Bukan Totemisme, Ritual Malabuh Wujud Persahabatan Gaib dengan Buaya Kuning

0

DI TENGAH modernitas, ternyata kepercayaan atau tradisi sedekah ke sungai atau ritual malabuh karena bersahabat dengan makhluk seperti buaya kuning, masih dipegang sebagian warga Banjarmasin.

SEDEKAH itu berupa sepiring kecil lakatan (beras ketan) kuning dan putih, kemudian telur ayam kampung matang yang dilarung atau ditenggelamkan ke sungai. Peristiwa ini juga disaksikan langsung budayawan yang juga dosen UIN Antasari Banjarmasin, Humaidy Ibnu Sami pun mengungkap tradisi malarung ini terjadi pada Jumat (14/5/2021) lalu usai shalat Ashar di Sungai Martapura, kawasan Teluk Tiram Laut, Banjarmasin Barat.

“Selain lakatan kuning dan putih, ada pula beberapa lakatan yang dibungkus daun pisang, kopi pahit-kopi manis, susu, air degan (banyu nyiur anum), air putih, pisang mauli dan wadai basah yang dinikmati bersama oleh banyak orang terutama kerabat dan keluarga,” ungkap Humaidy dalam akun facebooknya dikutip jejakrekam.com, Minggu (30/5/2021).

Peneliti senior Lembaga Kajian Keislaman dan Kemasyarakatan (LK3) Banjarmasin ini pun didapuk sebagai pembaca doa selamat, sebelum acara larung ke sungai. Termasuk, mengawal upacara hingga ke batang mandi (dermaga terapung) di atas sungai. “Sesudah itu, saya juga mendapat bagian pembasahan kedua kaki dari air sungai tempat pelarungan,” beber Humaidy.

BACA : Berita Teror Buaya, Monster Air Sungai Barito dan Atraksi Paaliran Pukau Pejabat Hindia Belanda

Ia mengakui ada yang menganggap perbuatan ini sebagai sesuatu yang sudah terjatuh ke dalam syirik, karena menyekutukan Allah SWT dengan makhluk lain. Ada pula yang menganggapnya sebagai khurafat karena makhluk gaib termasuk buaya kuning sebagai makhluk jejadian yang diyakini bisa membikin mudharat dan manfaat.

“Lalu, ada pula yang menganggapnya sebagai prilaku bid’ah yang tak pernah diperbuat Nabi Muhammad Saw yang sesat lagi menyesatkan. Atau ada yang sekadar menyebutnya sebagai perbuatan mubazir selaku orang yang mengikuti langkah-langkah setan yang terkutuk. Apalagi, itu merupakan perkara haram yang dilarang oleh Allah dan Rasul-Nya karena membuat makanan seperti terbuang sia-sia,” beber Humaidy.

Namun, Humaidy mengatakan menghargai semua pendapat itu. Tetapi di mata magister pendidikan Islam lulusan UIN Kalijaga Yogyakarta ini mengatakan pendapat lain, selama orang yang bersahabat dengan buaya kuning itu, tidak sampai menganggapnya sebagai saingan Tuhan atau bahkan nampak menuhankan.

“Tapi, yang bersangkutan tetap meyakininya sebagai makhluk Tuhan juga adanya, tidak apa-apa dan boleh-boleh saja. Apalagi, jika ia menganggapnya makhluk gaib itu terdapat juga golongan yang sebagai fakir-miskin yang termasuk mustahiq zakat. Ya, mestinya boleh mendapat pembagian zakat baik zakat mal (harta) dan zakat fitrah. Atau setidaknya boleh dong mendapat sedekah, nafkah, hibah dan hadiah,” paparnya.

Ilustrasi buaya kuning, sumber : Kalbar Oke

BACA JUGA : Misteri ‘Kerajaan Gaib’ Pulau Kadap dalam Bait Lagu Khairiadi Asa

Apakah soal sesajen yang dilarung apakah tidak terbuang sia-sia? Humaidy berbendapat tidak. Ini karena di dalam sungai banyak makhluk Tuhan keragaman hayati, yang di antaranya mungkin ada yang memakan sesajen yakni lakatan kuning dan putih yang dilarung. “Selain itu, cuma berapa duit sih yang terpakai untuk mengadakan sesajen itu, sedikit sekali mungkin tidak sampai harga sefitrah,” paparnya.

Soal tradisi bersahabat dengan buaya kuning ini sebenarnya telah menjadi objek riset perguruan tinggi. Seperti yang dilakukan Basrian, Maimanah, dan Arni dari Fakultas Ushuludin dan Humaniora IAIN (UIN) Antasari yang dimuat di Jurnal Tashwir Vol. 1 No.2, Juli – Desember 2013.

