Misteri Meriam di Kota Marabahan

0

Oleh : Nasrullah

KALAU saja letaknya ditinggikan setengah meter lagi, mungkin dua meriam di depan rumah dinas Bupati Barito Kuala itu akan tampak terlihat gagah oleh masyarakat yang lalu lalang di jalan raya sekitar siring kota Marabahan. Sebagai bahan pembelajaran, keduanya dapat menjadi ‘buku’ yang siap dibaca tentang masa lalu juga tentang berbagai pengetahuan.

ARTIKEL ini dimaksudkan sebagai catatan awal yang dapat membuka pintu informasi dan diskusi tentang dua buah meriam tersebut.

Dua meriam yang moncongnya menghadap sungai Barito tertutup tanaman, seolah sedang mengendap-endap memastikan sasaran di kejauhan sana. Jika kita menghadap ke arah sungai Barito, meriam pertama ukurannya panjangnya tidak kurang sekitar 2,5 meter, sedangkan satunya lagi lebih pendek, sekitar 2 meter.

Saya masih penasaran dengan dua meriam tersebut, meski setidaknya keberadaannya menjadi bukti adanya peninggalan sejarah yang heroik di kota Marabahan pada masa lalu. Namun asal usul dua meriam masih samar, apakah keduanya memang kembar, atau datang dari waktu yang berbeda dan kemudian berada di tempat yang sama. Juga pertanyaan penting, meriam itu milik siapa; pejuang atau penjajahkah? Saya mencoba melacak dua meriam itu dengan tiga pendekatan:

Cerita Rakyat

Pertama mendengarkan cerita masyarakat Barito Kuala. Ingatan saya waktu kecil, pernah mendengar bahwa dua Meriam tersebut adalah kakak beradik. Entah mana yang kakak dan mana yang adik, apakah meriam anjang atau meriam pendek. Entahlah. Cerita lain saya dapatkan kebetulan ketika menunggu antrian vaksinasi tanggal 5 Mei 2021. Di antara beberapa orang tua yang saya tanyakan tentang Meriam itu, mengatakan bahwa letak awal Meriam tersebut ada di depan kantor Komando Distrik Militer (Kodim) 1005 Marabahan yang tepat berada di jantung Pasar Marabahan. Saya pun mengetahui hal tersebut, sebab sejak kecil hingga tahun 1997-an masih melihat meriam tersebut di depan kantor Kodim yang berada dekat pelabuhan kapal di areal Pasar Marabahan. Kantor Kodim 1005 Marabahan sekarang berada di Jalan Panglima Batur Kelurahan Ulu Benteng.

BACA : Kota Marabahan Diyakini Lebih Tua Dibandingkan Banjarmasin

Penjelasan menarik adalah bahwa meriam tersebut ditemukan dalam kondisi terkubur, yang lagi-lagi di sekitar kantor Kodim lama itu. Sayangnya informasi lain tentang meriam tersebut menjadi gelap. Pun tidak ada deskripsi bahkan narasi singkat tentang tahun produksi, ukuran, berat hingga jenis meriam. Saya berusaha memperhatikan angka-angka di bagian belakang meriam, tapi tidak terbaca dengan jelas.

Pun tidak ada hal yang diistimewakan dari meriam tersebut, seperti perlakuan masyarakat mengenai benda-benda pusaka: dimandikan, diberi kain kuning. Tidak ada sama sekali. Meriam tersebut dicat warna hitam dan diletakkan di taman depan rumah dinas Bupati. Itu saja.

Meriam Pejuang atau Milik Belanda?

Kedua, saya mencoba melacak dari catatan masa lalu. Untuk bagian ini, saya belum berani menyatakan catatan sejarah, karena biarlah para sejarawan yang menjelaskan lebih jauh. Barangkali ada ditemukan asal usul kedua meriam. Catatan Maulani dalam sub judul Pemberontakan 5 Desember 1945, dalam buku otobiografinya Melaksanakan Kewajiban kepada Tuhan dan Tanah Air Memoar Seorang Prajurit TNI Z.A Maulani,   menjelaskan senjata yang digunakan pejuang Marabahan melawan Belanda yakni dua pucuk senapan (satu di antara senapan locok untuk berburu), beragam senjata tajam, tombak, mandau, samurai, dan takiari (bambu runcing). Adapun tentara KNIL yang datang menyerbu menggunakan kapal motor. Mereka bersenjata lengkap dan dari arah sungai Barito melepaskan tembakan bertubi-tubi ke arah persembunyian pejuang dengan bren gun (Maulani, 2005: 32-33).

Meriam pendek di depan Rumdin Bupati Barito Kuala di Marabahan.

