Pohon Jingah dalam Hikayat Banjar, dari ‘Kajingahan’ dan Tradisi yang Mewarnai (2-Habis)

0

Oleh : Iberahim

DALAM Hikayat Banjar Resensi I beberapa kali pohon jingah ini disebut dalam narasi cerita. Salah satu di antaranya.

“MAKA rakyat Pangeran Samudra itu tiada beroleh bermara itu, sukarlah kerana sungai kipit, bermandak di muara-hulak Negara-Daha itu. Maka bertiup angin ribut serta hujannya, maka lalaju dan umbul-umbul dan tatunggul wulung wanana putih Pangeran Samudra itu rebah, tiada terkajai oleh yang memegang. Maka rakyat Pangeran Samudra yang berperang itu banyak mati, hendak kawalahan.

Maka kata Patih Masih: “Tabangakan kaju (kayu) djingah yang bujur-bujur itu, tajak akan mahugarakan tatunggul wulung wanara putih itu.” Sudah itu maka dikerjakan orang seperti kata Patih Masih itu, tiada rebah tatunggul wulung wanara putih-putih itu. Maka mengkot pula perangnya rakyat Pangeran Samudra itu; kawalahan rakyat Pangeran Tumanggung itu, masih ditegurnya oleh rakyat Pangeran Samudra itu. Maka banyaklah mati rakyat Pangeran Tumanggung itu. Banyak tiada tersebutkan”.

Berikutnya :

“Maka anak kayu djingah yang tempat maugar tatunggul wulung wanara putih tatkala rabah kena angin ribut, djingah itu hidup. Dinamai Tunggul Mata Wulung itu. Masih membawa tanda: lamun dahannya itu tiada angin maka ripah sendirinya itu alamat ada para dipati mati lamun pucuknya ripah sendirinya itu alamat raja mati. Itu tandanya dahulu sampai pada sekarang ini. Maka Negara-Daha itu menjadi desa bernama Negara itu, sampai pada sekarang ini. Lamun djingah itu ripah tahulah orang Negara itu ada para dipati atau para menteri-menteri mati itu”.

BACA : Cerita Jingah, Pohon yang Dikeramatkan dan Saksi Bisu Eksekusi Mati

Dalam Hikayat Banjar Resensi II tentang pohon jingah ini juga disebutkan dalam narasi tentang peristiwa pembunuhan raja yaitu :

Pangeran Tumanggung amat pakar dalam bidang wayang, topeng, baksa dan gambus. Suatu hari, ketika beliau bermain wayang lakon Perang Jaya, pada saat cerita hampir mencapai puncaknya, beliau ditikam oleh salah seorang suruhan Sukarama, yaitu pembakal Mardata Nagara. Orang ini berpura-pura mengatakan ia dalam bahaya dan meminta perlindungan dalam istana. Bila pembunuh ini berenang menyeberangi sungai, datang kepada Pangeran Sukarama, beliau dibunuh oleh Sukarama dengan kerisnya sendiri. Sukarama pura-pura pula marah atas kejadian itu. Suatu kegemparan telah berlaku, diikuti pula oleh bencana alam semula jadi. Puncak pohon jingah di Chandi Agung patah. seperti yang biasa berlaku apabila seorang raja agung mangkat.

Kemudian Salomon Mulle,  seorang naturalis berkebangsaan Jerman dalam laporannya yang dimuat dalam Verhandelingen over de natuurlijke geschiedenis der Nederlandsche Overzeesche Bezittingen Tahun 1839 — 1844 menulis ; Patut disebutkan bahwa sedikit di bawah/menghilir dari Kampong Kaju-tangi, dekat desa Ambulung, terdapat pohon ara (Ficus benjamina) yang besar dan bercabang lebar, yang disebut Pohon Djinga, yang mana kepercayaan takhayul membuatnya terkenal,

BACA JUGA : Rumah Banjar Sungai Jingah Makin Menghilang

Seperti menjadi tradisi, bahwa setiap kali ranting jatuh darinya, seorang anggota keluarga kerajaan juga akan jatuh (mati): jika ranting seperti itu patah di bagian bawah pohon, pertanda kematian seorang pangeran atau putri; Sebaliknya, jika patah dari bagian atas atau puncak, niscaya berhubungan dengan kehidupan Panembahan (tanda kemangkatan).

Lalu jika ada orang yang sudah terlanjur terkena getah jingah bagaimana cara mengobatinya? Dalam kepercayaan tradisional budaya Banjar, pengobatannya dengan cara macam-macam. Sebagian caranya diatas sudah dijelaskan yaitu dengan pohon putat. Dipercaya pohon putat dapat menangkal racun dari pohon jingah atau pohon rengas. Nama lain dari pohon putat iyalah raja putat, bagian dari pohon putat seperti daun dan yang lainya dapat menjadi penangkal atau sebagai jimat agar terhindar dari efek samping dari racun pohon jingah atau rengas.

Suasana anak-anak tepian Sungai Martapura yang mandi difoto seorang fotografer Belanda di era kolonial (Sumber : KIITLV Leiden)

Kemudian menurut Hatmiati Masy’ud seorang sastrawan dan akademisi di STAI Rasyidiyah Khalidiyah Amuntai yang sekarang menjadi salah satu komisioner KPU Kalsel menceritakan pengalaman masa kecilnya. Ketika itu dirinya senang mandi berenang di sungai (balumba-pen). Meloncat dari pohon jingah.

