Tradisi Maanyan dari Kerajaan Nansarunai, Panglima GMTPS Berpesan Jaga Nilai Leluhur

0

PEMERHATI sekaligus pegiat budaya Dayak Maanyan, Anthonius Limpau ingin mempertahankan pelestarian seni dan budaya leluhur dari Kerajaan Nansarunai yang hampir dilupakan.

DARI mitos serta kisah-kisah abadi yang dituturkan oleh leluhur, ia meyakini bahwa seni dari budaya-budaya terdahulu yang erat dengan tradisi Dayak Maanyan adalah peninggalan Kerajaan Nansarunai yang tidak pernah hilang dalam kehidupannya.

Mulai dari adat perkawinan, mantera penyembuhan hingga ritual keagaman yang tidak boleh dilakukan selain agama keyakinan Kaharingan, yaitu seperti Diki Hiang, Santangis, Natas Banyang, Tumet Leot serta ucapan Purih Amah dan Purih Ineh.

“Dalam sejarah Nansarunai, kisah-kisah abadi itu maksudnya kisah yang tidak pernah berakhir. Orang-orang terdahulu tidak pernah menghilangkan, sejak zaman Nansarunai hingga sekarang. Misalnya, tradisi dalam adat Balian itu menggunakan Diki Hiang, ia seperti mantera untuk penyembuhan seseorang hingga sekarang masih dilakukan dari peninggalan leluhur,” ucap Anthonius Limpau kepada jejakrekam.com via Whatsapp, pada Jum’at (2/4/2021) malam.

BACA : Nansarunai; Kerajaan Dayak Maanyan yang Merupakan Leluhur Urang Banjar

Kedua terkait seseorang yang menghadap kematian pada acara upacara adat Maanyan, ia menjelaskan ritualnya dengan Santangis. Yaitu, menggambarkan luka dan kesedihan yang mendalam, warga sekitar yang melakukan ritual seperti bercerita dengan keadaan menangis.

“Berbeda dengan tradisi lain, upacara kematian Dayak Maanyan dilakukan dengan Santangis yang menggambarkan duka nestapa yang mendalam karena kehilangan,” ujar Panglima Divisi Khusus, Gerakan Mandau Talawang Pancasila Sakti (GMTPS) itu.

Terkait cerita kehidupan dalam penuturan terdahulu, Anthonius mengisahkan ada tradisi Janyawai, merupakan suatu ucapan syair dengan cara seperti menyampaikan serupa puisi. Namun, katanya, tidak seperti puisi yang memiliki rima dan beraturan.

“Seperti puisi juga tidak, membaca juga tidak. Seperti membaca tapi ada alunan sedikit. Hanya orang-orang tertentu saja yang boleh melakukannya, yaitu orang yang pernah mengaji ilmunya,” tutur Anthonius.

Tradisi Kuntaw Dayak Maanyan yang masih dilestarikan Anthonius Limpau bersama generasi muda.

Layaknya menceritakan suatu kehidupan, ia menjelaskan bahwa sepanjang narasi dalam penuturan itu memiliki aliran tersendiri, berbeda dengan syair-syair pada umumnya. “Ada orang yang bisa melakukan, kalau saya sendiri tidak bisa. Namun saya tahu bentuknya bagaimana,” ujarnya.

BACA JUGA : Relasi Intens Melayu Banjar-Dayak Ma’anyan Berabad-abad

Bisa melakukan tradisi Janwayai itu, menurut Anthonius adalah pengurus adat Dayak Maanyan. Namun terbagi dua pengurus, yaitu pengurus yang menangani tentang kematian disebut ritual. Hal ini dapat dilakukan oleh beragama Kaharingan, kata Anthonius, tidak dapat dilakukan oleh agama Islam, Kristen, Buddha, Hindu dan sebagainya.

“Ritual tidak boleh dilakukan oleh agama lain seperti Islam, Kristen, Buddha, Hindu dan sebagainya, ia harus dilakukan oleh Kaharingan pula. Tetapi jika dalam adat istiadat seperti perkawinan, tidak pandang agama maka mereka harus melakukan tradisi tersebut,” beber Pendiri Pangunraun Pitu tersebut.

Adapun kegiatan adat perkawinan orang-orang Maanyan, Anthonius menjelaskan bahwa ada tradisi di depan pintu gerbang dalam melakukan acara Natas Banyang. Natas Banyang adalah tradisi adat yang menggunakan syair-syair.

“Pada acara Natas Banyang dilakukan dengan syair yang disebut Tumet Leot, mereka melakukan itu seperti bersahut-sahutan dalam syair. Ketika memotong Banyang, seseorang harus menyampaikan Puris Amah dan Puris Ineh. Sesudah itu dia harus menyampaikan Pinai,” ungkap Anthonius.

BACA JUGA : Konsep Batang Banyu yang Kian Berubah di Tengah Masyarakat Banjar

Jenis Tumet Leot sendiri banyak ragamnya, ia menjelaskan bahwa keberadaan tradisi adat perkawinan ini sejak Kerajaaan Nansarunai. Banyak sebutan dalam Tumet Leot, menurutnya yang tidak pernah hilang tradisinya yaitu Purih Amah dan Purih Ineh.

“Jumlah keturunan tidak bisa disebutkan, karena tersebar di seluruh Nusantara. Di mana orang suku Maanyan, d isitu dilakukan tradisi adat Maanyan. Bahkan yang tinggal di Jakarta sendiri, memiliki perkumpulan suku Maanyan. Setiap tradisi perkawinan, mereka pasti selalu melakukan tradisi tersebut,” katanya.

Tarian wadian bulat yang menjadi citi khas Dayak Maanyan.

Namun di kalangan orang-orang muslim bersuku Maanyan, kata Anthonius, kurang melakukan tradisi adat istiadat Maanyan yang turun temurun dilakukan orang-orang bahari (leluhur). Selama di tanah Maanyan, ia menegaskan bahwa hukum Maanyan harus tetap dilaksanakan adat istiadat yang dipertahankan leluhur terdahulu dari Kerajaaan Nansarunai tersebut.

BACA JUGA : Diperkenalkan Imigran Yaman, Batapih Menjadi Simbol Islamisasi Masyarakat Banjar

“Seperti harapan ke depan, orang melihat adat istiadat dalam budaya Maanyan terkecuali ritual (hanya agama Kaharingan). Tetapi bila istilahnya adat, maka budayanya tidak memandang agama. Seyogyanya, untuk wilayahnya orang-orang Maanyan harus melakukan tradisi itu,” tutur Anthonius.

Menjadi tantangan ke depan, Anthonius ingin menjaga nilai-nilai leluhur dalam tradisi adat istiadat Dayak Maanyan kepada generasi muda yang akan datang. Menurutnya, generasi muda sekarang jarang memandang kehidupan sebelumnya.

“Mereka (anak muda) generasi sekarang itu tidak paham, bahwa alam itu punya nyawa. Tidak hanya manusia saja, seperti rumput-rumput dan jenis alam lainya harus dihargai,” tandasnya.(jejakrekam)

Penulis Rahm Arza
Editor Didi G Sanusi

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.