Helat Malam Apresiasi Seni, Dispusip Umumkan Juara Cipta Puisi Banjir Tanah Laut

0

PERHELATAN Malam Apresiasi Seni yang diselenggarakan oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip) Kabupaten Tala, mengumumkan tiga pemenang lomba cipta puisi Banjir Tanah Laut.

JUARA pertama diraih oleh Rizky Burmin dengan judul puisi: Di Antara Angsau dan Pabahanan. Juara kedua yakni Rizqie MA Atmanegara dengan judul puisi: Bumi Kijang Emas Dalam Bahtera Nuh Berlayar di Atas Kesaksian Air Mata. Sedangkan juara ketiga diraih oleh Muhammad Alpianoor dengan judul puisi: Mengkaji Aksara Banjir.

“Momentum ini sekaligus kita memperingati Hari Korban Anak Perang se-Dunia yang diperingati setiap 4 Juni. Serta mengingat terjadinya banyak korban anak-anak di Palestina,” ucap Ketua Pelaksana, Hanil Sadikin kepada jejakrekam.com, pada Jumat (4/6/2021).

BACA: Lewat Puisi, BKM STIKIP PGRI Banjarmasin Suarakan Isu Bencana Indonesia

Tema cipta lomba puisi, kata Hanils, merenungi isu Banjir yang terjadi di beberapa wilayah Kabupaten Tanah Laut. Ia menyebut, ada 37 peserta secara umum yang mengikuti lomba cipta puisi tersebut.

“Banyak yang mengikuti dari Balangan, Banjarbaru dan daerah lainnya, Alhamdulillah dari Tanah Laut juga bermunculan. Sekitar puluhan orang, artinya ini bibit yang harus dikembangkan,” ujarnya.

Hanils berharap, ke depannya terhadap bibit kesusastraan, agar berani mengekspresi karyanya lewat media apapun, termasuk media sastra ini.

Pemenang pertama lomba cipta puisi yakni Rizky Burmin, bercerita terkait puisinya diangkat dari kisah nyata. Yaitu tentang jembatan yang putus di Bumi Tuntung Pandang tersebut. Beberapa bulan terakhir, ia mengisahkan bahwa tragedi banjir yang menimpa warga Tanah Laut. Banjir bandang, menghantam ruas jalan hingga putusnya sebuah jembatan di wilayah Desa Angsau dan Desa Pabahanan.

“Peristiwa itulah ide dalam puisi saya, merefleksikan situasi banjir bandang yang cukup besar di Tanah Laut,” ungkap Rizky.

Sementara juri lomba, Ali Syamsudin Arsi mengatakan bahwa para peserta lomba cipta puisi memiliki ragam kualitas dalam mengolahnya, baik dari sisi gaya maupun isi puisinya.

Dalam penjurian, ia menekankan bahwa fatalnya suatu karya ketika kesalahan menulis, “Menulis ejaan yang salah itu fatal. Misalnya menulis jejak malah nulis jejek, maka hal itu tidak dapat ditolerir dalam suatu karya puisi. Walaupun kesalahan penulisan itu dipahami pihak juri, tapi tak ada hak juri mengubahnya,” ujar sastrawan asal Banjarbaru itu.

Sementara kepenyair asal Tanah Laut, Ali Arsi berpendapat perlu adanya pembinaan terus menerus. “Lomba-lomba seperti ini sudah cukup baik jika diteruskan, agar mengetahui sejauh mana mereka berkembang,” ujarnya.

BACA JUGA: Nelangsa Sungai Amandit yang Keruh dalam Bait Puisi Budayawan Agus Suseno

“Ya, mereka para bibit baru Tanah Laut sudah cukup bagus menuliskan puisinya, dan sebagian dari mereka ada yang baru mengikuti. Sementara, beberapa penulis lama, anggapannya senior juga ada yang ikut seperti Ariffin Noor Hasbi dan Fahmi Wahid,” tuturnya.

Ia mengakui bahwa para pemenang yang telah dinilainya itu dapat dipertanggungjawabkan. Ali Arsi berharap kedepannya jika ada lomba cipta puisi berikutnya, maka seyogyanya para pemenang lomba per sepuluh besar yang meraih juara tersebut.

“Sebab, lomba cipta puisi ini bukan lomba silat tetapi lomba tersurat. Ia sulit dinilai secara objektif, dan para juri menilik subjektifitasnya masing-masing, berbeda dengan lomba silat. Ada yang menang dan kalah,” tandasnya.(jejakrekam)

Penulis M Rahim Arza
Editor Ahmad Riyadi

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.