Husairi Abdi

Lambat Basi dan Lebih Diminati, Simak Keunggulan Beras Banjar

0

PASAR tradisional di Kalsel, setidaknya selalu menjual bahan pokok lokal. Salah satunya beras gambut, yang memiliki cita rasa tersendiri di lidah ‘urang Banjar’.

SEPERTI Jamilah (50) pengunjung Pasar Kertak Hanyar Km 7, beras yang jadi kesukaan keluarganya menjadi bahan pokok utama yang dibeli terlebih dahulu, Senin (17/5/2021).

Di toko tempat Jamilah singgahi itu menjual beragam beras. Masyarakat sering membedakan antara beras Jawa dan beras Banjar. Dua jenis beras ini datang dari berbagai daerah di Jawa dan Kalimantan Selatan.

BACA: Menguak Kemiskinan dan Sketsa Model Solusi Berbasis Pemberdayaan

Tapi yang paling disukai ‘urang Banua’ adalah beras Banjar. Terutama yang berasal dari Kecamatan Gambut, Kabupaten Banjar. “Beras Banjar ini disamping enak, juga lambat basi di banding beras Jawa,” ujar Jamilah.

“Selain harga yang masih ramah di kantong, beras Banjar juga khas dan lebih cocok dengan selera keluarga saya, sebab kami tak menyukai beras yang pulen seperti beras Jawa karena terasa lebih lembek, becek, dan berair,” sambungnya.

“Beras yang pulen, menurut selera lokal akan membuat cepat lapar. Keluarga kami lebih suka beras ‘karau’, keras dan berbulir kecil seperti beras Banjar,” bebernya.

Senada apa yang dikatakan Jamilah, Kepala Dinas Pertanian dan Holtikultura Provinsi Kalsel, Ir Syamsir Rahman membenarkan apa yang dikatakan Jamilah. Bahwa beras lokal, lambat basi dibanding beras lainnya.

BACA JUGA: Bulog Kalsel Akan Optimalkan Serap Beras Lokal

Syamsir menjelaskan, saat panen petani menjemur padinya lebih lama. Sehingga kadar airnya betul-betul sudah masuk standar.

“Kemudian cara petani kita menjaga padinya, mereka tidak langsung memasukan kedalam karung. Sebelumnya dimasukan kedalam kindai terlebih dahulu, jadi masih dalam keadaan terbuka, tentu kearifan lokal ini tetap terjaga,” ujarn Syamsir.

“Beda dengan beras Jawa atau beras unggul, mereka langsung dikemas ke dalam karung. Selanjutnya dikirim keluar pulau, kemudian dimasukan lagi dalam gudang, sehingga berasnya lembab. Awalnya belum kering sempurna, ditambah melembab, itulah yang menyebabkan beras Jawa cepat basi,” bebernya.

BACA LAGI: Hadiri Panen Raya di Batola, Pj Gubernur Kalsel: Kita Tak Perlu Lagi Beras Impor

Memang tambah Syamsir lagi, beras lokal itu juga dipengaruhi struktur tanah. “Tanah kita ini ada mengandung semacam pengawet alami, jadi tumbuhnya padi itu sudah menyesuaikan dengan lingkungan sendiri,” ujarnya.

“Beras banjar itu, dibawa ke Mekah pun selama berbulan-bulan masih mampu bertahan, sebab lebih lama malahan lebih enak. Bahkan nasinya yang dingin pun tetap enak, apalagi yang panas,” guraunya.

Meski cenderung keras, nasi dari beras Banjar yang pera (karau) membuat kenyang lebih lama. Terlebih lagi, beberapa jenis beras lokal ini berwarna lebih putih alami dan beraroma harum. “Karakteristik yang disebut terakhir tak selalu ada dalam beras yang datang dari Jawa. Selain itu, karena pera dan berbulir lebih kecil, beras Banjar sangat cocok menjadi bahan utama kuliner lokal, seperti soto Banjar, nasi goreng, nasi kuning, dan lepat,” imbuhnya.(jejakrekam)

Pencarian populer:Macam macam beras Banjar,Beras banjar
Penulis asyikin
Editor Ahmad Riyadi

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.