Memproteksi Banjarmasin dengan Normalisasi Sungai dan Kanalisasi

0

Oleh : Dr H Subhan Syarief, MT

BICARA kondisi Kota Banjarmasin, maka sejatinya ada dua hal terkait soal limpahan air yang selalu mendera dan menjadi masalah bagi kota yang berjuluk kota seribu sungai ini.

DARI hilir, air pasang ternyata tiap tahun selalu menaik. Semua itu, akibat pemanasan global yang menyebabkan muka air laut naik, kemudian memaksa muka air sungai juga ikut meninggi. Semua itu terjadi ketika siklus purnama atau siklus gelombang pasang akan menyebabkan genangan.

Tetapi genangan relatif masih cepat bisa turun, ketika air laut menyurut dan menarik muka air sungai. Masalah menjadi rumit hanya ketika pas hujan dgn durasi tinggi dan lebat. Ini akan membuat air akan lambat turun.

Terkait kondisi penanganan bisa agak sedikit longgar. Yang penting berkelanjutan. Kasus ini yang saat ini terjadi di Banjarmasin. Hasilnya, kawasan yang terkena umumnya paling banyak yang berdekatan dengan sungai. Sebut saja di Kelayan, Pekauman, Pasar Sudimampir, Pasar Ujung Murung, kawasan Jafri Zam-zam, Teluk Dalam, Teluk Tiram, Cempaka. Tentu saja di kawasan depan Rumah Jabatan Gubernur Kalimantan Selatan, kampus Universitas Lambung Mangkurat Kayutangi. Ini juga terlihat pada kawasan dekat sungai yang terkena dampak limpahan air itu.

BACA : Privat: Banjarmasin Kembali Calap, Pemkot Peringatkan Ketinggian Muka Air Capai 2,7 Meter Awal Mei

Kemudian, dari hulu, tentu air berasal dari kiriman atas. Dulu memang relative aman. Limpahan hanya mencapai wilayah Kabupaten Banjar dan Kota Banjarbaru, seperti di sekitar Sungai Rangas, Martapura Lama.

Namun, kasus Januari 2021 lalu, telah mencatat sejarah baru. Limpahan air justru tembus hingga ke wilayah Banjarmasin, terutama di bagian timur dan selatan, dan utara dengan ketinggian air yang sangat luar biasa. Rata-rata minim mencapai sekitar 30 centimeter dari muka atau badan jalan raya.

Nah, kondisi ini yang mesti diwaspadai. Karena datangnya dadakan dan cenderung cepat naiknya. Kita pun tahu pasti bahwa pembenahan di atas sana, tentu tidak mudah dan cepat.

Dengan kondisi ini, maka Banjarmasin harusnya bersiap memproteksi diri. Ya, minimal kalau ke depan, terjadi lagi air naik dan serbuan air tidak lama berdiam atau menggenang. Dalam bahasa Banjar disebut calap, namun kini menjadi banjir.

BACA JUGA : Di Tengah Pandemi dan Pasca Banjir, Wakil Rakyat Banjarmasin Usulkan Mobil Dinas Baru

Atas fakta itu, maka program normalisasi sungai perkotaan menjadi pilihan utama yang harus diutamakan, agar bisa mengembalikan fungsi sungai kecil atau sedang sebagai jalur air menuju sungai besar. Kemudian, mengingat masalah yang ada di hulu juga lebih membahayakan.

Maka semua sungai yang ada di segenap pelosok wilayah Kota Banjarmasin, terkhusus zona Banjarmasin Timur, Selatan, dan Utara harus segera dibenahi. Jaringan sungai ini harus saling terkoneksi sampai ke sungai besar. Begitu juga sungai di kawasan pusat kota, Banjarmasin Tengah dan Barat juga harus dinormalisasi.

Hal yang juga tak kalah penting adalah membuat model kanalisasi, menyangkut jaringan sungai yang mampu membagi zonasi sebaran air. Sebut saja, seperti kanal yang ada di Sungai Veteran, Sungai A Yani, Sungai Pekapuran, Sungai Kelayan, hingga ke Sungai Tatas dan Sungai Teluk Dalam.

Solusi selanjutnya adalah penggunaan sistem pompanisasi disertai model pintu air wajib dilakukan. Pintu air bisa ditempatkan di daerah yang berhubungan langsung dengan sungai besar sebagai muaranya, Sungai Martapura dan Sungai Barito.(jejakrekam)

Penulis adalah Pengamat Perkotaan

Arsitek Senior di Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Kalsel

(Isi dari artikel ini sepenuhnya tanggungjawab penulis bukan tanggung jawab media)

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.