Perkuat Benteng Marabahan Akibat Insiden 9 September yang Coreng Wajah Belanda (1)

0

Oleh : Iberahim

MEMBACA tulisan Bang Nasrulah di jejakrekam.com berjudul Misteri Meriam Di Kota Marabahan yang ditayangkan pada 12 Mei 2021, penulis tertarik untuk ikut menelusuri muasalnya.

INGATAN penulis pertama kali melayang pada peristiwa yang diceritakan oleh Helius Sjamsuddin dalam bukunya Pagustian dan Tumenggung, Akar Sosial, Politik, Etnis dan Dinasti, Perlawanan di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah 1859-1906.

Pada awal September (1870), ada lagi sebuah berita angin bahwa kira-kira 200 pejuang dari Murung (Dusun Hulu) akan segera tiba di Marabahan. Di bawah pimpinan Wangkang, mereka merencanakan akan menyerang Benteng Marabahan pada 5 September. Kemudian, akan menyerang Banjarmasin pada 25 September.

Kedatangan mereka itu bersamaan dengan tersebarnya cap-cap Panembahan Muhamad Said dan Sultan Muhamad Seman di Amuntai dan Martapura,  yang mengesankan bahwa rencana itu seluruhnya dari mereka (putra-putra Antasari). Jadi, ada alasan untuk percaya bahwa mereka mempunyai kaitan dengan rencana putra-putra Antasari untuk menggelar perlawanan umum persis di tengah-tengah wilayah Belanda.

Di Amuntai dan di Martapura putra-putra Antasari itu masih mempunyai keluarga atau simpatisan-simpatisan. Cap-cap mereka yang beredar membuktikan kepada rakyat Amuntai dan Martapura bahwa keturunan Antasari masih ada. Mereka juga mengajak partisan-partisan untuk ikut serta dalam perjuangan mereka.

BACA : Panglima Wangkang dan Taktik ‘Menyerah’ dalam Perang Banjar (1)

Sehubungan dengan berita angin tersebut, van Ham meminta kepada Kepala Distrik Haji Kiai Demang Wangsa Negara untuk mengatur suatu pertemuan dengan Wangkang di Benteng Marabahan pada 5 September 1870.

Parade militer KNIL Belanda di Banjarmasin (sumber : KITLV Lieden)

Semula, Haji Kiai Demang Wangsa Negara, terkesan ragu. Ia mengingatkan van Ham bahwa Wangkang akan mengamuk di dalam benteng. Namun, van Ham tidak peduli dengan kemungkinan buruk tersebut. Ia meyakinkan Kepala Distrik Marabahan bahwa Benteng Marabahan cukup kuat untuk menghadapi Panglima Wangkang dan para pengikutnya, ketika para pejuang itu mengamuk. Benteng itu dipersenjatai dengan baik, diperkuat oleh 50 serdadu di bawah pimpinan dua opsir.

Pertemuan diselenggarakan di Benteng Marabahan pada 5 September. Wangkang diiringi para pengikutnya bersenjata lengkap. Hanya Wangkang dan 50 pengikut saja yang diizinkan masuk ke dalam benteng.

Sementara 80 prajurit Dayak lainnya menunggu dalam perahu-perahu mereka di tepi sungai. Semua perahu mereka tidak memasang atap sebagai pertanda bahwa mereka akan bertempur, jika ada tanda-tanda kesulitan dalam benteng. Wangkang diantar ke arah sebuah rumah di dalam benteng.

BACA JUGA : Ditakuti Kolonial Belanda, Keberanian Panglima Wangkang Datangi Benteng Tatas (2)

Dalam pertemuan itu, van Ham menanyakan Wangkang, mengapa dirinya datang dengan begitu banyak pengikut. Wangkang menjawab bahwa itu adalah tindakan berjaga-jaga karena ia tidak mau ditangkap.

Van Ham berkata bahwa pada kenyataannya sikap Wangkang itu dianggap sebagai sesuatu “yang sangat pantas untuk mendapat hukuman.” Meski demikian, selama Wangkang tidak melancarkan suatu pemberontakan terbuka, ia tidak akan ditangkap.

Tidak ada bukti-bukti lain mengenai apa saja yang mereka bicarakan dalam pertemuan itu. Barangkali Wangkang menanyakan van Ham tentang keputusan pengampunannya dari pemerintah kolonial yang didengarnya telah kedaluwarsa. Karena van Ham tidak dalam posisi untuk membuat suatu keputusan, ia membujuk Wangkang untuk datang menemui sendiri Residen di Banjarmasin.

