Tradisi Menyambut Ramadhan di Kalimantan Selatan

0

Oleh : Humaidy Ibnu Sami

DALAM menyambut bulan Ramadhan, umat Islam Kalimantan Selatan atau masyarakat Banjar setidaknya yang kami ketahui, ada enam hal yang dilakukan.

PERTAMA, Tradisi Menabung atau Arisan.  Biasanya masyarakat Banjar menjelang Ramadhan akan membuka tabungan selama sebelas bulan untuk kebutuhan sebulan Ramadhan terutama bagi yang bekerja berjualan makan-minum atau membuka warung makan sebagai untuk bertahan hidupnya sekeluarga sehari-hari.

Ia di bulan Ramadhan sebulan penuh berupaya libur tidak berjualan dan fokus untuk memperbanyak ibadah. Atau ada yang mencabut Arisan beberapa hari sebelum Ramadhan setelah berputar selama sebelas bulan. Arisan itu bisa berupa uang atau sembako (sembilan bahan pokok) seperti beras, gula, garam, minyak goreng, ikan, susu dan lain-lain. Bisa juga cuma arisan salah satu bahan pokok saja seperti gula.

Kedua, Tradisi Bersih-Bersih Tempat Ibadah. Sebelum masuk Ramadhan Masjid dan Langgar dibersihkan secara gotong royong oleh orang sekampung baik keberadaan di dalam lingkunga tempat ibadah maupun kelengkapan sarana prasarananya seperti membersihkan dan mencuci ambal, sajadah dan kain pashafan atau semuanya diganti yang baru. Juga, membersihkan lantai dan dinding dengan disiram, dilap dan disapu serta ada juga dicat baru baik dengan warna sama maupun dengan warna yang lain lagi.

Bisa juga sambil menambah asesoris keindahan tempat ibadah baik berupa lampu seri, lampu hias ataupun hiasan kaligrafi plus spanduk-spanduk yang berisi himbauan agar menghormati orang yang berpuasa dan sedekah bagi orang-orang yang berbuka.

Pada saat ini juga, biasanya sound sistem dan mick serta peralatan sejenisnya diperbaiki atau diperbaharui dan diganti. Bersamaan dengan itu pula, biasanya dibentuk panitia Ramadhan dan list daftar calon-calon orang-orang yang membukakan puasa selama sebulan.

BACA : Jelang Bulan Ramadhan, Pedagang Bunga Tabur Musiman Menjamur di Banjarmasin

Ketiga, Tradisi Ziarah ke Makam Keluarga atau Ulama. Sudah menjadi kebiasaan masyarakat Banjar sebelum memasuki bulan Ramadhan mereka beramai-ramai baik secara perorangan maupun rombongan untuk ziarah ke makam keluarganya atau ulama yang dihormatinya untuk tabur bunga, mendoakan dan membersihkan makam dari rumput-rumput liar yang mengganggu keindahan pemandangan mata.

Ziarah ini bisa dikatakan sebagai tanda kebaktian seorang anak kepada orangtua atau keluarganya yang sudah meninggal dunia baik baru maupun lama. Juga sebagai tanda hormat murid pada gurunya yang telah tiada demi tetap tersambungnya silaturrahmi ruhaniyah antar mereka, karena yang mati itu hanya jasad sedangkan ruh masih hidup untuk selama-lamanya.

Ziarah itu bisa juga, menjadi sarana anak yang masih hidup untuk menghapus dosa sosialnya yang mungkin belum sempat ia lakukan ketika orangtua dan keluarganya masih hidup hingga ia merasa bersih lewat ziarah ketika memasuki bulan Ramadhan yang dianggapnya suci karena penuh dengan rahmat, maghfirah, berkah dan kebebasan dari api neraka.

Keempat, Tradisi Bacahar Parut. Biasanya menjelang datangnya Ramadhan masyarakat Banjar, terutama para Tuan Guru dan keluarganya melakukan pencaharan atau perbersihan perut dari kotoran sisa makanan dan minuman yang dikonsumsi selama sebelas bulan silam.