Dari catatan persenjataan dalam “peristiwa bendera” 5 Desember 1945 di Marabahan itu, baik pejuang Marabahan dan tentara KNIL, jelaslah sama-sama tidak menggunakan meriam untuk bertempur. Kemudian jika tidak ditemukan catatan di era perang kemerdekaan Republik Indonesia, bagaimana dengan perjuangan pada masa pra kemerdekaan. Misalnya pada era perjuangan Panglima Wangkang?

BACA JUGA : Panglima Wangkang dan Taktik ‘Menyerah’ dalam Perang Banjar (1)

Sjamsuddin dalam buku Wangkang: Sang Hulubalang agaknya banyak ditemukan pembahasan tentang meriam. Setelah tenggelamnya kapal Onrust, kemudian dilanjutkan serbuan Belanda menggunakan kapal Suriname dan terjadilah pertempuran Lahei tahun 1860. Saat itu, Wangkang yang bergabung dengan Pangeran Surapati, mereka menggunakan meriam 30 pon yang mereka rebut dari kapal Onrust. Meski meriam itu mampu membuat kerusakan dengan dua tembakan mengenai kapal. Namun, nasib meriam itu tidak dijelaskan ketika benteng Lahei yang kemudian berhasil direbut oleh Belanda (Sjamsuddin, 2013:46). Peristiwa perebutan meriam dari Onrust itu memberikan penjelasan, bahwa pejuang sudah mampu menggunakan meriam, tetapi apakah meriam yang digunakan itu sama dengan yang di Marabahan tentu sulit dipastikan. Apalagi meriam di Marabahan ada dua buah, sedangkan meriam yang direbut tidak dijelaskan jumlahnya tetapi cenderung hanya satu buah.

Kemudian setelah pertempuran Lahei, dalam buku Wangkang: Sang Hulubalang dijelaskan kembali kepemilikan senjata yang digunakan yakni ketika pengaruh Wangkang semakin bertambah kuat. Para pengikutnya bertambah menjadi 200 orang dari Tanah Dusun (mereka barangkali telah dikirim lebih dahulu oleh Sultan Muhammad Seman), dan 300 orang dari Bakumpai dan Margasari. Senjata-senjata mereka terdiri dari senapan, tombak, dan klewang (Sjamsuddin, 2013: 107). Sebagaimana garis miring dari saya, diketahui tidak ada meriam yang digunakan Panglima Wangkang dan pengikutnya.

BACA JUGA : Ditakuti Kolonial Belanda, Keberanian Panglima Wangkang Datangi Benteng Tatas (2)

Begitu pula dengan tokoh-tokoh lain yang merupakan pendukung Pangeran Antasari. Putra, menantu dan pengikut Tumenggung Surapati dipersenjatai 60 senjata api: senapan, pamoras, “bedil-bedil dan pistol-pistol buatan Negara. Selanjutnya, di Sungai Alang-Alang, Gusti Muhammad bersembunyi dengan 25 orang pengikutnya, dipersenjatai tombak, klewang dan senjata api (Sjamsuddin, 2013: 119). Lagi-lagi sebagaimana garis miring dari saya tersebut, tidak ditemukan meriam yang digunakan para pejuang untuk melawan Belanda. Sehingga ada kemungkinan besar meriam dari kapal Onrust tidak digunakan dalam peperangan berikutnya. Padahal jika dikaitkan dengan dua meriam di Marabahan dan sejarah perjuangan tersebut, bahwa para pejuang tengah berada di sekitar kota Marabahan.

Adapun di kota Marabahan sendiri, pada waktu itu terdapat benteng Belanda. Sayangnya, tidak ditemukan deskripsi tentang gambaran benteng tersebut termasuk lokasi dan persenjataannya. Mungkinkah meriam tersebut berasal dari benteng Belanda di kota Marabahan. Ini sebuah pertanyaan menarik, tetapi kita kembali kepada cerita Panglima Wangkang berikut ini.

Masih dalam buku Wangkang: Sang Hulubalang diceritakan bahwa pada hari Jumat tanggal 25 November itu, pada jam 4 pagi Pangeran Tumenggung Danu Karsa mendengar bunyi tembakan Meriam dan bedil dari arah Kuala (Muara) cerucuk, pada mulut Sungai Kuin. Ronggo itu segera mengambil kesimpulan bahwa tembakan-tembakan itu berasal dari pengikut-pengikut Wangkang (Sjamsuddin, 2013: 128). Padahal sebelumnya tidak ditemukan persenjataan pengikut Panglima Wangkang berupa meriam. Bahkan semakin jelas bahwa mereka menggunakan meriam ketika diceritakan pertempuran di kota Banjarmasin. Pengikut-pengikut Wangkang menyerang balik. Mereka menembak dengan meriam swivel (putar), pamoras dan bedil (Sjamsuddin, 2013:  137).

