Kembalikan Fitrah Sungai Demi Menuai Berkah

0

Oleh : Anang Rosadi Adenansi

MASALAH banjir yang kerap mengancam Kota Banjarmasin, sebenarnya akan terpecahkan jika ada niat dan kemauan untuk menuntaskannya.

INILAH mengapa kami akhirnya turut berkiprah dalam menuntaskan masalah yang menjadi biang banjir atau calap ketika melanda kota. Salah satu contohnya seperti pengerukan Sungai Tatas dan Belasung yang menjadi saluran limpahan air yang kerap merendam ruas Jalan Lambung Mangkurat, Banjarmasin.

Jujur saja, bertahun-tahun kawasan itu selalu terendam, karena aliran air terhambat, ketika jalur air yang harusnya tersalurkan ke Sungai Belasung dihadang bangunan dan pelebaran. Nah, ketika dikeruk, ternyata jalan yang sering terendam di depan Bank BNI, Jalan Lambung Mangkurat jauh lebih berkurang dalam intensitas dan ketinggian air yang jauh lebih rendah dibandingkan tak keruk aliran airnya ke Sungai Belasung.

Ketika air pasang di Sungai Martapura dan anak sungai, ketika curah hujan tinggi, maka setiap jalan yang mengambil nama pahlawan kerap terendam. Padahal, jalan-jalan yang mengambil nama pahlawan merupakan jalan protokol. Ini artinya, SK Walikota Banjarmasin jelas tidak spesifik menyebut wilayah tertentu, apalagi koneksitas sungai yang harusnya dinormalisasikan atau direvitalisasi.

BACA : Privat: Banjarmasin Kembali Calap, Pemkot Peringatkan Ketinggian Muka Air Capai 2,7 Meter Awal Mei

Nah, ketika jalur air yang menggenangi jalan bisa dikeruk, maka hukum alam pun terlihat, karena saat curah hujan lebat-lebatnya melanda Banjarmasin, limpahan air itu bisa tersalurkan ke sungai-sungai yang telah dikeruk.

Terlihat jelas, jalan sudah relatif aman dari genangan air, kalau pun tinggi, hanya pada bagian sisi badan jalan. Bukan mengklaim keberhasilan, tapi ini fakta pengerukan sungai yang selama ini jalur airnya terhambat telah lancar, maka sudah terkoneksi ke Sungai Telawang.

Dalam rumus sederhana, sebenarnya untuk menangani masalah perkotaan atau Kalimantan Selatan, sebenarnya tidak ada istilah tidak bisa dan tak mungkin. Apalagi, tokoh-tokoh agama seperti KH Muhammad Bakhiet (Guru Bakhiet), Wakil Rektur UIN Antasari Dr H Sukarni, dan dosen senior yang juga pemuka agama, H Karyono Ibnu Ahmad, turut mendukung upaya untuk mengembalikan jati diri sungai yang menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas Kota Banjarmasin.

BACA JUGA : LPM INTR-O FISIP ULM Luncurkan Majalah Terbaru, Bahas Problem Banjir dan Sungai di Banjarmasin

Sebagaimana pesan para tokoh agama dan ulama-ulama sufi, jangan pernah menyalahkan alam atas bencana, Tuhan tidak merusak ciptaan-Nya, kecuali tangan-tangan manusia. Indah nian memang jika pemerintah kita benar-benar serius dan selalu memegang kepentingan publik di atas segalanya.

Pesan moral kita adalah menyelamatkan sungai untuk dikembalikan sesuai fungsinya, tentu akan membawa berkah dan kembali fitrah bagi kita semua, bukan bencana yang datang. Dalam gerakan untuk mengembalikan fungsi sungai, maka sungai-sungai kecil yang mengelilingi kota ini memang harus kembali ke fitrahnya. Makanya, dapur dan badan rumah yang mengambil hak sungai, harus mendapat perlakuan khusus dari pengampu kebijakan di kota ini.

Kita yakin jika menghargai keberadaan sungai dan mengembalikan fitrahnya, seperti pesan-pesan para pemuka agama kita, maka manfaatnya akan terasa. Bukan hanya soal antisipasi banjir, tapi juga berkah lain yang didapat seperti tersedianya sumber air baku dan kehidupan makhluk hidup di dalamnya. Sungai-sungai di Banjarmasin harus kembali ke fitrah asalnya, jika bisa sekarang, mengapa harus menundanya terlampau lama? (jejakrekam)

Penulis adalah Ketua LSM Mamfus Banjarmasin

(Isi dari artikel ini sepenuhnya tanggungjawab penulis bukan tanggung jawab media)

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.