BACA JUGA : Selama Bulan Ramadhan 1442 Hijriyah, Ini Jam Kerja ASN yang Berlaku

Mereka melakukan pencaharan bisa dengan pengobatan tradisional seperti Begurah yang memasukkan jeruk nipis atau rabukan sahang ke dalam hidung hingga dalam beberapa waktu akan memuntahkan ke mulut banyak lendir dan sisa makanan yang bersemayam lama di dalam perut. Atau secara medis meminum obat broklak yang seperti coklat warnanya, di minum lewat mulut hingga tak berapa lama akan keluar dari perut lewat BAB yang cair dan dalam jumlah banyak. Terasa menjadi kosong dan ringan perut ini, bebas dari kotoran, ampas dari makanan dan minuman yang ada sehingga saat memasuki ibadah puasa sudah dalam keadaan baru dan siap menerima makanan dan minuman yang baru pula produk dari bulan Ramadhan.

Kelima, Tradisi Pasar Wadai. Sebenarnya pasar wadai ini telah tumbuh dan berkembang sejak Banjarmasin dikenal sebagai Kota Sungai, di mana sungai sebagai lalu lintas pelayaran tapi juga sebagai jalan raya perdagangan. Ketika bermunculan pasar terapung saat itu, bisa dipastikan di dalamnya ketika menjelang Ramadhan terdapat pasar wadai.

Bisa dimaklumi, ketika daratan telah berubah menjadi jalan raya perdagangan, menggantikan fungsi sungai masa lalu, maka pasar wadaipun menjadi pasar wadai di daratan menjelang Ramadhan. Biasanya saat Nishfu Sya’ban itu pasar wadai sudah banyak bermunculan untuk mengawali keberadaannya dan semakin mendekati Ramadhan semakin ramai saja bahkan pemerintah daerah menfasilitasi pasar wadai dengan tujuan sebagai wisata kuliner Kalimantan Selatan khusus di bulan Ramadhan.

BACA JUGA : Terbitkan Surat Edaran Ibadah Ramadhan dan Idul Fitri 2021, Simak Panduan Menteri Agama

Adapun wadai yang diperjualbelikan kebanyakannya wadai langka yang munculnya tahunan, adanya di bulan Ramadhan saja seperti Wadai Lapis, Amparan Tatak Pisang, Puteri Selat, Sarimuka, Kakaraban, Lapis Panganten dan lain-lain. Meskipun pada saat pandemi, tidak diperkenan pemerintah daerah ada pasar wadai secara formal, tapi pasar-pasar wadai dadakan yang informal tetap ada di kampung-kampung dan di pinggiran-pinggiran kota untuk menunjukkan eksistensinya.

Keenam, Tradisi Berkahwin. Nampaknya menjelang Ramadhan atau pada bulan Sya’ban semakin banyak masyarakat Banjar melangsungkan acara perkawinan baik di rumah maupun di gedung-gedung bahkan di hotel-hotel, lebih banyak daripada bulan-bulan lainnya. Mengapa terjadi begitu ? Jawabnya karena bulan Sya’ban itu adalah bulan baik yang hanya kalah dengan bulan Ramadhan.

BACA JUGA : Ramadhan Sebentar Lagi Tiba, Pasokan Kurma Melimpah dari Jakarta dan Surabaya

Bulan Sya’ban disebut sebagai bulan Nabi Muhammad Saw, di mana perubahan arah kiblat dari Masjid Al-Aqsha di Palestina berubah menjadi ke Masjid Haram di Makkah atas keinginan beliau yang dikabulkan Tuhan. Sya’ban juga, adalah waktu turunnya ayat yang memerintahkan kaum muslimin untuk bersalawat kepada Nabi Muhammad Saw, karena Allah sendiri dan para Malaikat bersalawat kepada beliau, masa kita sebagai hamba Allah dan umat beliau tidak bersalawat.

Dengan perkawinan di bulan Sya’ban yang baik diharapkan kedua mempelai menjadi keluarga yang baik, sakinah mawaddah wa rahmah, Tuntung Pandang dan Ruhui Rahayu hingga memasuki Ramadhan akan terpelihara dan lestari kebaikan tersebut bahkan berkat Ramadhan akan langgeng tak terpisah sampai mati.(jejakrekam)

Penulis adalah Staf Pengajar Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Antasari Banjarmasin

Peneliti Senior LK3 Banjarmasin

(Isi dari artikel ini sepenuhnya tanggungjawab penulis bukan tanggung jawab media)

Pencarian populer:tradisi romadlon di banjarmasin

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.