Cerita Jingah, Pohon yang Dikeramatkan dan Saksi Bisu Eksekusi Mati

0

Oleh : Iberahim

MENURUT Balai Penelitian Pertanian Lahan Rawa (BALITTRA) Kementerian Pertanian RI, tumbuhan jingah (Glutha Renghas) banyak tumbuhan di lahan rawa baik pasang surut maupun rawa lebak, tumbuhan jingah ini kebanyakan tumbuh di pinggir-pinggir  sungai.

POHON jingah (Gluta Renghas) yang sering menimbulkan gatal-gatal jika terkena getahnya baik itu dari daun, ranting, maupun dahan. Tanaman jingah hanyalah salah satu dari banyak tanaman beracun/menyebabkan alergi pada kulit jika tersentuh langsung.

Tumbuhan jingah/rengas termasuk famili Anacardiaceae merupakan sumber kayu yang penting di Indonesia. Spesies ini dikenal karena getahnya sangat beracun yang dapat menyebabkan iritasi berat pada kulit dan dapat melumpuhkan orang. Kadang-kadang penduduk asli menggunakan getahnya sebagai racun untuk berburu binatang.

Di Kalimantan, jingah/rengas tumbuh subur di hutan-hutan tropis terutama daerah pinggiran sungai. Fungsinya sebagai penahan longsor alami. Selain itu juga dimanfaatkan sebagai sumber kayu dengan kualitas bagus. Di antaranya sebagai bahan membuat linggangan yaitu alat yang mirip tudung nasi berbentuk bulat kerucut ini berfungsi sebagai alat pengayak atau pemisah antara pasir dan intan. Namun jingah salah satu kayu yang “ditakuti” karena mitos mengerikan yang melekat padanya. Selain itu juga karena getahnya tadi.

BACA : Tanpa Perlindungan Hukum, Rumah Berarsitektur Banjar di Sungai Jingah Bisa Punah

Dalam Jurnal Pendidikan Hayati Vol.5 No.4 (2019) halaman 164 – 171, Pebrina dan Syahbudin menulis jurnal berjudul Nilai Kepentingan Budaya Jenis Pohon di Tepi Sungai Tatah Bangkal Di Desa Pandan Sari Kecamatan Tatah Makmur Kabupaten Banjar menyebutkan bahwa dari hasil wawancara dengan warga sekitar, ada satu jenis pohon yang sering tumbuh liar namun beberapa orang tidak berani untuk memotongnya agar dapat dijadikan sebagai bahan kayu bakar.

Mitos yang didengar dari warga setempat mengatakan bahwa pohon tersebut banyak dihuni oleh makhluk halus, dan ada pula yang mengatakan bahwa pohon putat dapat menangkal racun dari pohon jingah atau pohon rengas. Sebab, nama lain dari pohon putat ialah raja putat, bagian dari pohon putat seperti daun dan yang lainya dapat menjadi penangkal atau sebagai jimat agar terhindar dari efek samping dari racun pohon jingah atau rengas.

Mungkin di antara pembaca, masih ada yang ingat sekitar tahun 2005 tragedi pohon jingah menjadi berita headline media banua saat itu. Tragedi itu terjadi di Desa Labuan Tabu, Kabupaten Banjar.

BACA JUGA : Menilik Rumah Bangun Gudang, Sisa Kejayaan Saudagar Sungai Jingah (4-Habis)

Tragedi itu diangkat oleh Ahmad Muslih Mahasiswa IAIN Antasari (sekarang UIN Antasari) dalam skripsinya yang berjudul Kepercayaan Masyarakat Terhadap Tempat-Tempat Keramat Di Desa Labuan Tabu Kecamatan Martapura Kota Kabupaten Banjar Tahun 2016.

Dalam hasil penelitiannya menyebutkan di Desa Labuan Tabu terdapat pohon jingah yang tinggi besar yang tumbuh dipersimpangan sungai, dekat dengan jalan umum dan dekat dengan tempat pemakaman umum di RT. 01.

Ada dua buah pohon jingah yakni pohon jingah laki dan pohon jingah bini yang keduanya tumbuh tinggi besar, terletak berseberangan dan dibatasi dengan jalan penghubung antar desa. Namun yang lebih menjadi objek dan sering diletakkan kembang, kain kuning dan sebagainya adalah pohon jingah bini yang memang letaknya lebih berdekatan dengan makam dan jembatan yang dikeramatkan.

