Seni Bela Diri Kuntau di Masyarakat Banjar yang Makin Menepi

0

SENI bela diri tradisi masyarakat Banjar, kuntau seakan terus menepi. Nyaris tak ada perguruan kuntau dibuka lagi, bahkan penggemarnya diyakini hanya para pendekar berumur.

MUNGKIN di Kalimantan Selatan, beberapa wilayah yang masih melestarikan bela diri kuntau. Atraksi para pendekar kuntau pun kerap ditampilkan saat acara perkawinan atau hajatan lainnya. Biasanya, tradisi ini disebut perkimpoian. Mereka beratraksi mempraktikkan jurus demi jurus dengan alunan musik serunai dan babun serta gong khas Banjar.

Seperti di wilayah Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST), Tapin, Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS), Balangan, dan Amuntai, Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU) atau Banua Enam. Beberapa praktisi atau sejarawan mengartikan bela diri kuntau ini dulunya diperkenalkan para imigran keturunan Tiongkok yang telah berinteraksi lama dengan masyarakat Banjar.

Hingga, ada yang mengartikan kuntau itu berasal dari dua kata, kun berarti jadi dan tau disinonimkan isyarat. Nah, di era perjuangan melawan kolonial Belanda, bela diri kuntau menjadi hal yang wajib dikuasai para pejuang sebagai pendekar. Baik di era Kesultanan Banjar hingga revolusi kemerdekaan.

Praktisi kuntau asal Alalak Tengah, Banjarmasin, Mahyuni mengakui bela diri kuntau kerap dikaitkan dengan bela diri asal Tiongkok. “Ya, kalau dari namanya, sepertinya berbau bahasa Tiongkok atau Cina. Tapi, sebenarnya, bela diri ini memang lahir dari pemahaman leluhur kita karena berinteraksi dengan alam,” ucap Mahyuni kepada jejakrekam.com, Sabtu (19/6/2021).

BACA : Lima Ribu Pendekar Kuntau Meriahkan Peringatan Hari Jadi ke-54 Tabalong

Pria yang menjadi penerus generasi kedua usai sang ayahnya yang menjadi guru besar perguruan kuntau di Kampung Labat, Berangas Alalak Barito Kuala, mengakui ada beberapa jurus justru mengambil nama hewan khas Kalimantan.

“Ya, seperti jurus Bangkui atau monyet yang mengandalkan jurus-jurus cepat sehingga naik ke atas punggung lawan. Tentu butuh latihan cukup lama untuk bisa menguasai jurus Bangkui atau Kuntau Bangkui. Ada juga jurus macan, bangau dan sebagainya,” ucap Iyun, sapaan akrabnya.

Pria yang kini menginjak usia 52 tahun ini mengungkap dalam jurus kuntau juga ada tingkatan. Dalam ilmu silat tradisional yang ditekuninya, ada dikenal 11 jurus andalan baik bunga-bungaan (kakambangan) hingga panikaman.

“Ya, ada namanya panikaman untuk jurus-jurus yang mematikan bagi musuh. Sebenarnya, jurus dipakai untuk memukul titik-titik lemah yang ada pada manusia. Kemudian, ada jurus salewa atau jurus ganjil yang membutuhkan kecepatan,” kata Iyun.

Berbeda dengan silat atau karate, Iyun mengakui banyak jurus kuntau itu lebih mengutamakan pukulan tangan kosong. Meski dalam tingkatan jurusnya, ada pula tendangan yang mematikan.

“Tapi, lebih banyak jurus itu berupa pukulan tangan, tangkisan dan bertahan sembari menyerang. Nah, kalau sudah kategori pendekar atau suhu, tentu gerakannya akan lebih lincah dan cepat. Hingga, ada istilahnya, pukulannya seperti kilat atau tidak kelihatan, saking cepatnya,” tutur Iyun.

BACA JUGA : Melestarikan Kuntau di Tengah Langkanya Guru Bela Diri Tanah Banjar

Menurut dia, saat belajar kuntau memang sedikit tertutup. Di perkampungan biasanya dipasang kajang atau penutup dari daun nipah, agar orang lain tidak meniru atau mengintip jurus yang diajarkan guru.

“Memang di era sekarang, kuntau seperti ditinggalkan. Hanya bisa dihitung dengan jari, orang-orang yang mempelajari dan melestarikannya. Apalagi, guru-guru kuntau juga sangat jarang, dibandingkan bela diri seperti karate atau silat,” tuturnya.

Hanya saja, menurut Iyun, ada beberapa jurus kuntau yang juga mirip dengan silat Cimpedeh, Betawi atau silat lainnya. Bahkan, Iyun mengaku pernah ‘barasuk’ atau latihan bersama dengan pendekar yang mempraktikkannya.

“Memang ada kemiripan. Tapi ada juga beberapa jurus berbeda. Ya, seperti panikaman atau jurus pamungkas. Makanya, ketika murid sudah mau lulus, ujiannya adalah serangan mendadak di malam hari, bisa menggunakan ambang atau parang untuk bisa menghindar. Jika lulus, maka dianggap sudah bisa menguasai semua jurus kuntau,” kata Iyun.

BACA JUGA : Agar Tak Hilang Ditelan Zaman, Festival Pencak Silat Budaya Kuntaw Digelar

Ia tak memungkiri ketika seseorang ingin membangun sebuah perguruan kuntau, harus mendapat legalitas seperti berizin dan tergabung ke Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI).

“Makanya, kuntau itu diajarkan secara personal. Tidak ada perguruan yang resmi. Mungkin ini salah satunya mengapa kuntau seakan tidak berkembang dan bisa hilang dari peredarannya,” ucap Iyun.

Menurut dia, selama era perjuangan melawan Belanda, banyak pendekar lahir dari Berangas dan Alalak untuk melawan penjajah yang bermarkas ke Benteng Tatas. Bahkan, ada pula yang mendalami kuntau dengan silat gaib dan kekebalan.

“Ya, untuk senjata kuntau khususnya di Alalak bisa pakai ambang (mandau), cabang (trisula), lading (pisau) dan toya (tongkat). Jurus toya pun agak mirip dengan jurus Shaolin. Inilah mungkin yang mengapa kuntau kerap dihubungkan dengan bela diri asal Tiongkok atau Cina,” tutur Iyun.(jejakrekam)

Penulis Rahm Arza/Didi GS
Editor Didi G Sanusi

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.