Rumah Residen Belanda di Banjarmasin (Sumber : KITLV Leiden)

Wangkang bisa menanyakan pengampunannya. Tampaknya Wangkang setuju dengan saran itu. Oleh sebab itu, dalam suratnya kepada Tiedtke, van Ham meminta kepada Residen itu mengirimkan sebuah kapal untuk segera menjemput Wangkang, sementara pada waktu yang sama (tanpa diketahui oleh Wangkang tentu saja), ia juga mengusulkan agar Wangkang ditahan di Benteng Tatas (Banjarmasin).

BACA JUGA : Pertempuran Sungai Miai, Antiklimaks Perlawanan Panglima Wangkang terhadap Penguasa Tatas (3-Habis)

Pada 8 September. Residen mengirim kapal Cinrana ke Marabahan, dan pada 9 September Wangkang tiba di Banjarmasin dengan 30 pengikutnya. Ini merupakan kunjungan yang kedua untuk menemui Residen. Sementara itu, Residen Tiedtke telah mengambil tindakan berjaga-jaga dengan menempatkan kapal api Admiraal van Kinsbergen bersama 25 serdadu di depan rumah Residen.

la telah menerima suatu peringatan dari van Ham untuk tidak mempercayai penyerahan Wangkang karena Wangkang mempunyai rencana untuk menyerang Banjarmasin.

Wangkang diantar oleh Pangeran Syarif Hasyim, ditemani oleh menantunya, kepala distrik Marabahan, Haji Kiai Demang Wangsa Negara, untuk menemui Residen di kediamanya. Hanya tiga atau empat orang pengikutnya yang tidak bersenjata diizinkan mengikutinya.

Pada kesempatan ini, Wangkang menanyakan lagi soal pengampunannya. Tampaknya Residen tidak dapat memberikan pengampunan itu karena pemerintah di Batavia belum memutuskannya. Ketika Residen menanyakan Wangkang mengenai berita-berita angin yang dihubungkan dengan dirinya, Wangkang menjawab bahwa berita-berita angin itu hanya disebarkan oleh ‘musuh-musuhnya’, atau dalam istilah Wangkang sendiri oleh “orang makan darah” yang bermaksud mengkhianatinya.

Kantor Pos dan Telegraf Belanda di Banjarmasin yang jadi media komunikasi kolonial. (Sumber : KITLV Leiden)(

BACA JUGA : Misteri Meriam di Kota Marabahan

Residen dalam laporannya kepada Gubernur Jenderal tidak menyebutkan siapa ‘orang makan darah’ yang menjadi musuh Wangkang itu. Residen hanya mengulang bahwa Wangkang tidak bersalah dan oleh sebab itu ia pantas mendapat pengampunan.

Barangkali Residen telah membujuk Wangkang selama pertemuan itu untuk bersabar dalam menunggu pengampunannya itu dari pemerintah. Ia telah meminta kepada Wangkang untuk tinggal dalam Benteng Tatas sementara waktu. Akan tetapi dalam laporannya, ia menunjukkan bahwa ia bermaksud agar Wangkang ditahan dalam benteng Tatas, seperti halnya Prabu Anom dan Pangeran Muhamad Aminullah ditahan terlebih dulu, sebelum mereka dibuang ke Jawa.

Setelah pertemuan itu, Tiedtke meminta Pangeran Syarif Hasyim untuk mengantar Wangkang ke benteng Tatas. Selain,  Syarif Hasyim dan seorang Jaksa Kepala, Wangkang juga dikawal ke benteng oleh enam polisi dan beberapa orang Banjar bersenjata. Tidak ada seorang pun yang tahu benar apa yang sedang dipikirkan Wangkang, ketika itu. Mungkin, ia berpikir bahwa dirinya akan dipenjarakan dan kemudian diasingkan.

Hal yang terburuk dapat terjadi ialah Wangkang mungkin akan digantung seperti ayahnya, Pembakal Kendet di benteng yang sama pada tahun 1825. Karenanya, ketika mereka menyeberangi sebuah jembatan yang akan membawa mereka ke benteng, tiba-tiba Wangkang lari dan meloncat ke perahunya yang kebetulan dekat. Tindakannya yang tiba-tiba itu mengejutkan pengiring-pengiringnya.

BACA JUGA : Menghadirkan Panglima Wangkang

Sebelum mereka menyadari apa sesungguhnya yang telah terjadi, Wangkang telah dikelilingi oleh para pengikutnya untuk mencegah ia ditahan. Wangkang sendiri telah menghunus kelewangnya. Tampaknya Wangkang dan para pengikutnya telah siap untuk bertempur sampai titik darah terakhir.