Sekitar tahun 2005 lalu, pohon jingah bini ini dianggap telah meresah warga atau dianggap akan merusak akidah warga setempat dan sekitarnya sehingga aparat pemerintahan desa, Departemen (Kementerian) Agama setempat, Majelis Ulama Indonesia (MUI), serta unsur kepolisian bekerjasama untuk menebang pohon jingah bini tersebut dan respon warga setempat pada waktu itu netral saja.

BACA JUGA : Sungai Jingah, Kampungnya Saudagar Banjar (1)

Namun dalam pelaksanaannya terjadi insiden yakni ketika pohon itu mau dijatuhkan ke sungai ternyata pohon tersebut bergeser dari perhitungan robohnya yang sudah ditentukan sehingga menimpa kabel tiang listrik yang juga membuat tiangnya roboh dan menimpa satu anggota kepolisian yang sedang mengatur jalan dalam proses penebangan pohon tersebut yang juga membuat dia tewas di tempat.

Sekitar tiga hari setelah penebangan diinformasikan bahwa tukang senso (penebang pohon dengan gergaji mesin) tersebut juga meninggal dunia. Ia dikabarkan menghembuskan napas terakhir disebabkan penyakit garing (badan panas) di desanya sendiri, Sungai Pinang Lama. Ada pula yang menjelaskan bahwa orang tersebut meninggal dunia akibat makhluk gaib yang ada di pohon jingah tersebut.

Menurut cerita orang-orang dahulu dan menurut orang yang khawas pohon jingah tersebut adalah tempat eksekusi mati penjajah Belanda terhadap orang pribumi. Mereka yang sudah terkena tipu daya Belanda yakni tawaran atau perjanjian tidak akan menyerang dan menghancurkan desa, kalau orang pribumi tersebut menyerahkan diri kepada penguasa. Sehingga penjajah Belanda menyiksa warga pribumi tersebut.

BACA LAGI : Melintas Batas Benteng Tatas, Dibina Inggris hingga Bumi Hangus

Kemudian mereka membawanya ke tempat pohon jingah itu berada dengan tangan yang diikat memakai bilaran. Warga sekitar yang dekat dengan tempat tersebut pada zaman itu tidak ada yang berani mendekat ataupun membantu warga pribumi tersebut karena para penjajah Belanda memiliki senjata api dan mungkin tidak akan segan-segan untuk membunuh orang yang akan menolong warga pribumi tersebut.

Orang peribumi tersebut digantung dan diikat di pohon jingah tersebut dengan bilaran (flora yang tumbuh merambat) di tangan. Tubuhnya setelah disiksa, kemudian setelah itu orang pribumi tersebut dieksekusi mati dengan menusuk kemaluannya memakai batang bambu runcing di pohon tersebut.

Warga sekitar tidak bisa berbuat apa-apa, hanya melihat dari kejauhan, takut dicurigai. Setelah mereka melihat orang tersebut dieksekusi mati, mereka pun langsung pulang dan bersembunyi karena takut terhadap kejadian itu.

BACA JUGA : Riwayat Pelabuhan Martapura Lama Era Belanda dan Jepang

Setelah dirasa tempat tersebut aman, barulah mereka mendekati dengan berani pohon jingah tersebut, namun ternyata mereka tidak menemukan lagi mayat orang pribumi tersebut. Ada juga yang bilang bahwa mayatnya sudah dikubur di sebuah lubang yang dekat dengan makam dan pohon jingah tersebut tetapi setelah digali mayatnya tersebut sudah menghilang.

Adapun orang pribumi yang dieksekusi mati tersebut adalah seorang laki-laki yang bernama Datu Syekh Muhammad Arjan. Jenazah Datu Syekh Muhammad Arjan dimasukkan kedalam sebuah lubang yang ada di dekat pohon jingah tersebut. Namun setelah beberapa saat mayatnya langsung menghilang. Tidak diketahui dimana keberadaannya pada waktu itu sampai sekarang.(jejakrekam/bersambung)

Penulis adalah Pemerhati Sejarah Banjar

Ketua Lembaga Adat Kerajaan Pulau Laut Korwil Banjarmasin

Sekretaris Syarikat Adat, Sejarah dan Budaya (SARABA) Hulu Sungai

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.