Dalam risetnya bertajuk Kepercayaan dan Perilaku Masyarakat Banjar dalam Hubungan Kekerabatan dengan Buaya Jelmaan di Banjarmasin dan Banjarbaru, tiga peneliti mengambil kesimpulan meski kuat dari memegang ajaran Islam, namun sebagian warga Banjar masih percaya adanya jalinan hubungan kekerabatan dengan buaya.

“Masyarakat Banjar adalah masyarakat tradisionalis yang cenderung menerima tradisi dan budaya yang diwariskan turun temurun. Adanya kepercayaan, perilaku dan hubungan kekerabatan sebagian masyarakat Banjar terhadap binatang buaya di Banjarmasin dan Banjarbaru sesuai dengan teori totemisme,” tulis mereka.

BACA JUGA : Misteri Pulau Kembang, Antara Penguasa Gaib dan Tenggelamnya Kapal Dagang Inggris

Hanya saja, beber dia, yang membedakan tidak ada pengakuan mereka menyebutkan bahwa binatang buaya itu merupakan leluhur atau nenek moyang mereka.

“Sementara teori totemisme menerangkan sebagaimana dikemukakan Taylor yang mengutip dari Wilken tentang masalah buaya-buaya yang dianggap baik dan bersahabat dengan manusia yang baik, dan menjadi pelindung mereka. Buaya-buaya ini dapat membunuh siapa saja yang dianggap sebagai musuhnya. Persembahan korban selalu dilakukan terhadap buaya itu dan orang berusaha mencari berkah. Hubungan kekerabatan dan kekeluargaan dengan binatang seperti buaya, merupakan paham totemisme,” tulis mereka.

Ritual malabuh ini juga diteliti Mursalin. Pengajar Sejarah Freelance Ganesha Operation mengungkap adanya kepercayaan buaya gaib dalam perspektif Urang Banjar Batang Banyu di Sungai Tabalong yang dipublikasikan di jurnal Universitas Lambung Mangkurat (ULM).

“Ritual malabuh dan simbol yang berhubungan dengan buaya gaib merupakan perwujudan nyata tentang adanya keyakinan ini. Fungsi ritual malabuh adalah memberi makan buaya gaib agar tidak mencelakakan si pemilik. Selain itu ritual malabuh juga merupakan ungkapan rasa syukur kepada Allah karena telah terlindungi dari berbagai bahaya melalui buaya gaib. Simbol-simbol pada ritual malabuh memiliki makna agar manusia menjaga keasrian dan kebersihan lingkungan sungai,” tulis Mursalin.

Tradisi malabuh yang masih dilakukan masyarakat Banjar di tepian Sungai Martapura, sumber foto : Banjarmasin Post

BACA JUGA : Tradisi Malabuh, Persembahan kepada Buaya Kuning

Ia menyebut dalam ritual malabuh nampak adanya sinkretisme. Bentuk sinkretisme itu berupa pembacaan doa selamat sebelum ritual dan permohonan izin kepada Nabi Khaidir sebagai penguasa alam air.

Mursalin juga menegaskan buaya bukan binatang totem, ketika menjadi syarat dijadikan nama marga dari masyarakat yang memujanya. “Buaya gaib identik dengan orang Kalua, walaupun daerah asal kepercayaan terhadap buaya gaib ini berbeda-beda; Desa Kutam dan Candi Agung. Identitas buaya gaib yang disematkan pada orang Kalua disebabkan dua hal,” urainya.

Pertama, beber Mursalin, persebaran orang Kalua ke daerah lain akibat aktivitas perdagangan dan merantau, sehingga mereka cukup dikenal sebagai orang dagang dan pengguna buaya gaib.

“Kedua, adanya tokoh kharismatik dari daerah Kalua yang menguasai buaya sungai. Tokoh karismatik tersebut adalah Datu Kartamina dan Datu Abi. Tukang tamba dan masyarakat yang memelihara buaya gaib dipandang sebagai orang yang mampu langsung berhubungan dengan buaya gaib. Oleh karena itu mereka merupakan tokoh kunci dalam kepercayaan masyarakat terhadap buaya gaib,” tulisnya.

Sedangkan, beber dia, masyarakat secara umum yang juga memercayai adanya buaya gaib bukan merupakan tokoh kunci. “Kepercayaan mereka terhadap buaya gaib diakibatkan adanya hierofani (penampakan yang sakral) melalui fenomena kesurupan seperti buaya gaib,” imbuhnya.(jejakrekam)

Penulis Rahm Arza/Didi GS
Editor Didi G Sanusi

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.