Tokoh Bakumpai Raih Gelar Kebangsawanan, Kesultanan Banjar Diminta Lobi Kerajaan Belanda

0

DEWAN Mahkota Kesultanan Banjar memberikan anugerah gelar kebangsawanan ke sejumlah tokoh dan figur yang memiliki dedikasi tinggi di bidangnya di Kalimantan Selatan.

PEMBERIAN gelar kebangsawanan ini dalam rangkaian kegiatan Milad Kesultanan Banjar ke-516 tahun, di Hotel Rattan Inn, Banjarmasin Minggu (13/6/2021).

Menariknya ada tiga tokoh dari suku Dayak Bakumpai yang diberikan gelar kebangsawanan. Ketiga tokoh tersebut, Setia Budhi Ph.D yang merupakan Ketua Program Studi Ilmu Sosiologi FISIP Universitas Lambung Mangkurat (ULM), Hasnuryadi Sulaiman CEO Barito Putera yang juga putra tokoh Kerukunan Keluarga Bakumpai H Abdussamad Sulaiman HB, dan Kasmudin seniman Bakumpai senior, sekaligus pemimpin Sanggar Ije Jela.

Setia Budhi berterima kasih atas penganugerahan gelar kebangsawanan yang diberikan Kesultanan Banjar. “Kesultanan Banjar mengapresiasi bahwa putra-putri Bakumpai yang berprestasi di bidangnya, diakui oleh Kesultanan Banjar,” ujar Setia Budhi saat dihubungi jejakrekam.com, Senin (14/6/2021).

Budhi menjelaskan dalam perjalanannya, suku Dayak Bakumpai dan Kesultanan Banjar memiliki hubungan yang harmonis. Dia menyebut orang-orang yang bermukim di Daerah Aliran Sungai (DAS) Barito, terutama dari Suku Dayak Bakumpai bahu membahu bersama Pangeran Antasari di Perang Barito di pertengahan abad ke-19 silam.

BACA : Pemkab Barito Utara Berencana Angkat Kerangka Kapal Onrust

“Kesultanan Banjar sejak lama bersatu padu, terutama dalam masa kolonial,” ucap alumnus doktor dari University Kebangsaan Malaysia ini.

Ilustrasi mengambarkan kapal perang Onrust Belanda saat menggempur benteng pertahanan pejuang Banjar dan Dayak di DAS Barito.

Lantas apa saja saran Budhi untuk Kesultanan Banjar? Dia mengatakan ke depan, Kesultanan Banjar perlu untuk mengungkapkan kembali jejak-jejak relasi hubungan antara kerajaan dengan Suku Dayak di DAS Barito.

Salah satu bentuk konkretnya, ditegaskan Budhi adlah Kesultanan Banjar untuk melobi Pemkab Barito Utara untuk mengangkat bangkai kapal perang Belanda Onrust yang tenggelam tahun 1859, di Sungai Barito, Muara Teweh, Kabupaten Barito Utara (Barut).

BACA JUGA : Suku Bakumpai, Penyambung Kesultanan Banjar dengan Masyarakat Dayak

“Kapal perang Onrust, bisa saja difungsikan menjadi museum, ataupun monumen perang Barito di masa yang akan datang,” ucapnya.

Budhi mengaku cemas jika kapal perang Onrust tidak diangkat secepatnya, karena dikhawatirkan puing-puing Kapal ini akan lapuk termakan zaman.

“Kesultanan Banjar bisa saja melobi Kerajaan Belanda, dan pemerintah daerah di DAS Barito, sebab kapal Onrust situs paling penting dalam perang Barito,” imbuh Budhi.(jejakrekam)

Penulis Ahmad Husaini
Editor Didi G Sanusi

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.