Husairi Abdi

Islam Sapa Bakumpai, Sunang Bonang dan Sunan Giri Pernah Berniaga di Marabahan

0

ISLAM lebih dulu menyapa Marabahan yang merupakan sebuah bandar perniagaan internasional. Diperkirakan sekitar abad ke-14, ketika ada tokoh Dayak Bakumpai belajar Islam di Tanah Jawa.

AKADEMISI sosiologi dan antropologi FKIP Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Banjarmasin, Nasrullah mengklaim jika orang-orang Bakumpai yang masuk subetnis Ngaju (Biaju) justru lebih dulu mengenal Islam dibanding masyarakat Banjar.

Hipotesis ini dituangkan Nasrullah dalam jurnal Al Albab, volume 3, 1 Juni 2014 berjudul Tradisi Islam Masyarakat Dayak Bakumpai. Menurut Nasrullah, orang-orang Bakumpai masuk Islam sebelum ada kesepakatan politik antara Kesultanan Demak dengan Kerajaan Banjar, dalam misi perang merebut ‘kekuasaan’ dari tangan sang paman, Pangeran Tumenggung dari Kerajaan Negara Daha berpusat di Marabahan. Persisnya, orang Bakumpai mengenal Islam atau menjadi muslim sebelum 1526, yang menjadi tahun dideklarasikan Kesultanan Banjar sebagai kerajaan bernapaskan Islam.

Alasan ini cukup kuat, karena Marabahan atau Muara Bahan merupakan pelabuhan perdagangan internasional yang ramai dan sibuk. Tak mengherankan, jika interaksi perdagangan warga Marabahan dengan pedagang muslim, terutama dari semenanjung Arab dan India, sangat erat.

BACA : Dayak Bakumpai, Pendakwah dan Penyebar Islam di Pedalaman Kalimantan (3-Habis)

Nasrullah juga mengutip  Hikayat Banjar (Banjar Chronicles), menceritakan bahwa tokoh Walisongo asal Jawa, Sunan Bonang dan Sunan Giri telah berniaga ke Muara Bahan. “Ada lagi seorang tokoh Bakumpai yang belajar Islam pada abad ke-14 ke Kerajaan Demak bernama Khatib Banun. Sekembalinya dari Demak, Khatib Banun kemudian menyebarkan Islam ke pedalaman Kalimantan, terutama orang Bakumpai,” papar Nasrullah kepada jejakrekam.com, belum lama tadi.

Potret Hadji Abdullah, mantan Kiai Marabahan yang diduga berada di Banjarmasin (sumber : KITLV Leiden)

Sementara dari penelusuran jejakrekam.com, di kawasan Kuin, juga ada terdapat komunitas muslim yang dipercayai masyarakat sekitar dengan tokohnya, Kiai Pelaminan sebelum Kesultanan Banjar resmi berdiri oleh Pangeran Samudera atau kelak berjuluk Sultan Suriansyah.

Hubungan dagang dan diplomasi politik ini diyakini banyak sejarawan karena atas nama Islam. Terbukti, utusan Kerajaan Banjar-sebelumnya bernama Bandarmasih di Kuin berlayar ke Demak, bernama Patih Balit.

BACA JUGA : Etnis Bakumpai Lebih Dulu Menganut Islam Dibanding Masyarakat Banjar

Patih Balit merupakan kepala kampung (lewu) Belandean, yang dihuni masyarakat Dayak Berangas. Misinya, meminta Demak mengirim pasukan membantu Pangeran Samudera menggulingkan sang paman, Pangeran Tumenggung dari Negara Daha.

Pertempuran atau perang bersaudara dimenangkan Pangeran Samudera. Hingga memeluk Islam, menjadi Sultan Banjar I bergelar Tuan Kebawah Duli Yang Maha Mulia Seri Paduka Sultan Suriansyah Ibni Radin Mantri Alu.

Perahu kecil yang diduga digunakan para pedagang pribumi baik di Marabahan dan dan Banajrmasin era kolonial Belanda. (sumber KILTV Leiden)

Nah, dari hipotesis Nasrullah, terungkap peran kuat Dayak Bakumpai tidak terlepas dari pembentukan Kerajaan Banjar. Ini tergambar dari para tokohnya, seperti Patih Muhur, yang merupakan kepala suku (pembakal) dari Lewu Anjir bersama tiga patih lainnya dari Lewu (Kampung) Ngaju Barangas, Balit (Pembakal Lewu Balandean), Patih Balitung (Pembakal Lewu Balitung), Patih Kuin (Pembakal lewu sei Kuin) dengan Patih Masih yang memimpin orang Melayu di Bandarasih (Banjarmasin).

Dalam beberapa keterangan masyarakat Kuin, menyebut nama asli Patih Masih adalah Marta Sura yang merupakan putra dari Kindu Mui yang bermakam di Sungai Tabuk. Kindu Mui diyakini merupakan seorang bangsawan asal Kerajaan Sriwijaya, terpaksa lari merantau ke Kalimantan akibat pergulakan politik di kerajaan itu.(jejakrekam)

Penulis Ahmad Husaini/Didi G
Editor Didi G Sanusi

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.