Akhirnya sesuatu pun terjadi. Sekujur tubuhnya berwarna kemerahan dan terasa gatal. Ternyata terkena getah jingah (kajijingahan). Cara mengobatinya sungguh unik. Pohon jingah diminyaki kemudian beliau berkeliling sambil baigal (berjoget).  Mungkin terkesan lucu dan tidak masuk akal bagi sebagian orang.

BACA JUGA : Tanpa Perlindungan Hukum, Rumah Berarsitektur Banjar di Sungai Jingah Bisa Punah

Ada lagi cerita seorang pekerja sawmill di Alalak yang pernah mengolah kayu jingah, agar tidak terkena getahnya maka caranya dengan “mengajak” kayu jingah kawin. Cukup mengucapkan kalimat “ikam kukawini jingah ae (jingah, kamu aku kawini-pen)”. Kalau sudah terlanjur terkena getah jingah cukup dengan ramuan dari daun putat muda dicampur dengan bedak bayi lalu dioleskan ke bagian tubuh yang terkena getah jingah.

Selain pengobatan cara “pribumi”, ternyata pihak kolonial Belanda punya cara pengobatan yang menurut penulis adalah ilmiah. Dalam buku karya Jean Marine Charles Edoeard Le Rütte yang berjudul Episode uit den Banjermasingschen oorlog : expeditie tegen de versterking van Pangeran Hijdaijat terbitan tahun 1863 dikisahkan bahwa saat itu sekitar tengah hari ketika Suta-Ono memperingatkan kami sekarang untuk berhati-hati dalam memakan buah apa pun yang akan kami temukan di jalan, karena kemungkinan besar mereka telah diracuni. Ia juga menyarankan untuk tidak menggunakan air dari sungai kecil, karena sudah menjadi kebiasaan para daijakker untuk mencampurkannya dengan racun juga.

Menurut dia, buah-buahan yang diracuni, akan mudah dikenali dengan menyimpannya hanya untuk satu hari, seolah-olah membusuk; racun akan ditusuk dengan bambu runcing halus. Dalam catatan kaki di buku tersebut tentang buah-buahan yang diracuni disebutkan; Semacam racun diperoleh dari pohon Ingas, di sini disebut Jinga; Mengeluarkan getah dari kulit kayu, yang mengalir putih dan segera mengering menjadi hitam; Jenis lain, disebut Seririn, ini juga mengandung racun, tetapi dicampur dengan cara lain.

BACA JUGA : Sungai Jingah, Kampungnya Saudagar Banjar (1)

Pohon itu, Kajoe Ingas atau Djinga, adalah Antiaris toxicaria yang sangat terkenal, yang termasuk dalam Urticaceae, yang pernah menjadi cerita yang luar biasa. Fakta bahwa hanya ada satu dari mereka, yang membuat layu segala sesuatu di sekitarnya, bahwa burung-burung yang hinggap di dahan-dahannya bisa mati lebih terkenal daripada mati akibat kita terus minum bir untuk waktu yang lama. Namun, saya diberi tahu bahwa jenis yang berbeda juga mengalami efek racun yang berbeda.

Untuk meyakinkan diri saya tentang hal ini, saya pernah pergi dengan seorang Tionghoa dan seorang Jawa ke Morilli dekat Pengaron di tambang batu bara Oranje Nassau dan setelah mendapatkan sedikit getah dari pohon (jingah-pen) yang indah setinggi lebih dari 100 kaki, melalui sayatan kecil, saya mengolesi getah yang masih berwarna putih susu ini di lengan orang Tionghoa, Jawa dan saya sendiri. Untuk kami bertiga, dalam waktu setengah jam kulit kami telah menghitam, konsekuensi akibat kulit tersentuh getah mengalami ekskoriasi (kerusakan jaringan kulit) dan peradangan kulit.

Suasana Sungai Martapura yang masih banyak ditumbui pohon jingah (sumber : KITLV Leiden Belanda)

Pemulihan sederhana dengan mengolesi minyak zaitun (oleum olivarum) adalah obat terbaik untuk kontaminasi getah ini. Beberapa sapeur (prajurit di bagian teknis) dan tentara Pribumi, yang wajahnya sangat bengkak karena kontaminasi itu, telah saya perlakukan sedemikian rupa dan disembuhkan tanpa meninggalkan bekas. Pohon-pohon ini ditemukan di seluruh Borneo; Saya pernah melihat pohon tersebut di Pengaron, di Amoenthay, di Sungai Aiju dan di Kutei, di mana tepi Sungai Mahakam dipenuhi oleh pohon-pohon itu.

BACA LAGI : Melintas Batas Benteng Tatas, Dibina Inggris hingga Bumi Hangus

Resep kolonial di atas patut dicoba bagi mereka yang tak percaya cara pengobatan takhayul. Namun seganas apapun racun getah Jingah ini, ternyata tidak ada apa-apanya dibanding“keberanian” Orang Banjar. Bukannya pohonnya dihindari malah buahnya dimakan. Tapi ini adalah bukti kreatifnya Orang Banjar.

Mungkin karena kebingungan memberi nama kue yang terbuat dari campuran singkong, parutan kelapa dan sedikit tepung beras maka kue yang dibuat dengan cara digumpal-gumpal dan digoreng ini diberi nama “Buah Jingah”. (jejakrekam)

Penulis adalah Pemerhati Sejarah Banjar

Ketua Lembaga Adat Kerajaan Pulau Laut Korwil Banjarmasin

Sekretaris Syarikat Adat, Sejarah dan Budaya (SARABA) Hulu Sungai

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.