Residen Tiedtke, yang segera diberi tahu tentang insiden ini, memerintahkan tentaranya untuk tidak melakukan kekerasan terhadap Wangkang. Ini tentu saja mengecewakan Schultze, komandan militer, yang bermaksud mengambil tindakan keras terhadap pemimpin pemberontak itu.

Meski demikian, Tiedtke dalam laporannya kepada Gubernur Jenderal mencoba menjelaskan mengapa ia tidak mengambil tindakan keras semacam itu. Aksi itu akan membuat panik, tidak hanya penduduk Banjar, terlebih lagi bagi orang-orang Eropa yang bermukim di ibukota.

Pemukiman warga Eropa di seputar Benteng Tatas, Banjarmasin (sumber : KILTV Leiden)

Tiedtke khawatir para pengikut Wangkang akan membalas dendam karena pada waktu itu mereka mulai mengalir datang dalam perahu-perahu dari Marabahan sehingga menambah jumlah mereka menjadi 70 orang.

Pada kenyataannya, kehadiran Wangkang di ibukota Borneo Bagian Selatan telah menimbulkan kepanikan di antara penduduk asli kota Banjarmasin dan juga orang-orang Eropa.

BACA JUGA : Pembangunan Miniatur Kincir Angin Dikritik, Wabup Rahmadi Sebut Akan Dirikan Monumen Batola

Takut, jika menjadi korban, orang-orang meninggalkan rumah-rumah mereka. Bahkan, warga Eropa meninggalkan pemukiman mereka dan menemukan perlindungan dekat kapal api, rumah Residen, dan benteng. Persediaan makanan menjadi berkurang.

Tidak seorang pun yang benar-benar berani pergi ke pasar, apalagi pada kenyataannya pasar itu memang telah ditinggalkan. Ini semua merupakan bukti bahwa Wangkang memang benar-benar ditakuti.

Tiedtke juga menambahkan bahwa jika ia menggunakan kekerasan, itu berarti akan mengundang pasukan-pasukan dari Jawa untuk menindas Wangkang dan itu akan mengobarkan pemberontakan tidak saja di Bakumpai dan Tanah Dusun, tetapi juga di Amuntai dan di tempat-tempat lain.

Tiedtke dengan bantuan Syarif Hasyim berhasil menenangkan Wangkang dan pengikut-pengikutnya. Pada 13 September, Wangkang diizinkan untuk kembali ke Marabahan, sembari tetap menunggu pengampunannya.

Pada pihaknya, Schultze memerintahkan semua bawahannya untuk memperkuat benteng Marabahan sebagai tindakan berjaga-jaga terhadap kesulitan-kesulitan yang dapat timbul.

BACA JUGA : Suku Bakumpai, Penyambung Kesultanan Banjar dengan Masyarakat Dayak

Kini benteng itu diperkuat oleh 80 serdadu di bawah pimpinan tiga opsir. Kelak, insiden tanggal 9 September itu dianggap oleh pengganti Tiedtke sebagai Residen, Tromp justru telah menyebabkan Belanda kehilangan prestise atau wibawa.

Sebagaimana digambarkan di atas bahwa pihak Belanda menganggap bahwa Benteng Marabahan cukup kuat untuk menghadapi Wangkang dan para pengikutnya. Itu ketika Wangkang kembali mencoba untuk mengamuk karena Benteng itu dipersenjatai dengan baik. Persenjataan yang dimaksud tidak dijelaskan berupa apa. Meskipun lumrahnya sebuah benteng biasanya dilengkapi dengan meriam/kanon. Kemungkinan Benteng Marabahan diperkuat setelah Kolonel Andresen bersama pasukannya tiba di Banjarmasin pada 29 April 1859, sehari setelah Benteng Pengaron diserang.

Dia menganggap bahwa Benteng Tatas di Banjarmasin dianggap lemah, karena tidak dikitari selokan penghalang sekelilingnya. Kemudian pertahanan Benteng Marabahan dianggap buruk. Benteng Marabahan ini salah satu target favorit serangan para pejuang Perang Banjar wilayah Barito selain Benteng Tatas dan Kota Martapura. (jejakrekam/bersambung)

Penulis adalah Pemerhati Sejarah Banjar

Ketua Lembaga Adat Kerajaan Pulau Laut Korwil Banjarmasin

Sekretaris Syarikat Adat, Sejarah dan Budaya (SARABA) Hulu Sungai

Pencarian populer:Jalan Cagak Nagreg Bukan Bagian Dari Jalan Raya Pos,Wajah kota marabahan kalsel

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.