BACA JUGA : Pertempuran Sungai Miai, Antiklimaks Perlawanan Panglima Wangkang terhadap Penguasa Tatas (3-Habis)

Semakin terdapat titik terang, bahwa pengikut Panglima Wangkang telah menggunakan meriam untuk melawan Belanda. Namun lagi-lagi sebuah pertanyaan, apakah meriam yang digunakan itu sama dengan meriam yang didepan Rumah Dinas Bupati Batola saat ini. Agaknya dengan melihat ukuran dan berat Meriam tersebut, secara mobilitas agak susah menggunakan kedua meriam kecuali menggunakan kapal besar yang saat itu belum dimiliki oleh Panglima Wangkang atau pejuang lain.

Hasil penelusuran meriam di Google.

Sebaliknya, ketika terjadi pengepungan pihak Belanda menggunakan kapal perang Banka, Admiral van Kinsbergen, Onrust, Kaptein van Ost mengepung pertahanan Wangkang dan pengikutnya selama dua minggu hingga tanggal 27 Desember 1870. Saat itu, serdadu-serdadu menembakkan kanon 5.5 inci dan melemparkan 15 buah granat dalam benteng (Sjamsuddin, 2013: 146) hingga mengakhiri perlawanan Panglima Wangkang dan pengikutnya. Dengan demikian, jika Onrust saja sudah menggunakan senjata meriam granat (granaatkanon) 24 pon dan enam meriam putar kecil (draaibassen) (Sjamsuddin, 2013: 30) apalagi 11 tahun setelah kapal Onrust tenggelam tentu kapal perang Belanda tersebut semakin dipersenjatai secara lengkap.

Menggunakan Google Lens

Ketiga, saya menggunakan pendekatan teknologi. Bagian ini sesungguhnya tidak membutuhkan keahlian khusus, sebab dengan menggunakan mesin pencari melalui Google Lens dengan memasukkan foto meriam tersebut maka ditemukan bahwa: Meriam panjang terdapat kesamaan dengan meriam reruntuhan benteng batu Spanyol berbentuk segitiga dari tahun 1738 yang memiliki taman dan museum. Meriam itu juga sebagaimana benteng San Pedro kota Cebu Filipina. Meriam pendek terdapat kesamaan dengan meriam tua Portugis. Akan banyak informasi lain jika menelusuri kesamaan demi kesamaan menggunakan pelacak Google lens tersebut, tetapi cukup catatan singkat itu saja untuk membuka informasi adanya keterkaitan dua meriam tersebut dengan meriam lain di berbagai belahan dunia.

BACA JUGA : Ketika Wabah Cacar Mengubah Sejarah Perang Barito-Banjar

Namun secara jujur, saya tidak bisa memastikan mana yang tepat dari berbagai metode itu, sebab satu kelemahan utama saya adalah tidak memiliki pengetahuan yang memadai tentang peninggalan masa lalu seperti pengetahuan para arkeologi. Saya juga tidak mendalami dunia militer terutama soal meriam. Meskipun demikian, ada tiga catatan penutup ingin saya sampaikan.

Pertama, dua meriam di depan rumah dinas Bupati Batola tentu memiliki sejarah yang berkaitan langsung dengan perjuangan melawan penjajahan Belanda yang sepanjang penelusuran saya tidak ditemukan catatan khusus dari mana meriam itu berasal dan milik siapa.

BACA JUGA : Perang Banjar di Hulu Barito dan Karamnya Onrust (2)

Kedua, dari penelusuran sebagaimana artikel singkat ini, dua meriam tersebut sanggup mengajak menembakkan kita ke lorong waktu tentang perlawanan lokal maupun koneksi dengan peristiwa berbagai negara di masa lalu di mana jenis meriam yang sama digunakan juga.

Ketiga, dalam dunia pendidikan terutama pelajaran sejarah, fisika tentang kemampuan daya tembak, kimia tentang bubuk mesiu dan usia meriam sesungguhnya dalam prakteknya ada dihadapan kita. Maka melalui dua meriam itu saja, para pelajar dapat mengambil pengetahuan dari disiplin ilmu apa saja, meskipun asal usulnya dua meriam itu masih misteri.(jejakrekam)

Penulis adalah Dosen Antropologi pada Prodi Pendidikan Sosiologi

FKIP Universitas Lambung Mangkurat.

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.