman rami, kotak sirih dan sejenisnya. Di sisi lain Fort Marabahan, terlihat muara Sungai Nagara atau juga disebut Sungai Margasari yang lebarnya lebih dari 100 meter.

BACA JUGA : Panglima Wangkang dan Taktik ‘Menyerah’ dalam Perang Banjar (1)

Kemudian dalam Tijdschrift voor Neerland’s Indië jrg 13, 1851 (2e deel), no 7 terbitan 1 januari 1851 menyebutkan bahwa pada 1826, setelah berakhirnya pemberontakan, dengan sepengetahuan Sultan Soleiman (Sulaiman), kepala pengawas pantai saat itu, almarhum Mr. Halewijn, harus membuat pos untuk pengadaan pungutan/cukai dan untuk mengendalikan sebagian besar penduduk, di wilayah tanah Sultan.

Yiatu, Sungai Negara, dengan mempunyai benteng (redoute-lebih tepatnya pos militer) yang dibangun di Marabahan. Di mana sejak saat itu telah berdiri desa perdagangan yang cukup besar, seluruhnya terdiri dari Orang Bakumpai (Bekompaijers).

Peta Marabahan 1926 dengan legenda Pos Militer Belanda.

Ini kemungkinan merupakan asal mula didirikannya Fort Marabahan. Tapi hal ini tidak bersesuaian dengan peta ANRI yang terbit tahun 1825 atau setahun sebelumnya. Gambaran tentang Fort Marabahan terlihat dalam peta koleksi ANRI (Arsip Nasional Republik Indonesia) terbitan 1825 yang memuat letak Fort Marabahan.

BACA JUGA : Ditakuti Kolonial Belanda, Keberanian Panglima Wangkang Datangi Benteng Tatas (2)

Helius Sjamsuddin dalam bukunya Pagustian dan Tumenggung, Akar Sosial, Politik, Etnis dan Dinasti,. Perlawanan di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah 1859-1906 menyebutkan bahwa (Panglima) Wangkang pernah tinggal disebuah rumah yang berjarak kira-kira 450 meter dari benteng Marabahan.

Bagaimana hubungannya dengan dua buah meriam di depan Rumah Jabatan Bupati Barito Kuala di Marabahan?

Memang dari uraian di atas tidak disebutkan meriam jenis apa. Kemudian, ukurannya berapa yang dipasang pada setiap sudut benteng. Hanya disebutkan berukuran panjang. Namun penulis menduga kuat di antara keduanya ada salah satunya yang merupakan sisa persenjataan penjaga Benteng Marabahan.

Ini sejalan dengan tulisan Bang Nasrullah yang mendapat cerita bahwa meriam itu letak awalnya di depan kantor Komando Distrik Militer (Kodim) 1005 Marabahan yang tepat berada di jantung Pasar Marabahan, dekat pelabuhan kapal di areal Pasar Marabahan.

Lokasi penemuan asalnya di sekitar kantor Kodim lama itu dan ditemukan dalam kondisi terkubur. Jika membuka Google Map dan membandingkan dengan peta ANRI, lokasinya persis sama. Artinya meriam itu berada di lokasi asalnya yaitu Benteng (Fort) Marabahan.

BACA JUGA : Pertempuran Sungai Miai, Antiklimaks Perlawanan Panglima Wangkang terhadap Penguasa Tatas (3-Habis)

Penulis belum menemukan data otentik kapan meriam itu ditemukan. Namun yang pasti penulis berharap ada penelitian lebih lanjut tentang Fort Marabahan dan peninggalannya termasuk meriam tersebut.

Biar bagaimanapun ini adalah bukti otentik sejarah perjuangan Kabupaten Barito Kuala dan juga peninggalan sejarah perjuangan banua. Kita sudah kehilangan benteng Tatas yang diubah menjadi Lapangan Merdeka.

Begitu juga dengan situs-situs lainnya yang satu persatu hilang karena pengelolaan pembangunan dan modernitas yang melupakan tinggalan peradaban. Berharap juga suatu saat mungkin replika Fort Marabahan dibangun di lokasi yang tidak memakan banyak biaya mengingat Kabupaten Barito Kuala khususnya Kota Marabahan masih memiliki lahan kosong yang luas. Suatu saat ini akan menjadi ikon Kota Marabahan yang diharapkan mampu membangkitkan perekonomian masyarakat.(jejakrekam)

Penulis adalah Pemerhati Sejarah Banjar

Ketua Lembaga Adat Kerajaan Pulau Laut Korwil Banjarmasin

Sekretaris Syarikat Adat, Sejarah dan Budaya (SARABA) Hulu Sungai

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.