Sang Politisi Sastrawan yang juga Bapak Pengayom Seni Banua; Hijaz Yamani

0

NAMA Hijaz Yamani terus dikenang. Terbukti, di Kampung Buku Banjarmasin di Jalan Sultan Adam, foto sang penyair kawakan Kalimantan Selatan ini terpampang bersama sastrawan dan budayawan ternama Banua.

YA, Hijaz Yamani merupakan salah satu sastrawan, budayawan sekaligus politisi yang andal. Tak mengherankan, banyak karya sastra terutama puisi baik bernuasa religius maupun menggambarkan keseharian Banua, seakan abadi di tengah dunia sastra Kalsel.

Ketua Dewan Kesenian Kota Banjarmasin, Hajriansyah pun mengenang sosok Hijaz Yamani sebagai seorang penyair sekaligus pengayom para pelaku seni yang sudah tak bisa dipungkiri.

“Almarhum sudah dikenal sejak tahun 1950-an. Karyanya bersama Yustan Aziddin dan D. Zauhidie, dikenal sebagai Penyair Tanah Huma–begitu disebut merujuk kepada kumpulan puisi Tanah Huma (Pustaka Jaya, 1978),” ucap Hajriansyah kepada jejakrekam.com, Senin (24/5/2021).

BACA : Kenangan Persahabatan Sastrawan Hijaz Yamani dan Subagio Sastrowardoyo

Menurut owner Kambuk Banjarmasin ini, selain sebagai penulis, Hijaz juga seorang aktivis, organisatoris, bapak pengayom sastrawan Kalimantan Selatan.

Terbukti di dunia politik dan organisasi kemasyarakatan, prestasi Hijaz juga tergolong moncer. Hijaz pernah menjabat Ketua PC Nahdlatul Ulama (NU) Banjarmasin, Wakil Ketua PW NU Kalsel, penggerak berdirinya Gerakan Pemuda Ansor di Banjarmasin.

Di era Orde Baru hingga memasuki era Reformasi, Hijaz Yamani pernah menjabat Ketua DPC PPP Banjarmasin, Wakil Ketua DPW PPP Kalsel, Ketua DPRD Kota Banjarmasin hingga Wakil Ketua DPRD Kalsel dari PKB.

“Pak Hijaz Yamani merupakan pendiri Dewan Kesenian Kalsel, dan banyak lagi jabatan politik dan kebudayaan yang membuatnya jadi sosok yang lengkap,” kata seniman muda Kalsel ini.

BACA JUGA : Gelar Malam Puisi Ramadhan, 10 Penyair Kalsel Tampil Live di Taman Budaya

Menurut Hajriansyah, sajak-sajak karya Hijaz Yamani banyak bertebaran dalam rampai puisi dan bentuk antologi stensilan. Kemudian, dikumpulkan secara lengkap oleh penyair Micky Hidayat yang merupakan putra almarhum, dalam buku Malam Hujan (2012).

“Makanya, pada bulan Ramadhan lalu, kami menggelar malam ngaji puisi untuk mengenang ketokohan seorang Hijaz Yamani dalam karya puisi dan sastra. Bagi kami, generasi yang melanjutkan dunia seni mengenal sosok Hijaz Yamani merupakan seniman pengayom,” tutur Hajriansyah.

Di mata dia, semua yang ada di diri seorang Hijaz Yamani sangat lengkap, seorang politisi yang juga mahir mengarang puisi. Bahkan, dalam sebuah acara radio di RRI Stasiun Banjarmasin, untaian mutiar seputar seni dan ilmu sangat membumi di era 1980-an, hingga kini tetap dikenang.

BACA JUGA : Digarap Sejak 2008, Micky Hidayat Akhirnya Luncurkan Buku Leksikon Penyair Kalimantan Selatan

“Ya, sosok seperti Hijaz Yamani boleh dibilang sangat langka di Kalsel. Mungkin dalam amatan saya, hampir tidak kelihatan, seorang seniman, politisi dan sastrawan yang mengayomi. Sebenarnya, sosok semacam ini sangat dibutuhkan bagi Kalsel demi kemajuan kebudayaannya,” ungkap Hajriansyah.

Tak mengherankan, jika Hijaz Yamani juga namanya berada di deretan para sastrawan nasional. Jejaknya pun ditiru putranya, Micky Hidayat yang juga mengarungi jalan yang sama, besar di dunia sastra dan seni.

“Namun, tentu berbeda antara Hijaz Yamani dengan Micky Hidayat. Sama-sama membesarkan dan besar di dunia seni dan sastra, toh memiliki jalan yang tersendiri. Kita butuh Hijaz Yamani-Hijaz Yamani yang lain,” pungkasnya.(jejakrekam)

Penulis Ipik Gandamana
Editor Didi G Sanusi

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.