Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari; Perintis Embrio Nasionalisme Indonesia

0

Oleh : Humaidy Ibnu Sami

JAUH sebelum munculnya Kebangkitan Nasional dari Budi Utomo dan Syarikat Islam tahun 1908 serta adanya Sumpah Pemuda tahun 1928, Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari (bergelar Datu Kalampayan dan Tuan Haji Besar) dari Kalimantan bersama teman-temannya yakni Syekh Abdussamad Al-Palimbani dari Sumatera, Syekh Abdurrahman Al-Mishry Al-Batawi dari Jawa dan Syekh Abdul Wahab Bugis dari Sulawesi yang dikenal sebagai 4 sekawan atau serangkai dari Jawi atau Melayu (Nusantara) sudah merintisnya sekitar pertengahan sampai akhir abad ke-18 di Haramain (Makkah dan Madinah).

ATAU setidaknya mereka berempat yang dipimpin oleh Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari sudah menciptakan embrio (cikal-bakal) Nasionalisme (faham Kebangsaan) Indonesia.

Dalam catatan sejarah, beliau berangkat ke Haramaian pada tahun 1740 M, sekitar usia 30 tahun, dengan meninggalkan seorang isteri bernama Bajut yang sedang hamil, ketika itu musim haji tiba. Diperkirakan rute perjalanan beliau dari Pelabuhan Kuin atau Pelabuhan Tatas, di Banjarmasin, menuju ke Pelabuhan Sunda Kelapa, Batavia (Jakarta), kemudian ke Pelabuhan Aceh, Pelabuhan terakhir di Indonesia (oleh karena itu Aceh dijuluki Kota Serambi Makkah) di mana beliau menunggu kapal ke India.

Di India, beliau kemudian mencari kapal yang bisa membawa beliau ke Hadramaut, Yaman atau langsung ke Jeddah, Makkah. Perjalanan ke Haramain sangat sulit, bisa dikatakan pertaruhan hidup dan mati, penuh marabahaya badai besar, angin topan, bajak laut, udara panas dan terkadang wabah penyakit yang menghadang, sementara alat transportasi yang ada hanya kapal layar, belum ada kapal api, yang kemampuan daya tempuhnya sangat lamban, akan memakan waktu berbulan-bulan atau tepatnya sekitar 6 bulan lamanya untuk mencapai ke sana.

BACA : Gelar Al Banjary dan Budaya Lokal dalam Ijtihad Syekh Muhammad Arsyad

Sampai di Tanah Suci, masih belum terjamin keselamatan, karena kemungkinan menghadapi lagi marabahaya, seperti menghadapi para perampok Padang Pasir (Arab Badwi) yang tak mengenal belas kasihan, wabah penyakit menular yang melanda dan iklim yang tidak bersahabat.

Di sana, beliau berguru pada ulama-ulama besar yang bisa dikatakan sebagai bintang zaman dalam bidang studi keislaman. Sebut saja di antaranya yang terbesar adalah Syekh Athaillah Al-Mishry, Syekh Sulaiman Al-Kurdi dan Syekh Muhammad Abdul Karim As-Sammani, Al-Qadiri Al-Madani. Di mana beliau, di tiga majelis ini bertemu dengan teman-teman beliau yang sudah aku sebutkan di atas tadi.

Nampak dari nama 4 sekawan atau serangkai ini terutama pada bagian terakhir memakai nisbah daerah masing-masing Al-Banjari, Al-Palimbani, Al-Batawi dan Bugis.. Ini bisa berarti ketika berangkat mereka berempat sudah sangat mencintai daerahnya dengan segala kebudayaannya. Dengan segala kecintaan terhadap kebudayaan  daerah mereka hingga di sana bisa diperkirakan mereka tidak sampai terpengaruh oleh kebudayaan Arab yang menjadi tempat studi mereka, bagi mereka yang penting menyauk keilmuan Islam saja.

BACA JUGA : Jejak Syekh Muhammad Arsyad di Tanah Betawi

Di sini pula, mereka sudah mulai mengkomunikasikan dan menginteraksikan antar daerah mereka secara intens yang bisa dikatakan sebagai silaturrahmi dari empat pulau besar di Indonesia, Kalimantan, Sumatera, Jawa dan Sulawesi. Atau merupakan dialog budaya antara suku Banjar, suku Melayu, suku Jawa dan suku Bugis.

