Konsep Batang Banyu yang Kian Berubah di Tengah Masyarakat Banjar

0

UMUMNYA, suku atau etnis Banjar dibagi dalam tiga subsuku yang bermukim di Kalimantan Selatan dan sekitarnya, serta daerah lain. Tiga kelompok besar itu adalah Banjar Pahuluan, Banjar Batang Banyu, dan Banjar Kuala.

TIGA entitas ini dibagi berdasar perspektif kultural dan genitis. Sejumlah literatur dan ahli menyakini Banjar Pahuluan merupakan pencampuran orang Melayu-Hindu dan orang Bukit yang berbahasa Melayik. Umumnya, Banjar Pahuluan ini bermukim di wilayah Banua Anam.

Kemudian, Banjar Batang Banyu merupakan perpaduan orang Pahuluan, orang Melayu-Hindu/Buddha, orang Keling-Gujarat, orang Maanyan, orang Lawangan, orang Bukit dan orang Jawa-Hindu Majapahit. Mereka ini kerap diidentikkan dengan sebutan orang Nagara, Kabupaten Hulu Sungai Selatan serta Margasari, Kabupaten Tapin.

Sedangkan, Banjar Kuala merupakan campuran orang Kuin, Batang Banyu, Dayak Ngaju (Berangas dan Bakumpai), Melayu, Bugis-Makassar, Jawa, Arab dan Tionghoa. Banjar Kuala pun kebanyakan bermukim di Banjarmasin, Kabupaten Banjar, Tanah Laut dan wilayah lainnya.

BACA : Potret Pasar Lama, Episentrum Peradaban Warga Banjarmasin yang Majemuk

Menariknya, dari tiga subsuku atau kelompok besar Banjar ini justru memandang adanya konsep batang banyu sebagai istilah lain dari sungai. Sebab, kebanyakan masyarakat Banjar memang bermukim di tepian atau bantaran sungai.

Namun, berdasar hasil riset yang dilakukan dosen FISIP Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Fahrianoor dengan menjelajahi beberapa kawasan pemukiman di tiga lokasi; Sungai Martapura, Sungai Nagara dan Danau Panggang, pada 2020 lalu, terungkap fakta menarik.

“Justru, dari riset itu, saya menemukan konsep masyarakat mengenai sungai. Yakni, sungai diistilahkan sebagai batang banyu yang bermakna sandaran hidup,” ucap Fahrianoor kepada jejakrekam.com, Selasa (8/3/20201).

BACA JUGA : Suku Bakumpai, Penyambung Kesultanan Banjar dengan Masyarakat Dayak

Doktor lulusan Universitas Padjadjaran (Unpad) Bandung ini mengungkapkan berdasar penuturan masyarakat yang bermukim di tepian sungai menjadikan sungai sebagai sumber kehidupan. Ini terbukti aktivitas kehidupan masyarakat yang sebagian besar berhubungan dengan sungai.

Fahrianoor mengatakan sedikitnya ada empat manifestasi dari konsep batang banyu. Yakni, mata pencaharian, peralatan pendukung sehari-hari, posisi wajah bangunan rumah yang menghadap ke sungai dan alat transportasi yang digunakan.

“Ya, seperti di kawasan Sungai Nagara, Daha, Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS) dan Danau Panggang, terutama di Desa Tampakang, Kecamatan Paminggir, Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU), contohnya justru keempat manifestasi konsep batang banyu ini terlihat jelas dalam kesehariannya,” kata Fahrianoor.

Berbeda, beber dia, dengan pemukiman warga di tepian Sungai Martapura baik yang ada di Banjarmasin maupun Kabupaten Banjar, justru  manifestasi konsep sungai itu telah berubah. Sebab, bangunan rumah sebagian besar sudah membelakangi sungai, transportasi sudah berorientasi ke darat, kemudian mata pencaharian tidak bergantung lagi pada sungai.

BACA JUGA : Perjalanan Panjang Urang Banjar Di Riau

“Dari sini, saya menilai perlu lagi untuk memuliakan sungai, karena potensi yang terkandung dari sungai akan memberikan kemanfaatan. Namun bila yang terjadi sebaliknya, maka banjir yang kita rasakan seperti sekarang bisa berulang lagi,” kata Fahrianoor.

Dosen muda ini pun mengaku juga dari hasil riset itu banyak belajar dari masyarakat mengenai memaknai sungai sebagai batang banyu. Batang banyu merupakan gambaran dari sandaran dan sekaligus ketergantungan dengan sungai.

“Makanya, mencari nafkah dari sungai, karenanya sungai harus dirawat. Konsep merawat sungai dibuktikan dengan cara mereka mencari ikan di sungai, tanpa merusak dan mengotori sungai. Ini juga terlihat sebagai contoh di Desa Batang Alai, Kecamatan Daha Selatan,” tuturnya.(jejakrekam)

Penulis Rahim/Didi GS
Editor Didi G Sanusi

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disiarkan.