Apalagi hubungan 4 sekawan atau serangkai ini, tidak lagi semata-mata hubungan pertemanan, tapi sudah menjadi bersaudara dan keluarga yang senasib sepenanggungan sebagai berasal dari daerah yang sama-sama terjajah dan sama-sama dari kawasan Nusantara.

Mereka mempunyai semangat yang sama ingin mengembangkan Islam di daerahnya masing-masing. Beliau kemudian disepakati teman-temannya (Syekh Abdussamad Al-Palimbani, Syekh Abdurrahman Al-Mishry Al-Batawi dan Syekh Abdul Wahab Bugis) untuk menjadi pemimpin dari 4 Sekawan atau Serangkai. Terpilihnya beliau sebagai pemimpin 4 Sekawan atau Serangkai mungkin yang utama karena keunggulan pada kecerdasan intelektual, emosional dan spiritual beliau, di samping karena senioritas dan kesalehan beliau.

BACA JUGA : Mengenal Metode Instinbath yang Digunakan Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari

Dengan kepemimpinan beliau 4 Sekawan atau Serangkai pernah berjuang tanpa henti mempromosikan bahasa Melayu dan kebudayaannya (yang menjadi bahasa lingua Franca Nusantara) di Haramain sehingga bahasa Melayu sempat menjadi bahasa kedua sesudah bahasa Arab. Tidak sampai di situ, bahasa Melayu bahkan telah menjadi bahasa ilmu pengetahuan Islam lewat aksara Arab Melayu yang mendunia atau setidaknya telah di kenal oleh dunia Islam. Sebagai bukti kitab Sabilal Muhtadin karya magnum ovus beliau (Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari) pernah dicetak di Makkah, Mesir, Turki dan Beirut.

Setelah beliau selesai menuntut ilmu di Haramain, sekitar 25 tahun di Makkah dan 5 tahun di Madinah, beliau dan teman-teman beliau sebagai 4 sekawan atau serangkai pulang ke kampung halaman mereka masing-masing sekitar tahun 1772 M. kecuali Syekh Abdul Wahab Bugis yang ikut ke Kalimantan karena sudah menjadi menantu beliau.

Kembali ke kampung halaman ini, jelas sebagai bagian dari rasa cinta tanah air yang nanti menjadi inti dari Nasionalisme Indonesia, padahal mereka jika tak pulang mungkin akan lebih enak dan lebih baik bermukim di tanah suci cepat meniti karir keulamaan dan terus bisa menambah dan memperkaya ilmu pengetahuan. Namun mereka tetap hati untuk memilih pulang ke kampung halaman buat berjuang menyatukan Nusantara dengan nafas keagamaan (baca: keislaman).

BACA JUGA : Pemikiran Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari Dikaji Secara Akademik

Sesudah beberapa waktu, mereka berkiprah di daerah masing-masih yang masih terjajah kolonial Belanda. Syekh Abdussamad Al-Palembani dari Palembang salah satu dari anggota 4 Sekawan atau Serangkai pernah mengajak beliau untuk jihad berperang melawan penjajah di medan pertempuran.

Namun beliau menjawab ajakan itu dengan jawaban jihad juga tapi jihad memerangi kebodohan dan kemiskinan melalui pendidikan dan pemberdayaan ekonomi. Sangat berbeda cara keduanya, tapi sama tujuannya yakni untuk membangun bangsa dengan sebaik-baiknya.

Ringkas kata, Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari dan kawan-kawan beliau sudah sangat berjasa dalam mengawali cikal bakal bertumbuhnya nasionalisme Indonesia yang waktu itu bernama Jawi atau Melayu terutama dalam pemberian nafas keagamaan dan kebahasaan.(jejakrekam)

Penulis adalah Dosen Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Antasari

Peneliti senior LK3 Banjarmasin

(Isi dari artikel ini sepenuhnya tanggungjawab penulis bukan tanggung jawab media)

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.